Produknya Sering Dijadikan Doorprize di Event Spearfishing
Mahoni butuh waktu dua tahun untuk menyempurnakan speargun buatannya. Pengakuan dari kalangan penyelam spearfishing internasional sudah didapatkan. Satu produk custom dengan bahan premium bisa dia kerjakan hingga 10 bulan.
Setelah beberapa tahun tinggal dan bekerja di Bali, pada 2012 lalu Mahoni kembali ke Malang. Tepatnya ke Desa Banjarejo, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang. Keluarga jadi alasan utama dia meninggalkan pekerjaan sebagai pemandu sekaligus instruktur olahraga air.
Di kampung halamannya, dia memulai pekerjaan baru sebagai nelayan udang. Cuaca sering menjadi kendala dia dalam berburu udang. Itu membuat penghasilannya menjadi tak menentu. Beranjak kondisi itu, Mahoni mulai mencari alternatif pekerjaan lain.
”Saat itu saya hanya mencari pekerjaan yang tidak mengenal badai dan bisa dikerjakan pagi maupun malam,” kata dia. Dari situ, muncul lah gagasan menjadi pengrajin speargun atau senapan ikan. Mahoni melihat potensi dari pekerjaan tersebut.
Sebab di Malang pada 2016 belum ada yang menjualnya. Pria berusia 45 tahun itu lalu belajar secara otodidak. Pengalamannya di olahraga air, termasuk menyelam, cukup banyak membantu. Dia perlu beberapa waktu untuk bisa menghasilkan speargun sesuai standar. Khususnya desain badan atau barrel. Juga dalam membuat peralatan lain seperti trigger atau alat panah ikan yang berfungsi melepaskan mata panah.
”Saya juga belajar cara membuatnya dari alat-alat besar bubut, las, dan bor,” cerita dia. Demi bisa mendapatkan alat dan bahan tersebut, dia harus berhutang Rp 3,5 Juta kepada tetangganya untuk menyempurnakan karyanya. Di sela-sela waktu itu, dia juga sempat menjual speargun buatannya ke warga sekitar.
Harganya saat itu masih berkisar ratusan ribu. Pada 2018, setelah produknya semakin sempurna, Mahoni mencoba menjual speargun di pasar yang lebih luas. Dia memilih memposting hasil kerajinannya di media sosial, khususnya Instagram. ”Awalnya hanya unggah saja, tidak memberi tahu harga, tiba tiba ada yang kirim DM (Direct Message),” ujarnya.
Dari waktu ke waktu, postingan speargun itu menarik lebih banyak perhatian konsumen. Ada puluhan pemesanan yang sempat diterima Mahoni setiap enam bulannya. Menariknya, Mahoni tidak menjual speargun secara umum. Dia hanya menjual speargun khusus atau custom.
Dia beralasan, setiap orang punya cara tersendiri untuk menggunakan alat tembak ikan tersebut. Alhasil jenis-jenis yang dibuatnya bervariasi. Mulai dari konvensional, roller inverter, sampai double roller. ”Kalau konvensional biasanya untuk pelanggan yang sering mencari ikan (sebagai pekerjaan). Kalau yang agak rumit itu seringnya dari (pesanan) penyelam spearfishing,” papar dia.
Dia mematok harga speargun reguler di angka Rp 2 juta sampai Rp 8 Juta. Jumlah itu didasarkan bukan pada jenis atau bentuknya. Melainkan bahan-bahan yang digunakan untuk speargun. ”Ada bahan-bahan impor. Seperti stainless steel dari Italia yang lebih kokoh,” ujarnya. Begitu juga dengan bahan-bahan lain yang penting seperti trigger.
Harga untuk yang impor bisa tiga sampai empat kali lipat dari harga triger pada umumnya. Biasanya, Mahoni menggarap satu speargun reguler dalam dua pekan sampai satu bulan. Jika pembelinya memesan bahan premium, dia bisa menyelesaikan sampai 10 bulan untuk satu speargun. Dia menyebut, pembuatan alat tembak ikan yang terbaik tidak boleh dilakukan secara terburu-buru.
Itu karena dia perlu membuat alat-alat penunjang terlebih dahulu. Baru kemudian memasangnya ke body speargun. Setelah itu dia melakukan pembentukan, pemahatan sampai laminasi sampai terlihat seperti yang diinginkan. Sejak 2018 sampai sekarang, dia telah mengirimkan speargun ke berbagai wilayah Indonesia. ”Luar pulau Jawa juga ada seperti Bali, Sulawesi dan bulan Juni lalu ada pesanan lagi dari Jayapura,” tambahnya.
Saking terkenalnya produk dari Mahoni, hasil speargun-nya kerap dijadikan doorprize dalam event spearfishing di Indonesia. Hasil kerjanya pun juga dilirik salah satu brand pembuat speargun di Indonesia. Tahun ini dia mendapatkan pesanan 400 buah trigger.
”Itu untuk tiga toko, dua toko alat speargun di Batam, dan satu di Jember,” ujarnya.
Selain speargun utuh, dia juga sering mendapatkan pesanan dari bahan trigger. Itu karena, banyak di antara pelanggan yang merasa trigger buatannya punya kelebihan tersendiri. Yakni lebih mulus saat meluncurkan tombak. Tidak hanya di kalangan lokal, namanya juga cukup dikenal di kalangan penyelam mancanegara.
Tahun ini saja, speargun miliknya sudah dipesan penyelam spearfishing dari Tiongkok dan Prancis. Biasanya, dia juga mendapat jasa sebagai pemandu ketika penyelam tersebut tiba di Indonesia. ”Kadang saya juga ikut ke Raja Ampat atau Bali,” ujarnya. Dari nama besar produknya itu, Mahoni bersyukur.
Dari sembilan tahun menekuni profesi pengrajin speargun, dia dapat berkenalan dengan berbagai konsumen. Mulai dari nelayan biasa, pejabat daerah, sampai para penyelam spearfishing internasional. Sekarang Mahoni sudah tidak perlu memasarkan produknya di media sosial. Itu karena nama produk dan kualitasnya sudah diakui di kalangan spearfishing internasional. Dari kerajinan itu lah, pria berusia 45 tahun itu menghidupi istri dan kedua anaknya. (*/by)
Editor : A. Nugroho