Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Eko Agus Ryanto Berjalan dari Jakarta ke Malang Menyuarakan Keadilan untuk Korban Tragedi Kanjuruhan

Aditya Novrian • Selasa, 23 September 2025 | 16:50 WIB
BAWA MISI KEMANUSIAAN: Eko Agus Ryanto (dua dari kanan) disambut perwakilan Aremania dan Bonek ketika tiba di Batang, Jawa Tengah.
BAWA MISI KEMANUSIAAN: Eko Agus Ryanto (dua dari kanan) disambut perwakilan Aremania dan Bonek ketika tiba di Batang, Jawa Tengah.

 

Rela Tempuh 740 Km demi Doa Bersama di Gate 13.

Eko Agus Ryanto memilih berjalan dari Jakarta menuju Malang. Perjalanannya bukan untuk popularitas, melainkan untuk menyampaikan doa dan dukungan bagi keluarga korban Tragedi Kanjuruhan. Aksinya juga mendapat dukungan dari komunitas suporter di berbagai daerah.

TONGKAT jalan atau trekking pole di tangan kanannya tak pernah lepas dari genggaman. Setiap hentakan langkah, tongkat itu menjadi sahabat setia, menopang tubuh yang tidak sempurna. Di balik setiap tapak yang ia ayunkan, tersimpan tekad yang tak kalah kuat dari batu jalanan yang ia pijak.

Namanya Eko Agus Ryanto, pria asal Ciputat yang kini tengah menapaki perjalanan panjang. Berjalan kaki dari Jakarta menuju Malang.

Bukan perjalanan biasa. Bukan pula sekadar tantangan fisik. Ada satu tujuan mulia yang ia bawa. Berdoa langsung bersama keluarga korban Tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober mendatang.

Perjalanan itu sudah lebih dari dua pekan ia jalani. Kini, langkahnya sudah sampai Tuban. Tubuh Eko memang tidak sempurna. Tangan kirinya lumpuh, kaki kanannya pincang akibat kecelakaan 19 tahun lalu.

Kondisi itu kerap jadi penghalang. Tangan kanannya lebih cepat nyeri karena menanggung beban. Kaki kirinya pun sering terasa pegal, menanggung berat tubuh yang seharusnya terbagi rata.

Namun, rasa sakit itu bukan alasan untuk berhenti. Justru di situlah keteguhan hatinya diuji. Dua bulan sebelum berangkat, ia sudah menyiapkan semua kebutuhan.

Eko melanjutkan perjalanan setelah beristirahat sejenak.
Eko melanjutkan perjalanan setelah beristirahat sejenak.

Niat itu muncul setelah melihat semangat Abah Midun, pria asal Malang yang mengayuh sepeda hingga Jakarta demi menuntut keadilan untuk korban tragedi Kanjuruhan. Eko merasa perjuangan itu harus ada balasan.

Jika Abah Midun mewakili keluarga korban yang menuntut, maka dirinya datang membawa jawaban. Yakni suara dukungan dari banyak komunitas.

”Saya ingin menunjukkan kalau keluarga korban tidak sendirian,” ucap Eko melalui sambungan telepon.

Rencananya, perjalanan itu dimulai 1 September. Karena ada kendala, ia baru berangkat pada 7 September. Bukan tanggal sembarangan. Hari itu bertepatan dengan peringatan kematian Munir, pejuang hak asasi manusia asal Malang.

”Saya ikut mengambil semangat Munir. Perjalanan ini memang murni untuk keluarga korban,” katanya.

Setiap hari, Eko menempuh puluhan kilometer. Dari pagi hingga sore, ia melangkah. Saat lelah, ia singgah di rumah teman komunitas atau para suporter yang mengenalnya lewat kabar perjalanan.

Bila tak ada yang menawarkan tempat singgah, ia terus berjalan sampai menemukan tempat aman untuk beristirahat. Di sepanjang jalan, ia bertemu banyak orang. Jakmania, guru, mahasiswa, relawan perpustakaan jalanan, paramedis jalanan, hingga suporter-suporter lokal seperti Persipasi Bekasi, Persip Pekalongan, Persikas Subang, Ultras Garuda, dan Aremania.

Semua menyambutnya dengan dukungan. Ada yang menitipkan surat, ada pula yang menempelkan pin di tasnya. Simbol kecil, tapi berarti besar berupa suara-suara itu ikut ia bawa sampai Malang.

”Perjalanan ini memang soal kemanusiaan. Banyak orang yang ikut menitipkan pesan. Itu membuat saya tidak merasa sendirian di jalan,” tutur pria berusia 36 tahun itu.

Bagi Eko, dukungan komunitas menjadi energi tambahan. Mereka menyediakan makanan, tempat tinggal, bahkan tumpangan motor bila ia harus melewati hutan atau jalanan sepi di malam hari.

”Kalau terlalu riskan, kadang saya nebeng motor relawan. Tapi selebihnya, semua saya jalani dengan kaki sendiri,” tambahnya.

Setelah tiba di Tuban, langkahnya mengarah ke Gresik. Kemudian perjalanan menuju Malang akan dilanjutkan dengan target tiba paling lambat 28 September. ”Tanggal 1 Oktober nanti, saya ingin ikut doa bersama di Gate 13 bersama keluarga korban,” kata pemilik usaha toko kelontong itu.

Namun, ia menegaskan tidak akan ikut doa bersama jika acaranya diadakan klub atau aparat. Alasannya dia tidak mau dianggap mewakili manajemen atau aparat. Langkahnya hanya untuk keluarga korban.

Meski bukan bagian dari keluarga korban, hati nurani Eko tergerak. Ia sadar perjuangan kecil ini mungkin tak digubris para elite negeri.

Tapi ia yakin, langkahnya bisa menjadi pengingat. Ada tragedi besar yang tidak boleh dilupakan. Ada luka yang belum sembuh. Ada keadilan yang belum ditegakkan.

Kenangan yang paling ia simpan sepanjang perjalanan bukan soal rasa lelah atau sakit. Melainkan semangat orang-orang yang ia temui. Setiap senyuman, setiap titipan doa, setiap suapan nasi dari tangan orang asing, menyalakan kembali tekadnya.

”Perjalanan ini bukan ambisi pribadi, tapi suara bersama untuk korban,” ujarnya.

Eko sadar, langkahnya hanya kecil. Tak sebanding dengan penderitaan keluarga yang ditinggalkan. 135 nyawa gugur dalam tragedi Kanjuruhan.

Tapi ia percaya, dengan langkah-langkah kecil itulah perjuangan bisa terus hidup. Ia bukan atlet, bukan politikus, bukan pula orang terkenal. Hanya seorang pria dengan tubuh tak sempurna, tongkat jalan, dan tekad yang tak pernah luntur.

Dan di setiap hentakan langkahnya, ada doa yang terus ia bawa. Doa untuk keadilan. Doa untuk keluarga korban. Doa agar tragedi kelam itu tak pernah lagi terulang. (*/adn)

Editor : A. Nugroho
#aremania #malang #kanjuruhan #gate 13