Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Jatuh Bangun Akhmad Nizar Hadapi Bali Trail Run 100 Km

Aditya Novrian • Selasa, 19 Agustus 2025 | 17:15 WIB
MENGUJI DAYA TAHAN: Aksi Akhmad Nizar melahap trek BTR 2025 sambil melawan rasa sakit akibat cedera lutut.
MENGUJI DAYA TAHAN: Aksi Akhmad Nizar melahap trek BTR 2025 sambil melawan rasa sakit akibat cedera lutut.

Terus Berlari sambil Melawan Cedera Lutut

Bali Train Run (BTR) 2025 bukan hal mudah bagi Akhmad Nizar. Selain harus melawan rasa lelah, dia juga menahan rasa sakit akibat cedera lutut yang dialami sebelum perlombaan. Dengan berbagai halangan, Nizar berhasil finish ketiga, di belakang pelari asal Filipina dan Hongkong.

 

JANTUNG Nizar berdebar kencang sebelum melakukan start Bali Train Run (BTR) 2025 awal Mei lalu. Muncul keraguan dia tidak bisa menyelesaikan perlombaan karena cedera yang dideritanya tiga pekan sebelum race. Lutut kanannya pun dipenuhi tapping mulai dari garis start sampai finish.

Tepat pukul 16.00 WITA, bersama 127 peserta lainnya, Nizar memulai perlombaan. Garis start mengambil tempat di Batur Natural Hotspring, Kelurahan Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Di kilometer awal, Nizar melahap jalur pendakian Gunung Batur.

Tantangan pertama yang dihadapi Nizar adalah asam lambung. Dia sangat gugup. Nizar minum dua gelas kopi. Padahal, kebiasannya hanya satu gelas kopi. ”Melipir (menepi) di awal itu sempat sembilan kali. Karena perut mules, cukup memakan waktu juga di sana," ucapnya.

Tantangan itu akhirnya berhasil diatasi dengan berjalannya waktu. Setelah melewati Gunung Batur, tujuan Nizar selanjutnya adalah Gunung Agung. Dan terakhir gunung yang harus dia taklukkan adalah Gunung Abang.

Total jarak lari yang ditempuh adalah 100 kilometer dengan elevasi atau total ketinggian mencapai 7.000 meter. Pada kilometer 60, jelang mendaki Gunung Abang, timbul masalah kedua. Ini sekaligus titik terendah bagi Nizar selama perlombaan berlangsung.

Saat itu sekitar jam 4 pagi atau menjelang Subuh, kondisi di dalam track yang merupakan hutan masih gelap. Kabut semakin memperpendek jarak pandang. Karena cukup kelelahan dan jalur yang kurang terlihat, Nizar akhirnya jatuh dan hampir masuk jurang.

Di posisi itu, badan anggota komunitas Run Malang Run (RMR) itu sudah tidak bisa bergerak lagi dan kepalanya pusing. Sempat terbesit kalimat untuk menyerah. Akhirnya, Nizar memutuskan beristirahat sejenak agar badan beserta kaki dan tangan bisa bergerak normal.

Ada juga keberuntungan yang menyertai Nizar. Pikirnya saat itu, ajak sudah dekat. Tetapi dia masih selamat, meskipun jarak dirinya dengan jurang jalur Pendakian Gunung Abang tinggal beberapa sentimeter saja. ”Dari titik itu, saya mulai berpikir jangan terlalu memaksa juara. Yang penting saya selamat dulu," tutur alumnus Universitas Brawijaya (UB) itu.

Sebelumnya, Nizar telah memprediksi jalur tersebut menjadi tantangan terberat. Pertama karena gelap dan hawa yang terlalu dingin. Kemudian trek yang terlalu teknikal, menuntut fokus 100 persen. Tak disangka, kondisi yang berat itu hampir membuatnya celaka.

Di sisa 40 kilometer selanjutnya, Nizar harus menghadapi rasa nyeri akibat cedera yang belum sembuh total dan efek terjatuh itu. Ada satu hal yang membuatnya kuat dan mampu menyelesaikan trail run dengan jarak 100 kilometer.

Pria kelahiran Jember itu tak mau persiapannya terbuang sia-sia. Total sembilan pekan dirinya berlatih setiap hari. Per pekan, jarak lari yang ditempuh mencapai 120 kilometer untuk di lintasan aspal biasa.

Selain itu, dalam setiap pekan, ada satu periode Nizar harus melahap track pendakian di gunung. Pernah dalam sehari, dia berlari di dua Gunung yang ada di Malang. ”Latihannya ada yang pagi di Gunung Panderman. Kemudian dilanjutkan ke Gunung Buthak dengan elevasi lebih dari 2.000 meter," ungkap dia.

Di kategori 100 kilometer BTR 2025, total waktu yang ditempuh Nizar adalah 19 jam 6 menit. Selama belasan jam, dia memilih tidak beristirahat dengan tidur sekejap, bahkan lima menit pun tidak dilakukan. Karena target yang diinginkan adalah finish di bawah 18 jam.

”Karena kelelahan dan kurang tidur, ada satu waktu halusinasi. Seperti melihat sekelebat penampakan, karena mungkin capek jadi tidak mengerti itu penampakan atau halusinasi," katanya. Berkat beristirahat di water stasion, mengisi energi dengan makan yang banyak, halusinasi itu akhirnya hilang perlahan.

Meskipun belum memenuhi target finish di bawah 18 jam, Nizar tetap bersyukur mampu meraih podium. Selama 2024 hingga 2025 total ada 12 lomba ultra trail run yang diikuti dengan 11 kali di antaranya meraih podium. Jarak yang diikuti adalah kategori 80 kilometer, 68 kilometer, dan 60 kilometer.

Diakuinya, komunitas RMR yang membuat Nizar bisa menjadi langganan juara sampai sekarang. Mulai mengikuti kelompok itu sejak 2015, bakatnya semakin terasah dalam dunia trail run. ”Selain lari di aspal biasa, RMR setiap minggu mengadakan lari di gunung. Ternyata saya lebih enjoy lari jarak jauh dan melewati gunung," ujarnya.

Menurutnya, trail run memberikan efek candu. Setelah berhasil menaklukkan satu gunung, muncul keinginan menaklukkan gunung lainnya. Pemandangan yang indah juga membuat Nizar semakin mencintai trail run, meskipun merupakan termasuk olahraga ekstrim.

Target event selanjutnya adalah Mantra 116 kilometer, yang dilangsungkan di Pasuruan. Dengan rute yang melewati Gunung Arjuno dan Welirang. ”Tahun lalu ikut Mantra tapi yang 68 kilometer, mendapat podium tiga. Tahun depan kalau persiapan cukup ikut yang terjauh 116 kilometer," terang pria penghobi koleksi jersey vintage itu.

Untuk event luar negeri, Nizar berkeinginan mengikuti "naik hajinya" pelari trail run. Yakni Ultra-Trail du Mont-Blanc (UTMB), di Prancis. Dengan jarak tempuh 170 kilometer dan melewati tiga negara. Yakni Prancis, Italia dan Swiss. ”Saya target dua tahun lagi ikut UTMB," pungkas Nizar. (*/adn)

Editor : A. Nugroho
#rmr #UTMB #btr #2025