Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sepak Terjang Asmongat sebagai Produsen Rambak Pisang Go International

Bayu Mulya Putra • Jumat, 11 Juli 2025 | 17:04 WIB
PUNYA TIGA TEMPAT PRODUKSI: Asmongat menunjukkan contoh produk rambak pisang buatannya, beberapa waktu lalu.
PUNYA TIGA TEMPAT PRODUKSI: Asmongat menunjukkan contoh produk rambak pisang buatannya, beberapa waktu lalu.

Lebih Pilih Varietas yang Kurang Laku di Pasar.

Per bulan, Asmongat bisa memproduksi tiga ton rambak pisang. Selain dikirim ke sejumlah daerah di Indonesia, negara seperti Filipina dan Singapura jadi langganannya. Kini, dia tengah bersiap untuk mengekspor ke Korea Selatan. 

SIANG itu, puluhan tandan pisang tertata rapi di depan rumah produksi rambak pisang di Desa Karangrejo, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang. Pisang tersebut merupakan varietas rojoawak yang tidak laku jika dijual di pasar. Asmongat dan keluarganya mengolahnya menjadi olahan rambak pisang.

Ruang pengolahan rambak pisang itu bersih dan cukup steril. Sebelum masuk saja harus cuci tangan menggunakan sabut dengan air mengalir. Juga harus mengenakan pakaian khusus untuk menghindari kontaminasi bakteri. Alas kaki pun disediakan khusus, berupa sandal karet. 

”Keluarga kami memulai usaha ini sejak belasan tahun yang lalu. Sekitar tahun 2017 sampai 2018 itu ramai-ramainya. Kemudian, pada 2020 saya mulai membuka rumah produksi di sini,” ucap Asmongat ditemui beberapa waktu lalu. Awalnya, keluarganya mencoba berbagai jenis pisang untuk diolah menjadi rambak. Namun, pilihan mereka jatuh pada pisang rojoawak. 

Sebab, tekstur dan rasa dari pisang varietas tersebut sesuai untuk diolah menjadi rambak. Sedikitnya peminat di pasar cukup mendukung mereka. Sehingga memudahkannya untuk memenuhi persediaan bahan baku. Meskipun pada waktu tertentu, dia harus memasok bahan baku dari luar daerah. Seperti Lampung dan Cilacap.

”Pisangnya juga mudah dikembangkan, meskipun di lahan-lahan kritis, seperti di Malang Selatan,” kata pria berusia 62 tahun itu. Karena itu, begitu permintaan rambak pisang meningkat, pihaknya bekerja sama dengan masyarakat di Malang Selatan untuk menanam pisang rojoawak. Lahannya terbentang di Kecamatan Donomulyo, Bantur, hingga Sumbermanjing Wetan. 

Namun, dia tidak bisa memperkirakan luasannya. Dibanding dengan daerah lainnya, pisang dari daerah Malang Selatan memiliki kualitas yang lebih unggul. Rendemen saat digoreng bisa lebih dari 20 persen. Rasanya pun lebih manis. 

Cara pembuatan rambak pisang pun cukup mudah. Pisang yang sudah benar-benar matang akan dipotong-potong sesuai ukuran yang ditentukan. Sekitar 2-3 sentimeter. Sebelum digoreng, pisang juga harus dibekukan sekitar dua hari. Tanpa tambahan bahan apa pun, penggorengan dilakukan menggunakan vacuum frying

Proses tersebut membutuhkan waktu sekitar 80 menit. Setelah digoreng, keripik pisang diangin-anginkan sebelum dimasukkan ke dalam spinner untuk mengeluarkan sisa minyak. ”Kemudian dikemas menggunakan wadah aluminium foil dan siap dikirim,” ujarnya. 

Satu vacuum frying bisa menggoreng sekitar 20 hingga 22 kilogram. Dengan rendemen pisang per kilogramnya sekitar 20 persen, satu kali penggorengan bisa menghasilkan 4 sampai 4,5 kilogram. Per harinya, dia bisa menghasilkan sekitar 50 sampai 60 kilogram. 

”Jadi per bulan kami bisa memproduksi tiga ton rambak pisang,” imbuhnya. Usaha keluarga itu memiliki tiga lokasi produksi. Dua di Desa Karangrejo dan satu di Desa Bangelan, Kecamatan Wonosari.

Setiap tempat produksi terdapat dua sampai empat vacuum fryer. Meskipun masing-masing tempat produksi memiliki pasar yang berbeda, mereka masih saling berkolaborasi dalam memenuhi permintaan. 

Awalnya, dia hanya mengirim untuk pasar lokal di sekitar Malang Raya dan sekitarnya. Seperti Blitar dan Kediri. Seiring berjalannya waktu, saat ini produk tersebut sudah dipasarkan ke seluruh Indonesia hingga Asia Tenggara. ”Di luar negeri, kami memasarkan ke Filipina dan Singapura. Ini masih proses memasarkan ke Korea Selatan juga,” tambahnya. 

Pemasaran ke luar negeri itu dilakukan melalui pihak ketiga yang merupakan perusahaan grosir. Baik yang besar maupun kecil. Pengiriman per bulan pun beragam. Mulai dari 1 ton, 500 kilogram, 200 kilogram, dan sebagainya. Jadwal pengiriman pun sesuai permintaan. Bisa per bulan maupun per minggu.

Selain itu, dia juga memasarkan melalui marketplace untuk kemasan yang lebih kecil. Mulai dari kemasan 50 gram hingga 1 kilogram. Harganya bermacam-macam. Sebagai contoh, untuk kemasan 100 gram dibanderol sekitar Rp 20 ribu di marketplace. ”Kalau pemasaran ke luar negeri, kami jual Rp 80 sampai Rp 85 ribu per kilogram,” kata Asmongat. 

Selain pisang, juga ada produk-produk dari buah lain. Seperti nangka, mangga, maupun nanas. Namun, Asmongat memilih untuk fokus mengembangkan produk pisangnya. Sebab, buah-buahan lainnya akan melimpah sesuai musim. Berbeda dengan pisang yang jumlahnya relatif melimpah sepanjang waktu. (*/by)

Editor : A. Nugroho
#Produksi #Ekspor #kecamatan kromengan #Go International #rambak #pisang