Busana Yuyukangkang Sedot Perhatian Turis Mancanegara.
Berawal dari karnaval tingkat kecamatan, belasan sanggar yang tergabung dalam Yayasan Pesona Gondanglegi tampil di kancah nasional. Mereka dipercaya menampilkan kostum ikonik di ajang Pergelaran Sabang Merauke 2025, 22-24 Agustus lalu.
SEORANG pria mengenakan pakaian ala kepiting raksasa berdiri di salah satu ruang pertunjukan, beberapa waktu lalu. Di samping kostum tersebut, seorang pemuda berpose sembari mengacungkan dua jari. Dialah Muhammad Ma’ruf, satu dari beberapa pemuda pembuat kostum ikonik yang turut andil dalam Pergelaran Sabang Merauke 2025 di Indonesia Arena, Senayan, Jakarta pada 22-24 Agustus lalu.
Pergelaran Sabang Merauke merupakan festival skala nasional yang menyuguhkan tari-tarian daerah dan kontemporer, kostum budaya, serta berbagai rangkaian musik. Festival digelar rutin tahunan, setiap November.
Tampilnya Ma’ruf dengan kostum Yuyukangkang dan beberapa pembuat kostum lain asal Gondanglegi turut mengenalkan budaya Bumi Kanjuruhan di kancah nasional. Melalui kostum dari beberapa sanggar di bawah naungan Yayasan Pesona Gondanglegi turut mengangkat budaya Bumi Arema.
Sebelum dipercaya tergabung dalam Pergelaran Sabang Merauka, Yayasan Pesona Gondanglegi yang menaungi beberapa sanggar di Gondanglegi aktif menggelar karnaval, meskipun tingkat kecamatan. Tahun 2012 adalah awal karnaval Pesona Gondanglegi diselenggarakan. Dimeriahkan para pembuat kostum untuk digunakan peserta karnaval melakukan kirab budaya. Pada tahun tersebut, para pembuat kostum terinspirasi keanekaragaman budaya Indonesia, khususnya desain baju adat.
Seiring berjalannya waktu, kirab budaya tersebut semakin berkembang dan diminati masyarakat. Semakin banyak pembuat kostum dari Gondanglegi dan sekitarnya turut memeriahkan acara tersebut. Perkembangan tersebut membuat beberapa sanggar kostum bersepakat membuat wadah bernama Yayasan Pesona Gondanglegi.
”Itu sebagai wadah, tempat berkumpul, dan komunikasi antara para sanggar pembuat kostum,” kata Ma’ruf, pemilik sanggar Popok Bawang Project.
Seluruh sanggar kostum berlomba-lomba mengeluarkan kreativitasnya masing-masing dalam membuat kostum karakter yang dapat memukau pengunjung festival. Kreativitas yang menghasilkan kostum ikonik dan berkarakter itulah yang menyedot perhatian seniman dari ibu kota, Jakarta. Termasuk berhasil menyedot perhatian panitia Pergelaran Sabang Merauke 2025. ”Pada pergelaran Pesona Gondanglegi 2024, salah satu panitia datang ke Malang untuk melihat langsung dan mendokumentasikan karya-karya kami,” cerita Ma’ruf.
Setelah itu, Yayasan Pesona Gondanglegi diminta menyediakan kostum ikonik untuk pergelaran yang dikunjungi warga mancanegara tersebut. Bagi para pembuat kostum, ini merupakan suatu kesempatan emas untuk melebarkan sayap pengalaman.
Awal Juni lalu, Yayasan Pesona Gondanglegi kembali bertemu panitia Pergelaran Sabang Merauke. Mereka membicarakan konsep acara serta kostum seperti apa saja yang ditampilkan. Dari pertemuan tersebut disepakati bahwa seniman perlu menampilkan kostum-kostum ikonik dari seluruh daerah di Indonesia.
Ada 13 sanggar dari yayasan yang menampilkan kostum. Di antaranya Sanggar Araya, AWP 567, Sacculus, Popok Bawang Project, PSB Project, Young Rabel, PS Project, Akur Official, Sinar Doa, Kazelor, The MasMex, Dissident Trops, dan Kreator Kampong Tream. Mereka menyuguhkan total 50 kostum ikonik dengan berbagai karakter.
Mulai dari kostum ayam dari cerita ciung wanara, Hanoman dari legenda rakyat, singa putih, Yuyukangkang dari cerita rakyat Ande-Ande Lumut, dan karakter-karakter tokoh yang menggambarkan ikon suatu daerah. Selain kostum, Yayasan Pesona Gondanglegi juga menerjunkan 25 talent. Mereka bergabung dengan 350 penari dari seluruh Indonesia.
Di antara deretan kostum karakter tersebut, Yuyukangkangkang didapuk sebagai kostum utama. Ma’ruf terpaksa menyanggupi pembuatan kostum Yuyukangkan meski waktunya singkat, sebab semua sanggar sudah menerjunkan 2-4 kostum.
Ma’ruf berusaha keras mencari referensi dari kostum Yuyu Kangkang, terlebih kostum itu juga digunakan oleh Nino Prabowo, Finalis Indonesia Idol 2005 dan menjadi perhatian utama penonton. Karena waktunya mepet, dia dibantu tim dan melibatkan Artificial Intelligence (AI) untuk mencari inspirasi.
Pergelaran Sabang Merauke dengan tema Hikayat Nusantara 2025 berhasil penyedot perhatian 28.000 pengunjung. Banyak penonton yang terpukau dengan detailing kostum hasil karya seniman Gondanglegi tersebut. Bagi Yayasan Pesona Gondanglegi, kesempatan tersebut adalah jalan baru untuk berkarya di kancah nasional. “Tahun ini hanya mengirimkan 50 kostum ikonik, tetapi harapannya pergelaran selanjutnya seluruh kostum datang dari Pesona Gondanglegi,” pungkas Ma’ruf. (*/dan)
Editor : A. Nugroho