Sempat Terusik di Awal Karier karena Pendapatan Karyawan Rendah.
Eva Marliyanti tak pernah menyangka, pilihan sederhana mengantarkannya ke pucuk pimpinan. Dengan semangat membara, wanita 48 tahun itu mengubah Koperasi Agro Niaga (KAN) Jabung dari koperasi kecil menjadi raksasa dengan aset hampir Rp 300 miliar. KAN Jabung juga masuk 100 koperasi besar Indonesia dengan aset.
23 tahun silam, Eva Marliyanti membuat keputusan penting dalam hidupnya. Kala itu, buah hatinya masih balita. Dengan latar belakang pendidikan D3 gizi dan, Eva dihadapkan pada pilihan yang sulit. Ingin melanjutkan bekerja di rumah sakit, tapi buah hati sangat membutuhkan perhatian darinya.
Warga Pakis itu terpaksa mengubur impiannya di dunia kesehatan. Dia mencari pekerjaan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahnya. Pilihannya jatuh pada sebuah koperasi susu perah di Desa Kemantren, Kecamatan Jabung. Bukan koperasi besar. Hanya koperasi rakyat yang fokus pada sapi perah dan menjual susu ke industri lokal.
Pertama kali masuk, Eva ditempatkan di bagian administrasi kesehatan hewan (Keswan) dan populasi sapi. Dari sana dia mulai mendapat kepercayaan dan mulai naik level menjadi Kepala Unit Sarana Produksi Peternakan (Sapronak). Tugasnya mengurusi bagian pakan hingga peralatan kandang.
Pelan-pelan ia menyerap semuanya. Kemudian memahami sistem koperasi dari titik paling bawah, yakni soal kebutuhan peternak, kualitas pakan, hingga hitung-hitungan bisnis lainnya. Kemudian pada 2012 dia dipercaya duduk di jajaran manajemen pusat.
Menduduki posisi baru membuat Eva melihat sisi lain koperasi yang tak pernah ia tahu sebelumnya. Salah satu yang mengusik hatinya ialah pendapatan peternak dan karyawan masih rendah. “Karena saya suka menghitung dan setelah saya hitung, kesimpulannya harus memperbesar pemasukan atau revenue,” tutur wanita kelahiran 1977 itu.
Eva mulai berpikir bahwa koperasi harus dikelola dengan pendekatan yang berbeda. Tidak sekadar berjalan, tapi tumbuh. Maka ia mulai menyusun skema perubahan. Mulai Standar Operasional Prosedur (SOP), perencanaan pengembangan struktur organisasi kontemporer, hingga menyusun sistem manajemen yang lebih layak. Satu per satu dia diperbaiki.
Mengingat core bussines KAN Jabung adalah sapi perah, pertama yang diperbaiki adalah sektor tersebut. Yakni dengan upaya meningkatkan nilai susu, cara memperluas pasar dan meningkatkan produk turunan. “Kami juga sempat membuat kafe untuk menyerap susu hasil peternak,” tutur ibu dua anak itu.
Terobosan yang dilakukan Eva sempat membuat internal cemas. Mereka khawatir koperasi akan bangkrut. Perlahan dia terus meyakinkan internal tentang terobosan tersebut. Inovasi terus dilakukan, mereka membuka berbagai unit usaha untuk memperbesar pemasukan.
Tentu perjalanannya tidak mulus. Ia sempat menutup sejumlah unit usaha yang tidak efisien, seperti outlet minyak goreng, bengkel, dan toko bangunan. Beberapa eksperimen bisnis seperti kafe juga sempat dicoba, tapi harus dihentikan karena tak menguntungkan. ”Kami menemukan berbagai solusi karena kepepet (terdesak) untuk meningkatkan profit,” katanya sembari tertawa.
Titik baliknya ialah, dia sadar bahwa untuk berkembang bukan hanya memperbanyak lini usaha. Tetapi membuat usaha yang sudah ada lebih profit dan tumbuh. Salah satu terobosan KAN Jabung yang menonjol adalah transformasi BMT Al-Hijrah menjadi BPRS AlHijrah Thayibbah hingga JabMart.
Jabmart adalah unit warung serba ada milik koperasi yang awalnya hanya toko kecil. JabMart kini berevolusi jadi retail modern yang mempunyai 33 outlet dan mulai menggarap pasar lebih luas.
Kemudian di sektor hulu, Eva membangun kembali model peternakan rakyat pasca-ditempa badai wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), yakni penyakit untuk hewan ternak. Peternak diberi pelatihan, pendampingan, serapan dan harga susu yang stabil, hingga model kemitraan sapi import dengan investor.
Pada saat awal dia masuk manajemen, aset koperasi masih berkutat di angka Rp 58 miliar. Setelah lebih dari satu dekade dia menjabat, kini koperasi tumbuh menjadi raksasa dengan aset hampir Rp 300 miliar. Di bawah tangan dingin Eva, KAN Jabung bukan lagi koperasi tingkat kecamatan. Melainkan sudah masuk jajaran 100 koperasi besar Indonesia.
Bisnisnya tak hanya menjual susu dan tebu. Koperasi ini kini mengelola 7 usaha dengan konsep bisnis inklusif dari hulu hingga hilir, mulai pakan, peternakan, angkutan, olahan susu, perbankan mikro, sampai retail modern. Koperasi ini menjadi contoh nyata bahwa koperasi bisa modern dan relevan di zaman digital.
Semua itu dikerjakan Eva tanpa latar belakang manajemen murni sejak awal. Ia baru menempuh S1 di bidang hasil pertanian di Universitas Widyagama, kemudian melanjutkan S2 manajemen di Universitas Merdeka (Unmer) Malang.
Tapi sejatinya, ilmu terbaik ia dapat dari lapangan, dari berbincang dengan peternak, dari rapat evaluasi bisnis, hingga dari menutup usaha yang rugi. Bagi Eva, koperasi bukan hanya soal bisnis. Tapi soal hidup bersama, tumbuh bersama, dan bertahan bersama.(*/dan)
Editor : A. Nugroho