Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ketika Sal Priadi Pulang Kampung Membawa ”Oleh-Oleh” lewat Lagu

Aditya Novrian • Jumat, 22 Agustus 2025 | 16:45 WIB
UNTUK KOTA KELAHIRAN: Sal Priadi foto di pertokoan Kajoetangan untuk cover single miliknya berjudul Malang Suantai Sayang.
UNTUK KOTA KELAHIRAN: Sal Priadi foto di pertokoan Kajoetangan untuk cover single miliknya berjudul Malang Suantai Sayang.

Lirik Terinspirasi dari Suasana Kota pada 2005.

Sal Priadi kembali ke kota kelahirannya untuk menangkap kisah sehari-hari Malang lewat lirik dan melodi. Hasilnya, lahir lagu Malang Suantai Sayang. Lagu yang menjadi jendela bagi pendengar untuk melihat sisi Malang yang hangat, akrab, dan penuh cerita. 

Ku persembahkan Malang dengan penuh keterusterangan
Tidak ada yang perlu kau takutkan

Kecuali kau habiskan siangmu di Jalan Kawi
Gendutlah, kau gendut,

jatuhlah hatimu

SEPOTONG lirik itu mengalun pelan, tapi cukup untuk membangunkan rasa rindu banyak orang. Lirik yang ditulis Salmantyo Ashrizky Priadi atau yang lebih dikenal dengan nama panggung Sal Priadi itu bukan sekadar rangkaian kata. Itu adalah surat cinta sekaligus catatan reflektif untuk kota kelahirannya.

Lagu berjudul Malang Suantai Sayang baru saja dirilis 15 Agustus lalu. Hanya dalam hitungan hari, lagu berdurasi 4:02 menit itu menjadi bahan perbincangan hangat. Terutama di kalangan warga Malang.

Pria asal Sawojajar itu kembali ke kota kelahirannya dengan gitar di tangan dan lirik di kepala. Dari kerinduan akan kampung halaman, lahirlah sebuah karya yang menangkap hangatnya sore di Kajoetangan. Tawa anak muda dan keindahan slow living Malang.

Sesuatu yang kerap luput dari pandangan di tengah hiruk-pikuk pembangunan dan lalu lintas yang kian padat. Ide lagu ini bermula dari hal sederhana. Suatu hari, Sal ingin membuat Instagram story dengan latar musik yang mewakili Malang. Ia mencari di platform digital, menelusuri berbagai judul, tapi tidak menemukan lagu yang benar-benar pas.

Sal Priadi menceritakan lagunya kepada Jurnalis Jawa Pos Radar Malang Nahdiatul Affandiah.
Sal Priadi menceritakan lagunya kepada Jurnalis Jawa Pos Radar Malang Nahdiatul Affandiah.

”Akhirnya aku putuskan bikin sendiri. Sekalian jadi hadiah untuk kota kelahiranku,” tutur penyanyi yang dikenal lewat tembang Amin Paling Serius itu.

Lirik yang ia tulis berasal dari potongan ingatan. Malang yang sejuk, asri, dan tenang pada tahun 2005. Jalanan yang lengang, udara pagi yang dingin menusuk, hingga suasana gang sempit tempat anak-anak bermain tanpa khawatir bising kendaraan. Nostalgia itu kemudian disulam menjadi bait-bait yang hangat.

”Selain mengenang Malang yang indah, aku ingin liriknya juga jadi refleksi. Supaya orang bertanya-tanya, apa benar Malang hari ini masih sama dengan Malang yang kuingat?” kata Sal.

Refleksi itu penting. Sebab, menurut Sal, banyak hal di Malang yang kini berubah. Jalanan makin macet, ruang hijau semakin sempit, hingga tragedi Kanjuruhan yang masih membekas dalam ingatan kolektif arek Malang. Meski begitu, ia percaya nuansa ”Malang suantai” masih bisa ditemukan.

Meskipun sebentar saja, biasanya saat fajar baru menyingsing, ketika kota belum terjaga penuh. Sal menulis sendiri musik dan liriknya, lalu mengajak sejumlah sahabat musisi untuk memperkaya aransemennya.

Ada Nino Bukir pada kendang, Juan Mandagie sebagai pengarah string, Mario Lasar dan Nonni Betania di biola, Galih Yoga di viola, Jonathan William pada cello, serta Natania Karin dan Agustin Oendari sebagai vokal latar. Rekaman dilakukan di Roemah Iponk, Karawaci, dengan proses mixing dan mastering digarap Ivan Gojaya dan Irene Edmar.

Hasilnya, lahir musik pop bernuansa akustik dengan sentuhan orkestra. Hangat, jujur, dan intim. Seperti Malang yang selalu memeluk warganya dalam diam.

Lagu ini dirilis di berbagai platform digital. Bersamaan dengan itu, video liriknya tayang di YouTube. Lokasi video clip tidak lain Kajoetangan, ikon nostalgia Malang yang kini menjadi ruang pertemuan antara tempo dulu dan masa kini.

Video lirik Malang Suantai Sayang bukan sekadar pelengkap. Ia adalah pesta kecil yang merayakan kota. Banyak arek Malang ikut andil, mulai dari tim kreatif, fotografer, videografer, hingga promosi. Semua dikerjakan oleh anak-anak Malang.

”Di video itu kami nongkrong, guyon, seliweran di depan mural dan graffiti yang digarap khusus oleh McEvan dkk. Rasanya benar-benar kayak kumpul biasa, bukan syuting,” kenang Sal.

Di balik layar, kursi sutradara ditempati Rizky Boncell, dengan Anya Anggarda dan Revi Prasetyo sebagai produser, serta Rexi Tegar Pratama sebagai DOP. Sedangkan di depan kamera, tampil banyak wajah akrab bagi warga Malang. Ada Agus Moron dari Primitive Chimpanzee, Galih Babi dari Brigade07, skateboarder Izad, aktor-seniman Amin Sumantri, hingga solois Jeje Kwan. Semua tampil apa adanya, menambah keintiman visual lagu tersebut.

Namun, bagi Sal, Malang Suantai Sayang bukan hanya untuk arek Malang. Ia ingin lagu ini juga menyentuh hati para perantau, pendatang, bahkan pelancong yang hanya singgah sebentar. ”Semoga lagu ini bikin orang makin mengenal Malang. Kalau untuk yang merantau, bisa tumbuh kebanggaan karena pernah lahir dan tumbuh di sini,” ujarnya.

Lagu ini memang terdengar sederhana, tapi menyimpan pesan kuat. Ia seperti jendela kecil untuk melihat Malang dari sudut lain. Bukan sekadar kota pendidikan, bukan sekadar kota wisata, tetapi ruang hidup yang penuh cerita.

Dari jalan Kawi yang lengang saat senja, hingga bukit-bukit tempat matahari pulang. Dari mural warna-warni Kajoeyangan, hingga bisik-bisik rindu arek Malang di tanah rantau. (*/adn)

Editor : A. Nugroho
#Sal Priadi #Malang Suantai Sayang #lagu #malang