Tuntaskan Dua Modul Hanya dalam Dua Jam
Edsel Parama Mustapa sukses mengibarkan merah putih di Manila setelah meraih emas bidang IT Software Solution for Business dalam WorldSkill ASEAN 2025. Remaja asal Malang itu menjadi satu-satunya wakil Malang Raya yang pulang membawa prestasi.
SORAK-SORAI terdengar membahana di arena closing ceremony The 14th WorldSkill ASEAN Competition di Manila, Filipina pada 30 Agustus lalu. Ratusan pemuda dari sepuluh negara ASEAN berdiri tegak di atas panggung, masing-masing dengan seragam kebanggaan dan bendera negara di tangan.
Wajah-wajah muda itu menyimpan rasa lelah bercampur bahagia. Ada yang pulang dengan tangan hampa, ada pula yang beruntung membawa pulang medali.
Di antara gemerlap lampu panggung dan riuh tepuk tangan, terdengar nama Edsel Parama Mustapa. Remaja 18 tahun asal Malang itu melangkah mantap ke depan, menyalami juri, dan menerima kalungan medali emas. Di tangannya, bendera merah putih berkibar. Satu-satunya emas dari Malang Raya di bidang IT Software Solution for Business akhirnya resmi digenggamnya.
Edsel memang bukan peserta sembarangan. Untuk sampai di panggung Manila, jalannya ditempa panjang. Sejak September 2024, siswa SMK PGRI 3 Malang itu sudah berhadapan dengan ketatnya seleksi tingkat Jawa Timur.
Lomba digelar daring, diikuti ratusan siswa se-provinsi. Dari seleksi itu, ia berhasil masuk 10 besar, lalu melangkah ke tingkat nasional pada November 2024. ”Di seleksi nasional diambil dua orang. Saya bersyukur mendapat posisi pertama,” kenangnya.
Kemenangan di tingkat nasional membuat Edsel berhak mengikuti Training Center selama empat bulan di Universitas Bina Nusantara (Binus), Jakarta. Dari sanalah ia ditempa, bukan hanya soal kemampuan teknis, tapi juga mental. Problem solving, kecepatan coding, hingga strategi mengatur waktu ia latih setiap hari.
”Aspek utama penilaian di kompetisi itu kecepatan problem solving. Bagaimana mencari kode dengan tepat dan cepat,” jelasnya.
Latihan panjang itu terbukti membuahkan hasil. Di Manila, Edsel mampu menyelesaikan modul jauh lebih cepat dari batas waktu yang ditentukan. Pada sesi pertama hari pertama, ia menuntaskan dua modul hanya dalam dua jam.
Padahal panitia memberi waktu tiga setengah jam. Sore harinya, satu modul rampung dalam satu jam, sementara jatah waktunya dua jam. ”Tantangan terberat itu suasana lomba yang ramai, ribut sekali. Saya sampai pakai ear plug biar tetap fokus,” katanya sambil tersenyum.
Kompetisi berlangsung selama tiga hari yakni 26–28 Agustus 2025. Setiap peserta harus menyelesaikan sembilan modul dengan total waktu sekitar 15 jam. Tugasnya pun beragam. Sesuai tema besar yang ditentukan panitia yaitu food festival.
Masing-masing negara mendapat peran berbeda. Singapura misalnya, mengerjakan aplikasi tentang kompetisi makanan. Malaysia fokus pada food packaging, Brunei membuat sistem registrasi, Filipina menggarap visualisasi data.
Indonesia mendapat tugas membuat aplikasi information kiosk. Sistem itu menyediakan informasi festival makanan secara elektronik. Edsel bersama tim kecilnya mendesain aplikasi berbasis internet dengan fitur peta lokasi booth, jadwal acara, hingga detail tenant makanan.
”Intinya aplikasi itu jadi pusat informasi festival makanan. Semua orang bisa lihat map dan tahu apa saja yang ada di festival,” terang alumnus jurusan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) itu.
Kemenangan di Manila menambah panjang daftar prestasinya. Sebelumnya, ia sudah menjadi juara Lomba Kompetensi Siswa (LKS) tingkat Jawa Timur bidang IT Network System Administration pada Mei 2024, serta juara nasional bidang IT Software Solution for Business. Dari tingkat provinsi, nasional, ASEAN, Edsel terus membuktikan konsistensi di bidang teknologi informasi.
Meski sudah menorehkan emas, langkah Edsel tidak berhenti di sini. Kini ia tengah melanjutkan pendidikan di Program Studi Manajemen Informatika Politeknik Astra, Bekasi, Jawa Barat. Ia masih rajin menambah jam latihan, menyiapkan diri menghadapi Asia WorldSkill Competition tahun depan. Berbeda dengan level ASEAN, di tingkat Asia tidak ada Training Center khusus. Semua persiapan harus dilakukan mandiri.
”Harapannya, setelah ini saya bisa lanjut berprestasi di level Asia,” ucapnya penuh semangat.
Cerita Edsel menegaskan bahwa prestasi internasional bukan hanya milik kampus besar atau kota-kota metropolitan. Dari ruang kelas SMK di Malang, seorang remaja bisa melangkah hingga panggung ASEAN, membawa pulang emas, sekaligus mengibarkan merah putih di hadapan dunia. (*/adn)
Editor : A. Nugroho