Paling Tertantang saat Pelanggan Bawa Komponen dari Luar Negeri.
Ketika kebanyakan orang bermain mobil remote control (RC) untuk bersenang-senang, Theo Ivan Koesoema memilih membangunnya dari nol. Ia mengukur, mengelas, dan merakit setiap bagian dengan kesabaran. Hasilnya, mobil-mobil mini itu tak cuma berjalan cepat, tapi juga tahan uji di alam liar.
DI ATAS meja kerja yang penuh potongan logam kecil dan lembaran aluminium, sebuah penggaris mungil selalu menempel di tangan kanan Theo Ivan Koesoema. Pria 29 tahun itu seperti tak bisa lepas dari alat ukur tersebut setiap kali mengerjakan pesanan mobil remote control (RC) buatannya.
Di bengkel mungilnya di Jalan Candi Jago, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Ivan memastikan setiap sudut dan celah mobil buatannya terukur presisi. Tidak boleh ada yang meleset, bahkan sepersekian milimeter.
”Kalau rangka dan bodi tidak pas, mobil bisa oleng atau malah patah saat melaju,” ujarnya sambil meneliti baut kecil di bawah sorot lampu belajar yang terang.
Mobil RC buatannya bukan mainan sembarangan. Bukan pula sekadar koleksi untuk dipajang di etalase. Mobil-mobil berskala 1:10 dan 1:16 itu dibuat untuk balapan di alam terbuka yang menembus tanah, bebatuan, dan rintangan jalan setapak.
Karena itu, selain harus cepat, setiap mobil harus punya perlindungan kuat agar tak rusak ketika terbentur. Ketelitian menjadi kunci utama. Di atas meja yang dilapisi cutting mat hijau, Ivan bekerja seperti perajin logam halus.
Tangannya bergerak hati-hati, memegang obeng mini, memutar mur, menempelkan pelat-pelat logam tipis di rangka mobil. Mobil seperti Land Rover Defender, Toyota Land Cruiser, Suzuki Jimny, hingga Bronco secara sempurna mampu ia buat. ”Awal terjun di custom mobil RC itu sulit sekali. Saya harus belajar menentukan panjang dan lebar komponen sendiri,” jelas dia.
Perjalanan Ivan di dunia custom mobil RC dimulai sekitar lima tahun lalu. Awalnya, sekadar hobi bongkar pasang. Ia sering mengutak-atik mobil RC miliknya hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu.
Tapi dari situ, kecintaannya tumbuh. Ia mulai mempelajari logika mekanik mobil skala mini itu secara otodidak. ”Kadang saya belajar dari YouTube, kadang juga tanya-tanya ke senior di otomotif,” katanya.
Lulusan SMK PGRI 3 Malang itu mengaku bagian tersulit dalam proses perakitan adalah membentuk dan mengelas besi pelindung mobil. Ia sering memanaskan aluminium agar bisa dibengkokkan sesuai bentuk yang diinginkan. ”Bahannya alot, tapi hasilnya lebih kuat. Kalau salah sedikit, bisa patah,” tuturnya sambil menunjukkan potongan rangka yang sudah jadi.
Ivan harus menyeimbangkan antara kekuatan dan bobot mobil. Terlalu berat, mobil tidak akan melaju cepat. Terlalu ringan, mobil mudah terbalik saat menghantam batu. Biasanya ia menggunakan logam di bagian bumper, roll cage, dan dudukan sasis. Semuanya berfungsi melindungi inti mesin dari benturan keras.
Menariknya, Ivan memilih bahan dengan standar food grade untuk mobil buatannya. Ia menggunakan stainless steel tipe 304, jenis logam yang biasanya dipakai untuk wadah makanan. ”Materialnya lebih kuat dan tahan karat. Karena mobil RC sering dipakai di luar ruangan, jadi harus tahan udara lembap,” jelasnya.
Setiap mobil yang dibuat Ivan membutuhkan waktu pengerjaan sekitar satu bulan. Waktu itu bisa lebih singkat jika hanya melakukan perawatan atau perbaikan kecil. Dalam setahun, ia mampu menyelesaikan hingga 25 unit mobil, termasuk 15 di antaranya pesanan baru.
Namun, kesulitan tak berhenti di situ. Tantangan lain muncul ketika pelanggan membawa komponen custom dari luar negeri. Ukurannya sering tidak standar. Ivan pun harus memutar otak agar semua komponen bisa terpasang dengan sempurna. ”Kadang bautnya beda ukuran atau dudukannya nggak pas. Jadi harus ubah rancangan sedikit,” ujarnya.
Harga mobil RC custom buatannya beragam, tergantung tingkat kerumitan. Untuk satu unit, rata-rata ia mematok harga sekitar Rp 5 juta. Tapi jika pemesan menginginkan sasis atau komponen dengan material khusus, biayanya bisa melonjak hingga puluhan juta rupiah.
Meski begitu, bagi Ivan, kepuasan terbesar bukan soal harga atau jumlah pesanan. Melainkan saat melihat mobil buatannya melaju kencang di lintasan tanah, menerjang batu, lalu kembali meluncur mulus seolah tanpa luka. ”Itu rasanya luar biasa. Seperti lihat anak sendiri berhasil balapan,” katanya.
Dari sebuah bengkel kecil di pojok kota, Ivan membuktikan bahwa ketelitian dan kesabaran bisa melahirkan karya besar meski dari hal yang kecil. Dari penggaris mungil di tangannya, presisi menjadi ruh yang membuat mobil-mobil RC rakitannya hidup dan siap menaklukkan lintasan. (*/adn)
Editor : A. Nugroho