Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Inovasi Sugiono, Dosen Teknik UB Ciptakan Noise Housing untuk Pelindung Roda Kereta Api

Aditya Novrian • Selasa, 14 Oktober 2025 | 16:41 WIB
INOVATIF: Sugiono, dosen Teknik UB (tiga dari kiri) bersama tiga mahasiswa dan perwakilan PT INKA ketika melakukan kunjungan beberapa waktu lalu.
INOVATIF: Sugiono, dosen Teknik UB (tiga dari kiri) bersama tiga mahasiswa dan perwakilan PT INKA ketika melakukan kunjungan beberapa waktu lalu.

Mampu Redam Suara Gesekan hingga 70 Persen

Suara gesekan roda kereta menjadi sumber inspirasi bagi Sugiono, dosen Universitas Brawijaya untuk melahirkan inovasi. Ia menciptakan noise housing yang mampu meredam suara gesekan roda dengan rel. Inovasi yang berawal dari keresahan itu kini dilirik PT INKA dan berpotensi mengubah kenyamanan transportasi rel di Indonesia.

 

DINI hari yang mestinya sunyi malah berubah jadi momen paling berisik dalam hidup Sugiono. Waktu itu jarum jam hampir menyentuh pukul 04.00. Dari balik kaca jendela kereta eksekutif Jogjakarta-Malang, suara gesekan roda dengan rel terdengar memekakkan telinga.

Glodak-glodak-glodak. Suara itu biasanya diabaikan penumpang. Tapi, membuat Sugiono resah. ”Kereta sekelas eksekutif seharusnya bisa lebih tenang. Kenapa masih seberisik ini,” pikir dosen Teknik Universitas Brawijaya (UB) itu.

DARI KERESAHAN: Prototipe noise housing ciptaan Sugiono yang bisa meredam kebisingan hasil gesekan rel dan roda kereta api hingga 70 persen.
DARI KERESAHAN: Prototipe noise housing ciptaan Sugiono yang bisa meredam kebisingan hasil gesekan rel dan roda kereta api hingga 70 persen.

Dari perjalanan pada 2022 itu, muncul gagasan sederhana. Bagaimana jika bagian roda kereta atau bogie diberi pelindung. Bukan sekadar aksesori, tapi pelindung yang bisa menahan suara sekaligus menjaga keamanan.

Sesampainya di Malang, tanpa menunggu lama, Sugiono langsung menyalakan komputer dan mulai melakukan simulasi digital. Rancangannya bukan sekadar gambar dua dimensi. Melainkan perhitungan detail mulai bentuk, jarak, ruang gerak, hingga material yang paling cocok.

Dalam hitungan minggu, riset kecil itu berubah jadi proyek besar. Ternyata, membuat pelindung roda kereta tidak semudah membungkus benda dengan lapisan. Harus ada ruang gerak ke kanan dan kiri, sekitar tujuh persen dari total dimensi. Tujuannya agar tidak menghambat putaran roda.

Setiap derajat pergeseran punya peran. Setiap bahan punya konsekuensi. Sugiono pun meneliti berbagai material.

Pilihan akhirnya jatuh pada campuran e-glass fiberglass resin dan gelcoat. Material itu dikenal kuat menahan benturan logam, tetapi tidak terlalu berat. Ia tambahkan pula lapisan alumunium foil untuk meredam panas yang muncul akibat gesekan.

Namun, di tengah eksperimen itu, muncul ide lain. Kenapa tidak sekalian memanfaatkan limbah plastik yang melimpah. Dengan semangat riset dan kepedulian lingkungan, Sugiono menambahkan cacahan plastik daur ulang ke dalam bahan pelindung roda.

Ia tak bekerja sendirian. Warga dari Kelurahan Kiduldalem dan Arjosari dilibatkan dalam pengumpulan limbah. Plastik-plastik bekas dipilah, dicacah, dan dijadikan bahan tambahan untuk pembuatan pelindung roda. Terkumpul sekitar 10 kilogram plastik.

”Kalau nanti diproduksi massal, artinya ini bukan hanya soal teknologi, tapi juga tentang mengurangi sampah plastik,” kata Sugiono.

Setelah satu tahun riset penuh percobaan dan perhitungan, Sugiono mengajukan proyeknya ke kampus. Tahun 2024 menjadi tonggak penting. UB memberikan pendanaan untuk membuat prototipe. Biayanya mencapai Rp 20 juta hanya untuk satu unit pelindung roda. Sedangkan satu kereta butuh dua untuk sisi kiri dan kanan.

Tak berhenti di kampus, Sugiono juga mengetuk pintu PT Industri Kereta Api atau PT INKA di Madiun. Dari sana, ia mendapat kesempatan langka. Mengukur langsung bagian bawah kereta api, melihat sistem bogie dari dekat, dan berdiskusi dengan para insinyur.

Sejumlah mahasiswa Teknik Industri UB ikut turun tangan, membantu mencatat, menghitung, hingga mengukur setiap celah roda. Hasil pengukuran itu dibawa ke bengkel di Jombang. Di sanalah prototipe pelindung yang dinamai noise housing mulai dibuat sejak Oktober 2024.

Bentuknya sederhana berupa persegi panjang. Panjangnya mencapai 3,6 meter dan lebar 1,1  meter. Tapi di balik bentuk ringkas itu tersimpan teknologi yang memadukan sains, desain, dan kepedulian lingkungan.

Proses pembuatan sempat tersendat karena padatnya aktivitas akademik. Namun Sugiono menargetkan prototipe rampung pada akhir Desember mendatang agar bisa diuji bersama PT INKA di Madiun. Harapannya, noise housing bisa menekan suara gesekan roda dan rel hingga 70 persen. Dari hasil perhitungan awal, kebisingan yang biasanya mencapai 105 desibel bisa turun drastis hingga setara suara percakapan keras.

Namun, manfaatnya tak berhenti di sana. Pelindung ini juga melindungi komponen roda dari keausan, menambah efisiensi energi, serta memperindah tampilan kereta. ”Kami ingin semua aspek terpenuhi, aman, nyaman, efisien, dan ramah lingkungan,” ujarnya.

Kalimat itu menggambarkan betapa riset ini bukan sekadar upaya teknis. Tapi juga manifestasi filosofi transportasi yang manusiawi. Sebuah inovasi yang berangkat dari suara gesekan, tapi berpotensi mengubah wajah industri perkeretaapian Indonesia.

Setelah prototipe rampung, Sugiono berencana mengurus izin kelayakan produk agar bisa dipasarkan secara nasional. Bahkan, ia sudah membayangkan noise housing ini bisa menembus pasar Asia Tenggara.

Di sela pengerjaan proyek ini, Sugiono juga tak lepas dari riset lain yang masih berkaitan dengan keselamatan transportasi. Sejak 2020, ia bersama mahasiswa dan dosen Fakultas Ilmu Komputer (Filkom) UB mengembangkan aplikasi peringatan di perlintasan kereta api. Sistemnya sederhana tapi efektif, memberi tanda warna dari hijau ke merah di ponsel pengendara ketika kereta mendekat.

Aplikasi itu lahir dari keprihatinan atas banyaknya kecelakaan di perlintasan sebidang. ”Padahal palang sudah turun, suara alarm sudah bunyi, tapi tetap ada yang nekat,” ujarnya. Nantinya, aplikasi tersebut akan diintegrasikan dengan peta digital seperti Google Maps agar bisa memberi peringatan otomatis. (*/adn)

Editor : A. Nugroho
#pt inka #UB #sugiono #dosen #Teknik UB