Berlaga di 34th AIDA Freediving World Championship September Nanti.
Nikita Fima Atriyu pernah bermimpi bisa bernapas di dalam air dan bergerak seperti ikan saat kecil. Keinginan itu terwujud setelah sebuah agensi memberinya tawaran menjadi talent di Jakarta Aquarium & Safari pada 2016 silam. Dari situ dia mulai menekuni karier sebagai penyelam profesional.
Nikita Fima Atriyu akan kembali menyelami Laut Mediterania bagian timur untuk kedua kalinya pada September nanti. Itu setelah 2023 lalu dia mengikuti kompetisi freediving yang digelar Association Internationale pour le Developpement de l’Apnee (AIDA) di lokasi yang sama, perairan Republik Siprus. Tahun ini dia akan mencoba menorehkan prestasi yang lebih gemilang.
Capaian terbaiknya dalam kompetisi yang digelar AIDA adalah peringkat keempat. Itu dia raih pada 2024 lalu di perairan Kota Ajaccio, Pulau Corsica, Prancis. Nikita berhasil menyelam hingga kedalaman 72 meter kala itu. Sementara, debutnya pada 2023 lalu berhasil menduduki peringkat kelima.
Mengalahkan 94 pesaing dari berbagai negara. AIDA merupakan organisasi internasional yang salah satunya bertugas mencatat rekor dunia dalam freediving. Prestasi internasionalnya tak hanya itu. Namun, dua capaian itulah yang menjadi prestasinya yang paling membanggakan.
Ibu satu anak itu akan mulai latihan untuk persiapan kompetisi AIDA pada Juni nanti. Latihan akan dimulai dari kolam renang dulu. Setelah itu baru dilakukan di laut.Pola makan, mental, dan peralatan sudah ia siapkan sejak sekarang.
Perempuan kelahiran Malang itu optimistis bisa mencatatkan rekor yang lebih baik. Pengalaman mengikuti beberapa kompetisi dunia cukup menjadi bekal. Apalagi freediving bukan dunia baru baginya.
Nikita sudah sembilan tahun terakhir menekuni olahraga ekstrem itu. Lebih jauh dari itu, berenang dan menyelam sudah ia lakukan sejak usia sekolah. “Waktu kecil saya bermimpi bisa berenang seperti putri duyung,” ucapnya.
Perempuan berusia 38 tahun itu mulai kursus freediving sejak 2016 di Pantai Jemeluk, Desa Purwakerti, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali. Saat itu usianya 29 tahun. Tentu kelas pertama adalah level dasar. Dia mempelajari metode tahan napas, keamanan dalam latihan, penggunaan alat-alat, dan tata cara melakukan penyelamatan.
Tak lama setelah kursus, Nikita mendapat tawaran dari agensi untuk menjadi talent putri duyung di Jakarta Aquarium & Safari. Perempuan kelahiran 1987 itu langsung mengiyakan. Kesempatan itu menjadi jalan mewujudkan mimpinya sejak kecil.
Yakni menjadi putri duyung. Sejak saat itu freediving tidak lagi sebatas hobi dan mimpi. Tapi juga kenyataan, hiburan, dan kebahagiaan. Khususnya bagi orang-orang yang melihatnya sebagai mermaid di dalam sebuah akuarium raksasa di Jakarta.
Nikita berenang dengan penyu, ikan pari, dan hiu-hiu kecil. Seolah mereka adalah sahabatnya. Tarian-tarian sederhana juga ia suguhkan untuk menyapa pengunjung di sana. “Pengunjung paling suka kalau saya sedang memberikan heart bubble kiss atau gelembung udara berbentuk hati dari mulut,” jelasnya.
Pekerjaan itu dijalani selama 6 tahun. Dia pernah menampilkan kepiawaiannya itu di beberapa akuarium. Di antaranya di Taman Safari Bali dan Singapore Exhibition.
Di saat yang sama, Nikita mulai aktif mengikuti kompetisi-kompetisi freediving di dalam negeri. Kompetisi pertamanya dimulai 2017 lalu. Debutnya berhasil menorehkan prestasi cukup membanggakan.
Tiga penghargaan sekaligus berhasil dia bawa pulang. Yakni juara pertama female freediver Indonesia, juara pertama new comer, dan juara dua overall. Kemenangan itu memotivasi Nikita untuk kembali berlaga di kompetisi-kompetisi selanjutnya.
Perjalanan alumnus Università per Stranieri, Italia itu tentu saja tak mulus. Beberapa insiden kecelakaan saat berlatih pernah dia alami. Namun, yang paling dia ingat adalah ketika blackout atau hilang kesadaran lantaran hipoksia (kekurangan oksigen).
“Saat itu saya sedang persiapan untuk kompetisi di Sabang International Freediving Competition (SIFC) pada 2018 silam,” kenangnya. Peristiwa itu terjadi akibat Nikita terlalu memforsir dirinya. Beruntung kondisinya tak fatal. Namun, tetap saja itu membuatnya harus istirahat beberapa waktu untuk memulihkan kondisi.
Tiada usaha yang menghianati hasil. Nikita meraih rekor penyelaman terdalam dan juara ketiga dalam event SIFC tersebut. Sulung dari empat bersaudara itu kemudian mulai melirik kompetisi internasional.
Meski tak langsung mengikuti freediving yang digelar AIDA. Salah satunya event di Yunani pada 2019 lalu. Lagi-lagi dia berhasil meraih juara dan menjadi satu-satunya pemenang dari Asia dalam event tersebut. Prestasinya yang gemilang tak membuat dia berpuas diri.
Program kursusnya pun terus dilanjutkan ke level yang lebih tinggi. Mulai level dua atau advance, level tiga atau master, level instructor, hingga level master instructor trainer. Dari hobi jadi prestasi dan lanjut menjadi profesi.
Pada 2017, Nikita membuka Jakarta Mermaid School. Beberapa instruktur profesional mengajar di sana. Muridnya dari berbagai kalangan termasuk para artis. Mereka belajar berenang gaya putri duyung menggunakan fin hingga belajar berpose di dalam air.
Di sekolah tersebut juga membuka kursus freediving. Nikita merasa senang karena freediving kini lebih dikenal masyarakat. Pamornya sudah jauh melejit jika dibandingkan dengan awal-awal dirinya menekuni olahraga ekstrem itu. Ke depan, dia ingin mengenalkan freediving di Malang, di tanah kelahiran sekaligus rumah keluarga besarnya. (dre)
Editor : A. Nugroho