Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Pengalaman Lucky Maulana Mengantar Atlet Layangan Aduan Berprestasi

Aditya Novrian • Selasa, 26 Agustus 2025 | 17:35 WIB

TOTALITAS: Lucky Maulana (dua dari kanan) mendampingi atlet binaannya meraih medali perunggu pada Fornas 2025 di NTB pada awal Agustus lalu.
TOTALITAS: Lucky Maulana (dua dari kanan) mendampingi atlet binaannya meraih medali perunggu pada Fornas 2025 di NTB pada awal Agustus lalu.
 

Sempat Kena Banned karena Terlalu Dominan

Sejak kecil, Lucky Maulana jatuh hati pada layangan. Kecintaan itu tumbuh menjadi prestasi nasional dan internasional. Dengan pengalaman panjangnya, ia membimbing generasi muda agar tradisi layangan aduan tetap hidup dan mampu menorehkan prestasi.

ANGIN kencang yang menerpa lapangan Festival Olaharaga Masyarakat Nasional (Fornas) 2025 di Nusa Tenggara Barat (NTB) bukanlah hal baru bagi Lucky Maulana. Meski berpengalaman, dirinya harus mengakui kekalahan di cabang olahraga (cabor) layangan aduan nomor bebas dan nomor benang nilon.

Dia hanya mampu menembus babak perempat final. Namun, kegagalan itu justru menyalakan semangat kompetitifnya dengan cara berbeda, yakni menjadi pelatih.

Pada nomor benang katun, Lucky mengarahkan atlet muda asal Gondanglegi, Rudianto. Anak itu terlihat ciut saat pertama kali mengikuti kategori tersebut karena benang katun lebih mudah putus daripada nilon. Lucky pun langsung memberikan arahan.

Rudianto diminta berhati-hati dalam manuver dan tarik ulur. Kemudian memahami karakter lawan serta memanfaatkan angin seoptimal mungkin.

”Anak ini (Rudianto) cepat tangkap instruksi. Dalam satu hari latihan, dia sudah bisa membaca gerakan lawan dan menyesuaikan teknik tarik-ulurnya,” ujar Lucky sambil tersenyum melihat anak asuhnya berkembang.

Hasilnya, Rudianto berhasil menembus babak final dengan mengalahkan tim unggulan Jawa Barat di semifinal. Babak pemungkas mempertemukan mereka dengan kontingen Palembang dan Kalimantan Timur. Dua kali bertanding itu berbuah medali perunggu bagi tim Jawa Timur. ”Ini debut nasionalnya dan langsung meraih perunggu,” kata Lucky dengan bangga.

Keberhasilan itu bukan datang begitu saja. Sejak kecil, Lucky sudah akrab dengan layangan. Sang ayah, juga atlet pelayang, mengenalkannya pada dunia layangan aduan. Mulanya, Lucky hanya mengekor di setiap perlombaan ayahnya. Lambat laun ia mulai belajar strategi, teknik, hingga psikologi lawan. Kejuaraan pertamanya diraih pada 2001 saat masih berusia 15 tahun, di turnamen tingkat Jawa Timur.

Sejak itu, Lucky rutin menjuarai berbagai turnamen tingkat provinsi dan nasional. Bahkan sempat di-banned oleh beberapa penyelenggara karena dianggap terlalu dominan. Namun ia menganggapnya sebagai pujian.

Prestasi nasionalnya semakin matang saat mewakili Jawa Timur di Fornas 2023 Jawa Barat dan meraih medali emas. Pada level internasional, ia pernah bertanding di Bali (2005), Vietnam (2013), dan Perancis (2015). Dia membawa pulang medali emas dari Vietnam dan Bali.

Selain piawai bermain, Lucky aktif menjadi rujukan untuk turnamen lokal di Malang Raya. Ia juga berjualan peralatan layangan di rumahnya di Tasikmadu, Kecamatan Lowokwaru. Kesibukan itu sempat membuatnya jenuh hingga memutuskan rehat dari dunia atlet pada 2020 dan fokus menjadi pelatih.

Perannya sebagai pelatih kini menjadi jalan baru. Dengan pengalaman panjang, Lucky bisa menularkan strategi yang sebelumnya hanya ia miliki.

”Menjadi pelatih memungkinkan saya meraih lebih banyak medali melalui atlet-atlet muda,” ujar pria berusia 39 tahun itu. Ia berharap anak asuhnya dapat mempersiapkan diri menghadapi Fornas 2027 di Palu, Sulawesi Tengah, dengan target medali emas.

Rudianto sendiri mengaku banyak belajar dari Lucky. ”Awalnya takut putus benangnya, tapi arahan Pak Lucky bikin saya percaya diri. Saat tanding, saya fokus membaca angin dan gerakan lawan,” katanya.

Keberhasilan itu menunjukkan bahwa kombinasi pengalaman senior dan semangat muda mampu membawa hasil optimal. Dalam setiap perlombaan, Lucky selalu menekankan disiplin, strategi, dan pemahaman karakter layangan lawan. Ia juga membimbing atlet muda agar memahami perbedaan benang katun dan nilon, risiko putus, serta teknik optimalisasi angin. Bagi Lucky, layangan bukan sekadar permainan, tapi media untuk menanamkan kesabaran, strategi, dan kerja sama.

Kini, sebagai pelatih dan mantan atlet, Lucky menjadi inspirasi komunitas layangan Malang Raya. Ia mengedukasi generasi muda agar tetap mencintai olahraga tradisional ini, mempersiapkan mereka menjadi atlet nasional, dan menjaga tradisi layangan aduan tetap hidup. Pria kelahiran Pasuruan itu ingin generasi berikutnya bisa lebih baik darinya. (*/adn)

Editor : A. Nugroho
#atlet #cabor #Layangan Aduan #Fornas