Pilih Kayu Nangka untuk Ciptakan Suara Terbaik
Selama enam dekade, Diono setia menabuh dan membuat gendang dari rumahnya. Lelaki 75 tahun itu bukan hanya perajin, tapi juga penjaga tradisi karawitan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dari tangannya, suara gendang menjadi pengingat bahwa seni tradisi masih hidup di tengah perubahan zaman.
SUARA gendang terdengar lirih dari sebuah pendopo kecil di tepi jalan Desa Putungsewu, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. Di sana ada Diono, lelaki sepuh berusia 75 tahun. Di halaman rumahnya, kulit sapi dijemur di atas papan kayu, sementara potongan kayu nangka berserakan di dekat tungku.
Semua itu bahan untuk menciptakan gendang. Alat musik yang sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak enam dekade silam. Nama Diono tak asing bagi para seniman karawitan di Malang Raya.
Dari pentas desa hingga panggung kota, dari acara hajatan hingga pertunjukan seni, kabar tentangnya menyebar dari mulut ke mulut. Ia dikenal bukan hanya sebagai pemain gendang yang piawai, tapi juga sebagai perajin yang menghasilkan bunyi khas kendang Malangan.
Yakni uara yang mampu menghidupkan irama gamelan. Kisah Diono dimulai pada tahun 1965 silam. Saat itu usianya baru 15 tahun. Masa ketika anak seusianya lebih banyak bermain di sawah atau membantu orang tua di ladang.
Namun Diono memilih jalan berbeda. Ia terpikat oleh suara gamelan yang menggema dari sebuah hajatan desa. Teman-temannya yang tergabung dalam kelompok karawitan sering mengajaknya tampil dari satu tempat ke tempat lain. Dari situlah kecintaannya pada seni tradisi tumbuh.
”Saya belajar karawitan secara otodidak,” kenangnya sambil tersenyum. Orang tuanya yang bekerja sebagai petani tak keberatan. Mereka justru bangga melihat anaknya bisa tampil di berbagai tempat, bahkan sampai keluar Kecamatan Wagir.
Dari Karangkates hingga Kota Malang, Diono muda menabuh gendang dengan semangat yang tak pernah padam. Tahun demi tahun berlalu dan Diono mulai berpikir untuk bisa memainkan gendang dengan baik.
Ia harus memahami alat itu lebih dalam termasuk bagaimana membuatnya. Pada awal 1980-an, ia mulai menekuni dunia pembuatan gendang. Tidak langsung bekerja sendiri, melainkan berguru pada beberapa perajin di Sukun, Kota Malang.
Di sana ia belajar mengenali karakter kayu, teknik mengeringkan kulit sapi, hingga cara merangkai gendang agar menghasilkan bunyi yang bulat dan dalam. ”Saya sering tidak pulang berhari-hari,” ujarnya.
Sang istri yang menunggunya di rumah hanya bisa bersabar. Mereka memiliki empat anak, namun Diono tetap setia menekuni pekerjaannya. Semua pengorbanan itu terbayar pada tahun 1995, ketika ia memutuskan membuka bengkel gendang di rumah sendiri.
Dari situlah, para seniman mulai berdatangan. Ada yang memesan, ada pula yang meminta perbaikan gendang. Lambat laun, rumah Diono berubah menjadi semacam sanggar mini tempat di mana tradisi dan ketekunan berpadu.
Diono membuat berbagai jenis gendang. Mulai dari gendang khas Malangan, ciblon, saget, dan tipung yang sering dimainkan dalam gamelan Jawa Tengah. Ia hafal betul setiap perbedaannya. Gendang Malangan misalnya, biasanya bermotif polos dengan suara lebih nendang. Sementara gendang dari Jawa Tengah cenderung memiliki ukiran pada permukaannya.
Ukuran gendang buatannya pun beragam. Ada yang berdiameter 28 sentimeter hingga 41 sentimeter dengan panjang sekitar 70 sentimeter. Untuk bahan, kayu nangka menjadi favoritnya. Kayu itu kuat, tidak mudah lapuk, dan menghasilkan suara terbaik.
Tak heran jika harga gendang dari kayu nangka bisa mencapai Rp 6 juta per buah. Sementara gendang dari kayu mangga atau mahoni dijual sekitar Rp 3,5 juta.
Pemasarannya tak hanya di Malang Raya. Beberapa pemesan datang dari luar Jawa, bahkan sampai Kalimantan. Meski begitu, Diono tak lagi memproduksi sebanyak dulu. ”Kalau dulu bisa lima gendang sebulan, sekarang tiga atau empat (gendang) saja,” ujarnya. Usia memang tak bisa ditipu, tapi semangatnya tetap menyala seperti dulu.
Selain membuat gendang, Diono masih aktif mengajar anak-anak muda yang ingin belajar karawitan. Ia juga kerap tampil dalam pertunjukan seni di sekitar Malang Raya. Baginya, menabuh gendang bukan sekadar pekerjaan, melainkan cara untuk menjaga tradisi agar tak lekang oleh waktu.
”Kalau bukan kita yang melestarikan, siapa lagi?” katanya lirih. Di tengah arus musik modern dan gempuran teknologi, Diono tetap teguh dengan kendangnya. Setiap ketukan yang ia hasilkan bukan sekadar bunyi, melainkan napas panjang dari kebudayaan Jawa yang masih hidup di sudut-sudut desa.
Dari tangannya, gendang bukan hanya alat musik. Tapi menjadi simbol ketekunan, kesabaran, dan cinta yang tak pernah pudar pada seni tradisi. Dan di pendopo kecil itu, suara gendang Diono terus berdentum. Tak sekadar mengiringi gamelan, tapi juga menandai bahwa semangat menjaga warisan budaya masih bergema di tanah Malang. (*/adn)
Editor : A. Nugroho