Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kegigihan Ratna Ari Sandhy Mempertahankan Eksistensi Wayang Kulit

Aditya Novrian • Rabu, 22 Oktober 2025 | 17:08 WIB
CINTA BUDAYA: Ratna Ari Sandhy menunjukkan salah satu wayang buatannya dengan karakter Nakula dan Sadewa.
CINTA BUDAYA: Ratna Ari Sandhy menunjukkan salah satu wayang buatannya dengan karakter Nakula dan Sadewa.

Berinovasi Bikin Figur dalam Bentuk Gantungan Kunci

Ratna Ari Sandhy tetap bertahan di tengah menurunnya minat masyarakat pada seni tradisional. Sejak 2016, ia konsisten membuat wayang kulit dan mengirimkan karyanya hingga luar negeri. Hal itu jadi bentuk kecintaannya untuk menjaga warisan budaya agar tidak punah.

DI RUANG tamu sebuah rumah yang asri di kawasan Villa Gunung Buring, Kecamatan Kedungkandang, deretan tokoh Pandawa Lima berdiri anggun di atas rak kayu jati. Arjuna dengan sorot matanya yang teduh, Bima yang gagah, Yudistira yang berwibawa, serta si kembar Nakula dan Sadewa, seolah hidup dalam senyum lembut cahaya sore yang menembus kaca jendela.

Wayang-wayang kulit berukuran 25 hingga 35 sentimeter itu bukan sekadar pajangan. Mereka adalah karya tangan halus Ratna Ari Sandhy. Seorang perempuan yang memelihara denyut tradisi di tengah hiruk pikuk modernitas Kota Malang.

Ratna memulai perjalanan panjangnya sebagai perajin wayang kulit pada 2016. Bukan dari latar seni pedalangan, melainkan dari kegemarannya menatap dan mempelajari keindahan wayang. Sebelumnya, ia bersama sang suami, Ayusta Kurniawan Sarwidyahanto, menekuni kerajinan tangan dari bahan tembaga dan rajut.

Namun kecintaannya terhadap wayang membuatnya beralih haluan, menapaki dunia yang sarat filosofi itu dengan penuh kesungguhan. ”Di Kota Malang tinggal dua perajin wayang kulit. Satu di Sawojajar, satu ya saya ini,” ujarnya sambil tersenyum.

Setiap tokoh wayang ciptaannya dibuat dari kulit kambing pilihan. Prosesnya tak sebentar, setidaknya butuh waktu seminggu untuk menyelesaikan satu figur. Dari proses pengeringan kulit, pengukiran pola, hingga pewarnaan detail yang presisi, semuanya dikerjakan dengan tangan dan hati.

Maka tak heran bila pelanggan yang menginginkan karya Ratna harus rela menunggu. Wayang buatannya tak banyak dikenal di Kota Malang, namun justru populer di luar daerah dan bahkan di mancanegara.

Pesanan datang dari Boyolali, Jogjakarta, dan Solo. Sementara dari luar negeri, permintaan datang dari Inggris, Amerika Serikat, Australia, Korea Selatan, hingga Jepang. ”Kalau yang dari luar negeri, biasanya digunakan untuk media pembelajaran atau koleksi pribadi,” tutur Ratna.

Ukuran wayang yang ia hasilkan bervariasi. Dari yang mungil setinggi 25 sentimeter hingga yang besar mencapai 60 sentimeter. Ia juga kerap menerima pesanan dengan ukuran dan karakter khusus sesuai keinginan pelanggan.

Tokoh-tokoh yang paling banyak diminati tetap Pandawa dan Punakawan, dua kelompok yang menjadi jiwa kisah Mahabharata dan pewayangan Jawa. Sesekali, nama besar seperti Kumbakarna dan Trijata juga dipesan untuk menambah koleksi.

”Pernah dalam sebulan saya bisa membuat 20 wayang besar, belum termasuk yang kecil. Total bisa ratusan kalau lagi ramai,” kenangnya.

Namun masa-masa ramai itu kini mulai meredup. Seiring berkurangnya pementasan wayang kulit di berbagai daerah. Jumlah pesanan dari grup kesenian pun ikut menurun. Ratna tak ingin menyerah pada keadaan. Ia berusaha mencari cara agar seni yang dicintainya tetap hidup.

Salah satu langkahnya adalah berinovasi dengan membuat berbagai suvenir bertema wayang, seperti gantungan kunci, anting-anting, dan miniatur kecil yang mudah dibawa. Produk-produk itu kini banyak dipesan oleh sekolah maupun lembaga kebudayaan yang hendak melakukan pertukaran budaya ke luar negeri.

”Kalau suvenir, saya bisa produksi setiap hari. Ini yang membuat dapur tetap ngebul,” ujarnya ringan.

Di balik senyumnya yang teduh, Ratna menyimpan keprihatinan mendalam. Ia tahu, peminat wayang kulit semakin menurun dari tahun ke tahun. Satu per satu perajin beralih profesi. Tak hanya di Malang, tapi di berbagai kota lain di Jawa.

Banyak kelompok kesenian yang akhirnya menjual wayang koleksi mereka. Menandai surutnya masa keemasan seni tradisi ini. ”Banyak teman perajin yang akhirnya berhenti. Mereka bilang sudah tidak laku. Tapi bagi saya, ini bukan sekadar soal laku atau tidak, melainkan tentang warisan budaya yang harus dijaga,” ucapnya dengan mata yang menatap tajam.

Ratna juga pernah menerima cibiran. Ada yang menanyakan untuk apa membuat wayang di era digital ini, siapa yang masih mau membeli, siapa yang masih peduli. Tapi cibiran itu justru menjadi bahan bakar semangatnya.

”Kalau berpikir untuk gulung tikar, saya rasa tidak. Ini bukti kecintaan dan cara saya melestarikan budaya. Selama tangan saya masih bisa bekerja, wayang akan tetap saya buat,” katanya mantap.

Bagi Ratna, menjadi perajin wayang bukan sekadar pekerjaan. Namun bentuk bakti dan perlawanan kecil terhadap arus globalisasi yang kian deras. Ia ingin anak-anak muda, generasi Z yang tumbuh dengan budaya pop dan musik K-Pop, tak lupa bahwa mereka punya warisan luar biasa.

”Jangan sampai anak-anak hanya tahu budaya luar. Melalui wayang, saya ingin mereka tahu bahwa kita punya karya besar yang mencerminkan jati diri bangsa,” pungkasnya.

Di antara bau kulit kering dan cat tradisional yang memenuhi ruang kerjanya, Ratna terus mengukir setiap tokoh dengan kesabaran yang tak lekang. Dalam tiap goresan tatah dan warna, tersimpan doa agar wayang dan semua nilai kehidupan di dalamnya tak sekadar tinggal nama. Karena baginya, selama masih ada satu tangan yang setia menatah kulit menjadi cerita, seni wayang akan terus hidup, menembus waktu dan generasi. (*/adn)

Editor : A. Nugroho
#warisan budaya #seni tradisional #wayang kulit