Tertantang Taklukkan 5 Km Open Water Swimming.
Dari podium emas di Singapura hingga deburan ombak kejuaraan dunia, langkah Izzy Dwifaiva Hefrisyanthi tak pernah surut. Konsistensi prestasi itulah yang mengantarkannya meraih beasiswa bergengsi World Aquatics di Prancis. Tempat para juara dunia renang ditempa.
SORAK penonton menggema di dalam OCBC Aquatic Centre, Singapura. Di tengah riuh itu, Izzy Dwifaiva Hefrisyanthi berdiri di podium juara, medali emas berkilau di lehernya. Air di tubuhnya belum sepenuhnya kering, tapi rasa bangga di dadanya sudah meluap.
Bagi banyak orang, ini adalah puncak. Namun, bagi Izzy, itu hanya satu anak tangga menuju mimpi yang lebih besar. Tahun lalu, dia pulang dari Singapore National Age Group Swimming Championship 2024 dengan dua emas dan satu perak.
Prestasi yang membuat namanya melambung. Tahun ini, dia menantang diri di kelas senior, arena yang jauh lebih keras dengan lawan-lawan berpengalaman dan catatan waktu nyaris sempurna. ”Saya ingin tahu sejauh mana saya bisa bertahan di level ini,” ucapnya.
Maret lalu, Izzy kembali ke OCBC Aquatic Centre. Kali ini dia turun di lima nomor 200, 400, 600, 800, dan 1.500 meter gaya bebas. Dari ajang itu, dia membawa pulang dua emas di 400 dan 800 meter. Serta satu perak di 1.500 meter. Jumlah medalinya sama seperti tahun lalu, tapi maknanya berbeda. ”Karena ini pertama kali saya di level senior dan saya bisa menghadapinya,” katanya.
Konsistensi itu membawanya ke kesempatan langka. Yakni tiket World Aquatic Championship 2025. PB Akuatik memilihnya bukan hanya karena medali, tapi juga keaktifan bertanding dan kestabilan waktu. Izzy dipercaya menjadi satu-satunya wakil Indonesia di nomor 5 km open water swimming (OWS), lomba perairan terbuka yang penuh tantangan.
Di kejuaraan dunia tersebut, gadis 20 tahun itu berhadapan dengan 78 perenang dari berbagai negara. Jantung berdebar kencang tak terhindarkan. Ombak, cuaca panas, dan persaingan ketat membuatnya harus beradaptasi cepat. Dia finis di posisi 52 dengan catatan waktu 1 jam 14 menit. ”Saya sempat demam panggung,” ucap mahasiswi Universitas Negeri Surabaya itu.
Meski tak memuaskan, debut itu memberinya pelajaran berharga. Dia belajar membaca arus, mengatur tenaga, dan traffic antarperenang di jalur lomba. ”Saya justru semakin bersemangat untuk kembali tahun depan,” ujarnya.
Sebelum debut dunia itu, Izzy sudah membuktikan diri di ajang lain. Pada 2024 Brisbane Junior Short Course Championship, dia meraih perak di 1.500 meter gaya bebas sekaligus memecahkan rekor waktu kolam 25 meter. Catatan itu menambah panjang daftar prestasinya di usia muda.
Dan kini, torehan prestasi empat tahun terakhir membawanya ke bab baru. Terpilih sebagai penerima beasiswa World Aquatics untuk berlatih di Antibes Training Centre, Perancis. Pusat pelatihan elite para juara dunia. Tawaran tersebut sebenarnya pernah datang pada 2024, namun dia belum memenuhi syarat. ”Sempat kecewa, tapi itu membuat saya lebih gigih,” kenangnya.
Tahun ini, modalnya lebih dari cukup. Yakni catatan waktu stabil, pengalaman internasional, dan deretan medali. PB Akuatik menyatakan dia layak. Mahasiswi jurusan Kepelatihan Olahraga itu tidak menyangka mimpinya bisa terwujud.
Oktober nanti, Izzy akan memulai babak baru di Eropa. Selama setahun, dia akan berlatih bersama puluhan perenang dunia, menimba ilmu dari pelatih top, dan mengasah teknik di fasilitas bertaraf internasional.
Namun, sebelum Prancis memanggil, jadwalnya masih padat. September nanti, dia akan berlaga di SEA OWS di Pattaya, Thailand. Lalu, Desember, debut di SEA Games. Dia akan turun di empat nomor gabungan renang kolam dan perairan terbuka. Persiapan untuk itu sudah dijalani sejak November di Pelatnas Jakarta. ”Saya ingin menutup tahun ini dengan cerita manis,” harap Izzy.
Bagi Izzy, setiap percikan air adalah bagian dari perjalanan. Dari podium Singapura hingga ombak dunia, dari rekor pribadi hingga mimpi Eropa. Semua membentuk satu cerita. ”Tentu ingin terus berenang, sejauh mungkin, sampai mencapai batas yang bahkan belum saya bayangkan,” ujarnya sambil matanya menatap jauh. (*/adn)
Editor : A. Nugroho