Langsung Dapat Tawaran Bermain di Liga 4
ADK sempat merasakan manisnya lolos seleksi Madura United Youth. Namun, langkahnya terhenti bukan karena performa, melainkan biaya belasan juta rupiah yang tak sanggup ia penuhi. Meski kecewa, kini ia mendapat tawaran bermain di Liga 4 sebagai pintu baru menjaga mimpinya tetap hidup.
SENYUM ADK merekah ketika namanya diumumkan lolos seleksi Madura United Youth. Dua hari trial yang melelahkan terbayar dengan sanjungan pelatih. Tapi kegembiraan itu hanya seumur jagung. Di balik kabar baik, terselip angka belasan juta rupiah yang harus ia setor jika ingin benar-benar masuk skuad klub berjuluk Sapeh Kerab Muda tersebut.
Kisah ADK bermula dari keberhasilannya mengantar Persik Kediri Youth finis di posisi empat besar Elite Pro Academy (EPA) U-18 Liga 1 2024/2025. Penampilannya yang konsisten membuat dia masuk daftar tiga pemain yang berpeluang promosi ke EPA U-20.
Harapan itu membumbung tinggi, apalagi sejak lama ia bercita-cita memperkuat Macan Putih di level yang lebih tinggi. Sayangnya, pergantian pelatih di Macan Putih-julukan Persik-mengubah arah cerita.
Nama ADK tak lagi ada dalam rencana musim depan. Situasi itu membuatnya harus segera mencari tempat baru. Sempat ada tawaran trial di Bali United, namun biaya hidup di Pulau Dewata terasa terlalu berat. ”Saya harus realistis, biaya hidup di sana nggak murah,” kenang remaja asal Kabupaten Malang itu.
Saat itulah dia mendengar kabar bahwa Madura United Youth tengah membuka seleksi untuk EPA U-20. Brosur yang tersebar menyebut hanya ada biaya pendaftaran Rp 100 ribu. Nominal itu terasa wajar.
Ayahnya yang juga mantan pemain sekaligus pelatih, langsung mendukung langkah anaknya mencoba peruntungan di Pamekasan. ADK punya pengalaman beragam. Saat memperkuat Arema Youth U-16 dan U-18 pada 2019–2023, ada biaya partisipasi yang sejak awal sudah dikomunikasikan.
Namun, ketika membela Persik Youth U-18 musim lalu, semuanya gratis. Itu sebabnya ia sempat bingung ketika mendengar ada biaya tambahan untuk pemain U-20 Madura United. Tapi pikiran itu ditepis. Kesempatan harus dicoba dulu.
Dua hari trial di Pamekasan menjadi panggung kecil pembuktian. Hari pertama, tubuhnya kaku karena cuaca. Napas masih berat menyesuaikan udara panas di Madura. Untunglah ada hari kedua. ”Saya bersyukur masih dikasih kesempatan tes lagi,” kata remaja yang mengidolakan Lionel Messi itu.
Dan benar, kesempatan itu ia balas dengan penampilan penuh percaya diri. Meski berposisi gelandang, ADK ikut mencetak satu gol dan satu assist saat timnya menang 3-0.
Pelatih seleksi bahkan menyebutnya sebagai salah satu pemain dengan performa terbaik. Ucapan itu jadi bahan bakar semangat. Dalam hatinya, ia yakin pintu menuju EPA U-20 sudah terbuka lebar.
Malam harinya, kabar gembira datang lewat telepon. Namanya lolos seleksi. Namun, sukacita itu hanya bertahan beberapa menit. Sebab, setelah memastikan ia diterima, pihak manajemen meminta berbicara dengan sang ayah.
Di situlah disebutkan bahwa ada biaya sebesar Rp 15 juta untuk pemain yang memilih tinggal di luar mess atau Rp 20 juta bila ingin sekalian menanggung akomodasi dan makan. ADK hanya bisa terdiam. Angka itu terlalu besar bagi keluarganya.
”Tentu kasihan ke orang tua kalau harus cari uang sebanyak itu,” lirihnya. Ia sempat mencoba memastikan kembali ke admin Madura United, berharap ada keringanan berupa cicilan atau skema bertahap.
Tapi jawaban yang didapat justru tegas. Jika tak mampu membayar, maka otomatis dianggap mengundurkan diri. Kekecewaan itu akhirnya dia tumpahkan ke akun TikTok.
Dalam videonya, ADK hanya ingin berbagi cerita bagaimana mimpinya terhenti oleh tembok biaya. Tidak ada nada menyerang, tidak ada menyebut nama. Tapi unggahan itu viral. Publik ramai mengomentari, sebagian besar prihatin.
Respons Madura United pun tak kalah cepat. Mereka meminta ADK menurunkan postingan tersebut, bahkan menyuruh membuat video klarifikasi. ADK sebenarnya siap jika memang ada naskah resmi dari klub.
Masalah yang dialami ADK dengan Madura United Youth pun sudah selesai. Pihak klub sudah melakukan klarifikasi. Meski demikian, ADK memilih untuk pasrah dengan apa yang sudah terjadi.
Dari kasus yang viral itu membuat klub Liga 4 Perseba Bangkalan langsung menghubunginya. Beberapa tim dari Liga 2 dan Liga 3 juga ikut melirik. Namun ADK memilih menahan diri. Ia ingin menunggu situasi benar-benar kondusif sebelum memutuskan langkah.
Dalam benaknya, satu hal jelas, mimpinya jadi pesepak bola tak boleh berhenti hanya karena biaya. ”Kalau sepak bola bisa dijangkau semua orang, Indonesia bakal punya banyak pemain berbakat,” ucapnya penuh keyakinan.
Kini, setelah gagal berseragam Madura United Youth, ADK mengatur ulang rencana. Pendaftaran EPA musim ini sudah ditutup. Artinya, dia harus menunggu tahun depan. Sementara itu, peluang trial bersama Bali United kembali terbuka, sembari mencoba mencari menit bermain di klub Liga 3 atau 4.
”Target saya musim depan ikut seleksi Bali United, tapi sekarang saya juga siap main di liga bawah dulu buat jaga performa,” tandasnya.
Masa depan ADK masih penuh tanda tanya. Tapi di balik kekecewaan, ada tekad yang semakin keras. Di usia belia, ia sudah merasakan bagaimana sulitnya jalan menuju profesional.
Rintangan biaya yang tinggi membuatnya sadar, perjuangan bukan hanya di lapangan, tapi juga di luar. Dan untuk seorang anak yang punya mimpi besar, semua itu bukan alasan untuk berhenti berlari mengejar bola. (*/adn)
Editor : A. Nugroho