Dijual karena Yang Beli Presiden.
Perasaan campur aduk dirasakan Hari Asmoro setelah sapinya resmi dibeli orang nomor satu di Indonesia. Dia senang karena harga yang diberikan di atas pasaran. Namun di waktu yang sama juga cemas kalau kejadian di Polewali Mandar, Sulawesi Barat menimpa dirinya.
Perasaan Hari Asmoro campur aduk antara senang dan khawatir. Dia masih tak percaya sapi miliknya bisa dilirik Presiden RI Prabowo Subianto untuk hewan kurban. Perasaan senangnya bertambah ketika harga yang diberikan lebih tinggi dari pasaran. Namun, tak bisa dipungkiri ada perasaan cemas yang berkecamuk.
Apalagi mengingat ada hewan kurban yang sudah dibeli presiden lalu tiba-tiba mati di Polewali Mandar, Sulawesi Barat beberapa waktu lalu. Untuk itu, dia lebih meningkatkan kualitas perawatan. Sehingga, peristiwa serupa tak menimpanya.
Saat ditemui di kediamannya di Jalan Akordion Nomor 47, Kecamatan Lowokwaru kemarin (28/5), Hari dengan gamblang menceritakan kekagetannya ketika mendapat telfon dari adiknya pada 20 Mei lalu. Sebab, informasi pembelian sapi oleh orang nomor satu di republik ini itu lebih dulu diketahui sang adik. Maklum, adiknyalah yang merawat sapi jenis simental itu.
Pria yang bekerja sebagai karyawan pabrik tersebut awalnya tak ada niat sama sekali untuk menjual sapinya. Dia baru berencana melegonya 2026 mendatang. Mengingat sapi itu baru saja dia beli pada 2023 lalu. Waktu itu Hari membeli dua sapi sekaligus dengan harga Rp 50 juta.
Namun, satu sapi dengan jenis yang sama sudah laku terjual lebih dulu. Ia melepasnya dengan harga Rp 45 juta. Padahal beratnya mencapai 1 ton lebih. Sementara, sapi yang kini sudah sah menjadi milik presiden itu hanya memiliki berat 950 kilogram. Sedangkan harga yang diberikan sebesar Rp 75 juta.
Itulah yang menjadi alasan kedua mengapa dia mau menjual sapi tersebut. Harga tersebut jauh di atas harga pasaran di Malang. Meski di skala Jawa Timur, harga tersebut tergolong relatif murah. Pasaran sapi yang sama seperti milik Hari, hanya berkisar Rp 50 juta saja di Malang.
“Tapi sekali lagi ini karena yang beli presiden makanya saya lepas,” tegasnya. Proses pembelian ini dimulai dari pendataan dan survei yang dilakukan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang.
Proses tersebut sengaja dilakukan untuk menjaring hewan ternak yang akan digunakan presiden kurban pada Idul Adha 7 Juni nanti. Keraguannya saat menerima informasi bila sapinya dibeli presiden telah teryakinkan pada 22 Mei lalu.
Sebab, saat itu Hari diundang Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa ke Surabaya untuk penandatanganan bukti pembelian. Lalu, uangnya juga telah ditransfer pada 26 Mei lalu ke rekening pribadinya.
Rencananya uang hasil penjualan sapinya akan kembali dibelikan dua ekor anak sapi. Lantas dititipkan kembali ke sang adik untuk dirawat. Kalau dihitung-hitung dia untung Rp 20 juta. Sebagai seorang buruh pabrik, sapi menjadi alat investasi jangka panjang baginya.
Tidak ada cara khusus yang dilakukan Hari untuk penggemukan sapinya. Hanya memperhatikan konsentrat atau campuran makanan dan rumput. Dari hasil pemeriksaan terakhir, sapi tersebut dalam kondisi sehat. Dokter merekomendasikan untuk menjaga kebersihan kuku dan kandang.
Sama seperti kriteria ketika dilakukan pendataan dan survei dari Dispangtan Kota Malang beberapa waktu lalu. Selain itu, sapi miliknya juga harus dimandikan tiga kali sehari. Tujuannya untuk mencegah serangan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
Sapi tersebut akan diserahkan ke Masjid Jami’ Agung Kota Malang saat Lebaran Idul Adha nanti. Sedangkan penyembelihannya dilakukan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) di Jalan Raya Gadang Nomor 176.
Hari juga akan diundang untuk proses penyerahan dan penyembelihan bersama Wali Kota Malang. Meski ada rasa cemas tentang kesehatan sapinya, raut wajah Heri tak bisa menyembunyikan rasa senang dan bangganya.
Kepala Dispangtan Kota Malang Slamet Husnan menyampaikan, ini merupakan program perdana yang digagas Presiden RI. Prabowo Subianto membeli hewan dari peternak langsung di beberapa daerah. Dengan tujuan memakmurkan dan memberdayakan masyarakat sekitar.
”Awalnya kami usulkan ke Pemerintah Provinsi Jawa Timur dulu. Setelah itu dikurasi oleh Kementerian Peternakan sampai akhirnya terpilih sapi milik Hari Susanto itu,” tutur Slamet. (dre)
Editor : A. Nugroho