Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Perjuangan Keluarga Menjaga Nama Besar Sadikin Pard lewat Galeri Semi-Kafe

Mahmudan • Senin, 29 September 2025 | 18:17 WIB
KONSEP BARU: Seorang pengunjung menikmati suasana di Galeri Sadikin Pard, Jalan Selat Sunda, Lesanpuro, Kota Malang kemarin (28/9).
KONSEP BARU: Seorang pengunjung menikmati suasana di Galeri Sadikin Pard, Jalan Selat Sunda, Lesanpuro, Kota Malang kemarin (28/9).

Bisa Nikmati Lukisan sambil Nyeruput Secangkir Kopi.

Nama Sadikin Pard sudah tak asing di kalangan seniman Malang Raya, khususnya pelukis. Sepeninggal sang maestro pada Desember 2024 lalu, keluarga ingin menjaga nama besar Sadikin Pard melalui galeri semi-kafe.

 

GALERI Sadikin Pard di Jalan Selat Sunda, Lesanpuro, Kota Malang tak pernah sepi. Sejak dibuka pukul 07.00 hingga 22.00, pengunjung datang silih berganti. Mereka datang untuk menikmati keindahan lukisan sambil menyeruput secangkir kopi.

Sejak sang maestro berpulang pada 2024 lalu, keluarga mengubah konsep galeri yang menyatu dengan rumah setinggi tiga lantai di Jalan Selat Sunda D5/35, Lesanpuro, Kedungkandang, Kota Malang itu. Jika sebelumnya hanya memajang deretan lukisan karya Sadikin, kini diubah menjadi semi-kafe. Orang datang untuk ngopi sembari menyaksikan lukisan. Atau sebaliknya, memandang lukisan sembari menyeruput kopi.

Tentu orientasinya bukan bisnis. Melainkan untuk mengundang orang lebih banyak yang datang ke galeri. Gratis. Tanpa dipungut biaya, kecuali bagi mereka yang memesan secangkir kopi atau menu lain yang tersedia. ”Konsep ini (galeri semi-kafe) dibuat sebagai cara baru mengenang almarhum (Sadikin Pard),” ujar Almedo Pard, anak ketiga Sadikin Pard sekaligus pengelola kafe.

Sadikin adalah pelukis difabel yang mempersembahkan karya-karya monumental. Meskipun memegang kuas menggunakan kaki atau mulut, karyanya diakui seniman Indonesia, bahkan mancanegara. Hal itu terlihat dari kehadirannya di forum pelukis internasional. Sadikin merupakan maestro di dunia seni lukis.

Meski galeri semi-kafe bernama ”Kedai Ruang Warna” baru buka tiga bulan lalu, konsepnya sudah dibahas sejak mendiang Sadikin masih hidup. “Ini memang ide papa (Sadikin), di mana pengunjung tidak hanya datang menikmati lukisan tetapi juga suasana,” kata dia.“Kami juga menyediakan medianya (kanvas) apabila ada yang mulai tertarik melukis,” tambah pemuda berusia 27 tahun itu.

Konsep tersebut sudah dibangun sejak 2016, bersamaan dengan pembangunan galeri. Kala itu, Sadikin suka mengajak anak-anaknya berbincang santai di teras depan rumah. Di sela perbincangan itulah Sadikin melontarkan ide membuat galeri semi-kafe. Sebagian dari ide tersebut sudah direalisasikan. Salah satunya dari segi penataan lukisan. Yang belum sempat direalisasikan sampai sang maestro berpulang adalah keberadaan kitchen disertai deretan wadah berisi biji kopi.

Lantaran dinamai galeri semi-kafe, nuansa galerinya lebih menonjol. Hampir setiap sudut kafe itu dihiasi lukisan karya Sadikin. Mulai dari dinding hingga lantai kafe, semuanya tak lepas dari goresan kuas pelukis.

Ketika Jawa Pos Radar Malang memasuki lantai dua, pengunjung sudah disuguhi lukisan dinding penari adat Jawa dan Bali. Dinding sisi lainnya juga memajang lukisan sawah khas pedesaan. Tak lupa, ornamen khas Jawa. Foto Sadikin juga terpajang di sana.

Tidak hanya lukisan, ruang lantai dua juga di penuhi sertifikat yang memperkuat label sang maestro. Lebih dari 50 sertifikat terpanjang di dinding. Semuanya bertuliskan ‘Sadikin Pard’. Selain sertifikat, juga ada foto dan lembaran koran yang mengabadikan sang maestro ketika melukis menggunakan satu kaki.

Bakat pelukis terlihat sejak Sadikin kecil. Semasa taman kanak-kanak (TK), seniman kelahiran Malang, 29 Oktober 1966 sudah jago melukis. “Sejak kecil dia suka melukis. Oleh nenek, papa dibelikan kuas dan pensil untuk menyalurkan bakatnya,” cerita Almedo mengingat kisah yang dulu ia pernah dengar langsung dari sang ayah.

Bahkan teman sekolah Sadikin sering memintanya untuk dilukis, khususnya saat pelajaran seni rupa di sekolah pada 1970 silam. Dari sana Sadikin memulai bakatnya. Dimulai dari menggambar menggunakan media kertas, kemudian berubah ke kanvas.

Ketika dewasa, nama Sadikin berubah. Ditambahkan kata ”Pard” di nama belakang Sadikin, tepatnya pada 1992. Nama belakang itu baru ditambahkan karena Sadikin harus membuat paspor untuk mengikuti rapat AMFPA, Asosiasi Internasional Pelukis Mulut dan Kaki di Swiss. Sehingga Sadikin memasukkan nama ayahnya yaitu ‘Supardi’ yang kemudian disingkat menjadi Pard. Nama itu melekat hingga sekarang, termasuk diturunkan kepada anak-anaknya dan menjadi nama keluarga.

Kini, Sadikin sudah tiada. Juga tidak mungkin berkarya lagi. Oleh karena itu keluarga ingin menghidupkan kembali melalui galeri semi-kafe. Secara fisik, Sadikin sudah tidak ada lagi. Namun semangatnya dalam berkarya harus terus dijaga melalui seniman-seniman muda. Keluarga berharap, ke depan akan muncul Sadikin-Sadikin baru yang berkibar di kancah nasional, bahkan internasional. ”Semasa hidup, waktu ayah saya (Sadikin) dihabiskan untuk melukis. Mulai pukul 09.00 sampai 20.00 terus melukis,” kata dia. ”Setiap hari ayah bisa menghasilkan satu sampai tiga lukisan, tergantung tingkat kerumitannya,” terang Almedo.(*/dan)

Editor : A. Nugroho
#kafe #seniman #Malang Raya #galeri