Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Bikin Lirik dan Melodi Ajak Pendengar Lawan Trauma

Aditya Novrian • Selasa, 5 Agustus 2025 | 16:59 WIB
LAWAN RASA TRAUMA: Salsabila Nadhif Fadhilah membawakan lagu  Kaleidoskop: I Don’t Remember How to Love So Free di The Grove Cafe pada 29 Juli lalu.
LAWAN RASA TRAUMA: Salsabila Nadhif Fadhilah membawakan lagu Kaleidoskop: I Don’t Remember How to Love So Free di The Grove Cafe pada 29 Juli lalu.

Salsabila Nadhif Fadhilah Terapi Menyembuhkan Penyakit Bipolar lewat Lagu

Diagnosis bipolar tak membuat Salsabila Nadhif Fadhilah menyerah. Dari perasaan takut dan luka yang tertahan, dia menulis lagu yang kini menjadi suara banyak jiwa yang sedang mencari pulih. 

SEJAK 2019, hidup Salsabila Nadhif Fadhilah berubah total. Diagnosis bipolar disorder membuat perempuan 26 tahun itu harus menata ulang segalanya. Rasa percaya diri, ketenangan, bahkan ingatan perlahan mengabur.

Tapi dari balik guncangan mental itu, muncul satu hal yang justru menguatkannya, yakni seni. Perempuan asal Kecamatan Lowokwaru itu mengidap bipolar saat tengah menempuh pendidikan magister di Inggris. Tepatnya di Newcastle University, jurusan Master of Research in Neuroscience.

Namun tekanan akademik, rasa rindu rumah, dan kenangan pahit dari masa kecil muncul begitu kuat. Semua menumpuk dalam kepala.

Kala itu, Salsa tersiksa oleh homesick yang berlebihan. Lalu tanpa disangka, kenangan kelam dari masa kecil muncul kembali. Saat duduk di bangku sekolah dasar, dia pernah mengalami kekerasan seksual yang membuatnya pindah dari Malang. Luka lama yang terpendam itu ternyata menjadi pemicu utama munculnya gangguan mental. Sejak itu, suara-suara aneh kerap datang di malam hari, memenuhi pikirannya yang lelah.

Salsa akhirnya memutuskan pulang ke Indonesia pada akhir 2019. Sejak saat itu, dia mulai menjalani terapi dan konsultasi rutin ke psikolog. Bersamaan dengan itu, Salsa mulai melukis secara abstrak untuk menenangkan diri. Aktivitas menggambar dan menulis lagu menjadi jalan pelariannya.

Seiring terapi, Salsa juga mengonsumsi obat bernama Abilify. Obat khusus untuk penderita bipolar disorder. Namun efek samping dari obat itu cukup berat. Membuatnya menjadi pelupa. Sejak 2022, tangan Salsa rutin disuntikkan cairan Abilify setiap bulan. Itu membuatnya harus mendengarkan lagu-lagunya sendiri setiap hari agar tidak lupa lirik.

”Kadang aku bisa lupa bahkan bait awal laguku sendiri. Karena memang obat ini efeknya ke daya ingat,” ujarnya.

Namun di balik efek itu, justru muncul banyak karya. Salsa mulai menulis lagu-lagu pribadi. Sebagian besar bertema luka, ragu, dan keinginan untuk sembuh. Total sudah enam lagu yang ditulisnya, namun hanya satu yang akhirnya berani dia rilis ke publik. Yaitu Kaleidoskop: I Don’t Remember How to Love So Free.

”Aku mencurahkan semua sakit dan traumaku di lagu ini,” kata Salsa.

Bukan hanya menulis lirik, Salsa juga membuat melodi lagunya sendiri. Dia yang sudah lama mengagumi Panji Sakti, maestro pencipta lagu Kepada Noor dan Jiwaku Sekuntum Bunga Kemboja. Dia ingin menjadikan Panji sebagai produser lagu debutnya. Ibunya yang mengenal Panji sejak lama lalu membantu menjembatani.

Demo lagu Kaleidoskop: I Don’t Remember How to Love So Free yang hanya diiringi piano dikirim langsung kepada Panji. Tak butuh waktu lama, Panji menyatakan setuju memproduseri. Bagi Panji, lagu itu sudah matang secara emosi dan struktur. Bahkan dalam proses produksi, tak banyak bagian yang diubah. Lagu itu tetap utuh sebagaimana saat pertama kali ditulis Salsa.

Kemudian pada 11 Juli 2025 lalu, single perdana Salsa dirilis di berbagai platform musik digital. Makna lagunya mengandung refleksi tentang seorang perempuan yang takut jatuh cinta lagi karena trauma masa lalu. Namun di akhir lagu, ada ajakan untuk kembali belajar mencintai. Sebuah kisah luka yang pelan-pelan berubah menjadi harapan.

Namun proses merilis lagu bukan akhir dari perjuangan Salsa. Dia tetap harus melawan rasa takut dan cemas setiap hari. Apalagi efek obat yang membuat daya ingatnya melemah. Tapi justru dari situ, dia belajar untuk menghadapi semua keraguan dengan ketekunan.

”Aku harus mendengarkan laguku sendiri setiap hari supaya nggak lupa liriknya,” katanya sambil tersenyum kecil.

Di balik semua itu, Salsa mengaku sempat ragu mempublikasikan karyanya. Dia khawatir lukisan-lukisan abstraknya dianggap asal-asalan. Pun begitu dengan lagu-lagunya, dia takut tak ada yang peduli. Tapi sejak lagu Kaleidoskop dirilis, respons positif dari berbagai orang diberikan. Banyak pendengar mengirim pesan dan komentar mengatakan bahwa mereka merasakan hal yang sama.

”Saat tahu aku tidak sendiri, aku jadi berani. Aku ingin teman-teman lain juga sembuh bersama,” ungkapnya.

Kini Salsa memiliki ambisi besar. Yakni merilis lagu-lagu lain yang sudah dia tulis. Bukan hanya untuk karier musik, tapi juga untuk membangun ruang penyembuhan bagi orang-orang dengan pengalaman traumatis seperti dirinya. Sebab baginya, lagu bukan hanya karya seni. Tapi terapi, pelampiasan, dan teman di saat paling sunyi.

”Aku berharap melalui laguku, seseorang bisa sembuh dari sakitnya,” ujar Salsa. Meskipun dirinya juga masih berjuang untuk kesembuhan itu, Salsa yakin seni bisa menjadi jembatan menuju pulih. (*/adn)

 

 

Editor : A. Nugroho
#salsabila #Nadhif #Fadhilah #penyakit bipolar #lagu #bipolar