Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Dari MC ke Kepala Dusun di Bumiaji Kota Batu, Fachruddin ”Ipin” Irfani Pilih Dermakan Gaji untuk Warga

Aditya Novrian • Selasa, 21 Oktober 2025 | 16:34 WIB
RAMAH: Kepala Dusun Sumbergondo Fachruddin ”Ipin” Irfani mengunjungi salah satu warga dan memberikan bantuan sosial dari gaji yang diterimanya.
RAMAH: Kepala Dusun Sumbergondo Fachruddin ”Ipin” Irfani mengunjungi salah satu warga dan memberikan bantuan sosial dari gaji yang diterimanya.

Sempat Diremehkan, tapi Pesan Ibu Jadi Motivasi.

Dari pembawa acara menjadi kepala dusun, Fachruddin ”Ipin” Irfani memilih jalan pengabdian. Keputusannya bukan karena ambisi, melainkan dorongan hati dan restu ibunya. Kini seluruh gajinya ia salurkan untuk warga yang membutuhkan sebagai wujud nazar dan cinta pada kampung halamannya. 

HUJAN baru saja reda sore itu. Sisa-sisa tempias masih menetes di daun pisang yang tumbuh di depan rumah bercat krem di Dusun Segundu Sengonan, Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji. Dari lantai satu bangunan ruko sederhana, terdengar tawa ringan bercampur suara motor tua yang menderu pelan.

Di situlah Fachruddin Irfani atau yang akrab disapa Ipin Irfani menjalani hari-harinya sebagai kepala dusun baru. Ruang tamu yang sekaligus menjadi tempat persewaan beskap miliknya kini berubah fungsi menjadi pos kecil untuk mendengar aspirasi warganya.

Kursi kayu tersusun rapi, sementara di pojok ruangan terparkir Hondra Supra tuanya yang sudah berkarat di beberapa bagian. Motor itu kini menjadi saksi bisu perjalanan Ipin dari rumah ke rumah, menembus jalan-jalan kecil dusun dengan penduduk sekitar 2.500 jiwa itu.

Sejak September lalu, kehidupan Ipin berubah drastis. Lelaki berusia 27 tahun itu tak lagi disibukkan dengan panggung, mikrofon, dan sorak penonton. Ia memang masih bekerja sebagai pembawa acara setiap akhir pekan, tapi hari-harinya kini lebih banyak dihabiskan untuk warga.

Dari mengurus surat-surat, mendengar keluhan soal saluran air, hingga menemani tahlilan warga yang berduka. Menariknya, keputusannya untuk menjadi kepala dusun tidak datang dari ambisi pribadi. Juli lalu, ketika pendaftaran calon kepala dusun dibuka, Ipin sama sekali tak berniat ikut.

Hari-harinya saat itu masih penuh jadwal MC dan urusan bisnis persewaan beskap serta dekorasi prewedding. Namun sehari sebelum pendaftaran ditutup, ibunya, Istichomah, datang membawa satu kalimat sederhana yang mengubah jalan hidupnya.

”Kata mama, mengabdi itu ladang ibadah,” kenang Ipin. Kalimat itu menancap dalam. Hari itu juga, Sekretaris Desa Sumbergondo Totok Wahyudi datang membawa map cokelat berisi formulir pendaftaran. Map itu seolah menjadi penegas bahwa jalannya memang ke arah pengabdian.

Malamnya, Ipin memikirkan matang-matang keputusan itu. Sebagai anak tunggal, ia tahu amanah itu besar. Tapi dorongan dari sang ibu dan keinginannya untuk berbuat baik menjadi alasan utama.

”Saya bernazar, kalau diterima, gaji saya akan disalurkan seluruhnya untuk warga,” ujar alumnus SMAN 1 Batu itu.

Ujian demi ujian ia lalui dan pada 31 Juli, Ipin memaparkan visinya, ”Ladu Warga, CCTV Warga, Sumbergondo Resik, dan Siap Pantau.” Saat hari itu juga, hasil diumumkan. Namanya muncul di urutan pertama dengan nilai tertinggi. Ia resmi menjadi kepala dusun terpilih. Sang ibu menatapnya dengan mata berkaca-kaca, bangga namun juga haru.

Namun perjalanan setelah itu tak selalu mulus. Sebagian warga sempat meragukan kemampuannya. Mereka menilai Ipin terlalu sibuk dengan pekerjaan lamanya sebagai MC dan kurang membaur dengan lingkungan. ”Ada yang bilang saya cuma bisa ngomong, tidak bisa kerja lapangan,” ujarnya sambil tersenyum.

Keraguan itu dijawabnya dengan tindakan nyata. Ia mulai aktif mendatangi kegiatan warga, tahlilan, kerja bakti, dan rapat dusun. Ia bahkan membawa proyektor setiap kali menjelaskan rencana pembangunan fisik agar warga tahu ke mana arah kebijakan dusunnya. Ia juga menggandeng karang taruna membersihkan punden yang selama ini tak terurus.

Rutinitas paginya pun berubah. Setiap pukul enam, Ipin berkeliling dusun sambil berjalan kaki. Selain untuk berolahraga, itu juga menjadi cara sederhana untuk menyapa warga dan melihat langsung kondisi sekitar. ”Dari situ warga mulai terbuka dan senang. Mereka tahu saya sungguh-sungguh,” kata lelaki yang juga sempat merasakan jadi Ketua OSIS SMAN 1 Batu itu.

Hingga suatu hari, di tengah kesibukan karnaval desa, seorang warga meninggal dunia. Tanpa berpikir panjang, Ipin turun tangan langsung mengurus jenazah. Ia ikut memandikan, mengafani, menyalati, hingga mengantarkan ke pemakaman. Sejak saat itu, pandangan warga terhadapnya berubah total.

Sesuai nazarnya, setiap bulan Ipin menyalurkan seluruh gajinya sebagai kepala dusun sebesar Rp 4,3 juta, kepada 74 warga yang terdiri atas janda, duafa, dan anak yatim piatu. Ia menamakan program itu ”Tanda Tresna Mas Kasun”. Tak berhenti di situ, ia menambahkan dana pribadi dari pekerjaan MC dan bisnisnya hingga total bantuan per bulan mencapai sekitar Rp 7 juta.

”Saya ingin gaji ini bisa memberi manfaat bagi mereka yang membutuhkan,” ujarnya lirih. Ia tidak ingin penghargaan atas jabatannya datang dari piagam atau seremoni, melainkan dari rasa syukur warga yang merasakan kehadirannya.

Dua bulan sudah Ipin menjalani amanah itu. Setiap kali menyalurkan bantuan, ia teringat pesan ibunya jangan setengah-setengah dalam berbuat baik.

Di luar, suara motor Supra-nya kembali terdengar. Ia pamit sebentar hendak menengok warga yang rumahnya bocor. Hujan boleh datang dan pergi, tapi niat baiknya tak pernah redup. Ia kini benar-benar hidup di antara masyarakat, sebagaimana arti sejati dari pengabdian. (*/adn)

Editor : A. Nugroho
#kepala dusun #motivasi #Bumiaji #ambisi