Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Bertholomeus George Da Silva Konsisten Jaga Integritas dan Independensi Politik

Galih R Prasetyo • Selasa, 21 Oktober 2025 | 17:03 WIB
JAGA INDEPENDENSI: Pendiri Lembaga Analisis Politik dan Otonomi Daerah George da Silva memegang teguh integritas dalam setiap kariernya.
JAGA INDEPENDENSI: Pendiri Lembaga Analisis Politik dan Otonomi Daerah George da Silva memegang teguh integritas dalam setiap kariernya.

Kiprah George da Silva Pendiri Lembaga Analisis Politik dan Otonomi Daerah

 

Keinginan membantu pemerintah dan swasta, jadi pendorong Bertholomeus George da Silva mendirikan lembaga survei. Pada tahun 2000, harapan itu diwujudkan. Prinsip integritas jadi pegangan demi hasil survei tanpa rekayasa. 

GEORGE mengawali kariernya di Malang Raya antara 1989-1990. Saat itu, alumni Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) tersebut ditempatkan di salah satu media biro Malang. Kariernya terus berkembang di dunia jurnalistik hingga berhasil membuat koran sendiri sekitar 1995.

Lima tahun setelah itu, dia mendirikan lembaga survei. Bernama Lembaga Analisis Politik dan Otonomi Daerah. ”Melalui lembaga tersebut, saya ingin membantu pemerintah dan swasta secara ilmiah,” ucapnya.

Namun lembaga survei tersebut tidak berumur panjang. Sempat mati suri begitu George bertugas di Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kecamatan Wagir, Kabupatan Malang pada 2010 dan Panwaslu Kabupaten Malang sejak 2012 (sekarang disebut Bawaslu).

Itu akibat, saat bertugas di Bawaslu, dilarang untuk terlibat dalam kegiatan survei. Satu tujuannya, untuk menjaga netralitas. Dia bertugas di lembaga tersebut hingga 2023.

Setelah itu, pada Agustus kembali ke lembaga survei. Pada momen Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), dia melakukan survei masing-masing sebanyak dua kali di Kota Malang dan Kota Batu.

”Lembaga survei itu tidak bisa diintervensi siapapun. Hasil yang kami sampaikan sesuai dengan fakta di lapangan,” imbuhnya. Contohnya, menunjukkan data salah satu pasangan calon yang suaranya berpotensi kuat dan lemah cukup detail sampai di tingkat RT.

Lembaga survei miliknya mencantumkan nama, alamat, sampai nomor ponsel narasumber. Dalam hasil survei juga dicantumkan rekomendasi yang dapat dilakukan Paslon saat ingin memenangkan Pilkada. Dalam  melakukan survei, alumni Pascasarjana Sosiologi Konsentrasi Sosial Politik S2, S3 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu mengerahkan puluhan surveyor.

George juga menulis beberapa buku, antara lain Anggaran Publik Pemerintah Daerah, Politik Martabat, Identitas dan Kebencian, Aktor Politik Rent Seeking Partai Politik, Aktor Politik Grab Mentality Partai Politik, dan Kecurangan Oknum Penyelengara Pemilu 2024 se-Indonesia.

Saat survei Pilkada di Kota Malang misalnya, karena butuh sekitar 500 narasumber, dia menggunakan 75 surveyor yang dilengkapi surat tugas. ”Sebelum turun ke lapangan, kami memberikan pembekalan. Cara  berkomunikasi dengan narasumber hingga menekankan surveyor harus jujur dan berintegritas, Indepedensi politik,” kata penulis disertasi Politik Investasi Sosial dalam Pemilihan Anggota Legislatif.

Dalam satu survei bisa berlangsung selama tujuh hari. Kemudian tujuh hari berikutnya dimanfaatkan untuk proses analisis hasil survei. Ketika sudah tuntas, baru dipresentasikan kepada Paslon atau wartawan. Saat survei di Kota Malang dan Batu, hasilnya sesuai seperti Pilkada.

”Berdasar hasil survei kami, bisa disimpulkan, masyarakat kita masih termasuk pemilih pragmatis, masih belum berpikir siapa yang memimpin mereka. Melainkan siapa yang banyak memberi,” Ungkap George, Penulis Tesis Manuver Aktor Politik Martabat Grey Area (area abu-abu) Pada Pilkada.  (yun/gp)

Editor : A. Nugroho
#otonomi daerah #George #Analisis Politik #NTT #UMM