Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Tantangan Adelio Delta Merancang Pesta Kembang Api di Pembukaan Porprov 2025

Bayu Mulya Putra • Rabu, 9 Juli 2025 | 16:32 WIB
MERIAH: variasi ledakan kembang api ditampilkan dalam opening ceremony Porprov IX 2025.
MERIAH: variasi ledakan kembang api ditampilkan dalam opening ceremony Porprov IX 2025.

Lebih Rumit Dibanding Upacara Penutupan PON Aceh.

Usianya masih 12 tahun, namun Adelio Delta sudah dipercaya sebagai perancang pertunjukan kembang api di sejumlah event besar. Pembukaan Porprov 2025 kini masuk dalam CV-nya. Harus menyesuaikan ritme lagu dan banyaknya pohon di Stadion Gajayana jadi tantangan baru baginya.   

KOMBINASI kembang api berwarna biru, kuning, putih, merah, dan hijau menghiasi langit Stadion Gajayana, 28 Juni lalu. Total ada 5.800-an kembang api yang diledakkan di udara selama dua setengah menit. Pertunjukan itu menjadi penanda Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur ke-IX resmi dibuka.

Ada andil dari Adelio Delta sebagai fireworks pyrotechnician atau ahli perancang kembang api di balik pertunjukan itu. Pesta kembang api saat itu sedikit berbeda dibanding yang pernah ditangani Lio-sapaan akrabnya sebelum-sebelumnya. Sebab, pertunjukan diiringi musik bertema chants dari Aremania.

TERMUDA: Adelio Delta dipercaya sebagai penata pesta kembang api dalam upacara penutupan PON Aceh 2024.
TERMUDA: Adelio Delta dipercaya sebagai penata pesta kembang api dalam upacara penutupan PON Aceh 2024.

Elemen visual kembang api yang meledak di udara harus mengikuti ritme lagu Salam Satu Jiwa. ”Menurut saya, merancang (pesta kembang api) untuk porprov lebih susah dibandingkan upacara penutupan PON (Pekan Olahraga Nasional) Aceh tahun lalu,” ujar Lio. 

Pada penutupan PON Aceh 2024, durasi kembang api memang lebih lama. Mencapai enam menit. Meski begitu, dia mengatakan bila itu relatif lebih mudah karena tidak harus menyesuaikan dengan ritme lagu.

”Kalau untuk porprov, ledakan kembang api wajib sesuai dengan ketukan lagu. Jadi kami harus detail detik per detiknya. Ketika nada tinggi, ledakannya harus lebih besar, pas temponya turun, ledakan juga ikut turun,” papar dia.

Tantangan lainnya, di area Stadion Gajayana banyak pohon-pohon besar. Unsur keamanan harus tetap diutamakan. Karena itu, Lio harus memastikan kembang api tidak mengenai atau membakar pohon di area stadion.

”Ketika persiapan, saya mengeceknya dengan menggunakan laser, kembang api tidak boleh mengarah ke pohon. Jadi ada yang dipasang sedikit miring,” tutur anak kelahiran Ponorogo itu.

Total, untuk pesta kembang api pembukaan Porprov, dia membutuhkan persiapan selama 12 hari. Tujuh hari untuk mengerjakan desain, lima hari untuk pemasangan kembang api di lapangan. Dalam proses pengerjaannya, Lio menerima terlebih dahulu salinan musik yang akan ditampilkan selama pesta kembang api.

Kemudian siswa SMPN 1 Ponorogo itu diberikan keleluasaan untuk mendesain kembang api. Yang penting tidak keluar dari ritme musik yang diberikan Pemkot Malang. Ada 10 efek yang ditampilkan Lio dalam pembukaan Porprov lalu. 

Didominasi efek tails kembang api yang membentuk pola garis, kemudian peony yang membentuk pola bunga dan motif mines, sebagai pembuka pertunjukan. ”Dari desain yang saya buat, kemudian dikembalikan ke dinasnya dan disetujui. Itu yang akhirnya ditampilkan,” tutur dia. 

Keahlian Lio merancang kembang api didapat secara otodidak dan belajar di lapangan. Bermula dari ayahnya yang merupakan pedagang yang memiliki gudang kembang api. Dari kecil, Lio hidup berdampingan dengan benda tersebut.

Dari situ lah, timbul keinginan dan imajinasinya untuk menggabungkan menjadi sebuah pertunjukan kembang api. Saat duduk di kelas dua SD, dia sudah mengikuti berbagai event pesta kembang api. ”Dulu masih SD saya ikut bantu-bantu pasang kembang api. Di situ saya belajar dan melihat bagaimana bentuk kembang api dan polanya,” cerita dia.

Setelah melihat di lapangan, Lio kemudian mencoba merangkai kembang api di belakang rumahnya. Dengan menggunakan sisa barang yang tak terpakai. Keahlian itu terus diasah hingga akhirnya pada usia 12 tahun, dia mulai menjadi perancang kembang api profesional. 

Menjadikan Lio sebagai fireworks pyrotechnician termuda di Indonesia. ”Saya juga mengambil referensi dari luar negeri seperti Inggris, Italia, dan dari pusat kembang api di Malta. China juga bagus untuk kembang api,” beber dia.

Ke depan, Lio berkeinginan bisa mengambil sekolah formal terkait kembang api. Namun tidak ada di Indonesia. Dia ingin menimba ilmu di Australia untuk memperdalam ilmu sebagai perancang kembang api. (*/by)

Editor : A. Nugroho
#porprov #stadion gajayana #kembang api #Rancangan