Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Naufal Hammam, Pemuda Asal Kota Batu Antarkan Indonesia Jadi Runner-Up Paralayang Dunia

Aditya Novrian • Rabu, 29 Oktober 2025 | 18:51 WIB
MEMBANGGAKAN: Naufal Hammam (kiri) bersama atlet Paralayang Indonesia meraih medali perak dalam ajang 13th World Paragliding Accuracy Championship di Kota Alanya, Turki, awal Oktober lalu.
MEMBANGGAKAN: Naufal Hammam (kiri) bersama atlet Paralayang Indonesia meraih medali perak dalam ajang 13th World Paragliding Accuracy Championship di Kota Alanya, Turki, awal Oktober lalu.

Cari Dana Sendiri demi Berangkat ke Turki

HEMBUSAN angin pantai Antalya, Turki, berdesir lembut di telinga Naufal Hammam. Parasutnya mengembang sempurna, melayang anggun di langit biru Laut Mediterania. Di bawah sana, titik pendaratan selebar 16 sentimeter menantinya.

Lingkaran kecil harus diinjak tepat di tengah. Sekejap, semua latihan panjang, rasa gugup, dan lelah seolah menyatu dalam satu tarikan napas. Dalam hitungan detik, kakinya menapak tanah. Tepat di sasaran.

Bagi Naufal, momen itu bukan sekadar keberhasilan mendarat. Itu adalah simbol perjuangan panjang seorang anak muda asal Kota Batu yang berani terbang tinggi menembus langit dunia. Bersama empat atlet lain, ia menjadi wakil Indonesia di ajang paling bergengsi di dunia paralayang, 13th World Paragliding Accuracy Championship yang digelar awal Oktober lalu.

Ajang ini setara dengan Piala Dunia-nya cabang olahraga paralayang. Puncak dari segala kompetisi. Tempat berkumpulnya para penerbang terbaik dari seluruh penjuru dunia.

Ia terpilih bukan karena keberuntungan. Keikutsertaannya didasarkan pada peringkat dunia dan saat itu namanya bertengger di urutan ke-20. Sejak Mei lalu, ia sudah berlatih keras untuk beradaptasi dengan medan angin pantai yang konstan. ”Kalau di Batu, angin gunung kadang kencang, kadang mati. Di pantai justru stabil, jadi tantangannya lebih pada ketepatan mendarat,” ujarnya.

Namun di balik gemerlap kejuaraan dunia, perjuangan Naufal menuju Turki tak semulus lintasan terbangnya. Dari total biaya perjalanan sekitar Rp 20 juta, ia hanya mendapat subsidi Rp 5 juta dari pengurus pusat.

Selebihnya, ia harus mencari sendiri. Mengetuk pintu sponsor, mengandalkan jejaring teman, hingga mengumpulkan tabungan pribadi. ”Untung ada dua sponsor yang bantu. Kalau tidak, mungkin saya tidak bisa berangkat,” kenangnya sambil tersenyum tipis.

Begitu tiba di Turki, Naufal tak butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri. Ia cepat membaca arah angin, cepat memahami karakter udara pantai, dan cepat menyesuaikan gaya terbang.

Di kategori individu, langkahnya terhenti di babak akhir dengan posisi ke-12 dari puluhan atlet dunia. Tapi semangatnya belum padam. Di nomor beregu, tim Indonesia tampil solid. Menembus 12 ronde sebelum akhirnya finis di posisi kedua. Hanya terpaut satu poin dari Kosovo, dan kalah tipis dari juara bertahan Tiongkok.

”Kami dapat 43 poin, Tiongkok 27 (poin). Memang mereka jauh di atas, tapi buat kami posisi dua itu sudah luar biasa,” tutur Naufal.

Meski belum membawa pulang medali emas, ia tetap menepuk dada bangga. Sebab capaian itu bukan sekadar angka. Melainkan bukti bahwa anak muda Indonesia bisa bersaing di panggung dunia.

Perjalanan Naufal sesungguhnya sudah dimulai sejak lama. Darah paralayang mengalir dari kedua orang tuanya yang hobi terbang di langit Batu. Dari situlah rasa ingin tahunya tumbuh. Namun karena masih kecil, ia baru benar-benar belajar terbang ketika duduk di bangku SMP.

Di usia belasan tahun, ia sudah terbiasa melihat pemandangan dari ketinggian ribuan kaki. Bakatnya makin terasah ketika ia berkenalan dengan Ismoyo, instruktur paralayang asal Batu yang juga pelatih atlet nasional.

”Beliau bilang, kalau serius mau jadi atlet, pindah ke Batu saja. Di sana tempatnya latihan terbaik,” ujar pemuda kelahiran Lombok itu. Saran itu ia jalankan dengan tekad bulat. Tahun 2020, ia memutuskan pindah ke Batu untuk menimba ilmu dan menempuh latihan intensif. Dua tahun kemudian, medali pertamanya diraih di Liga Jatim Seri 2 Tuban 2022. Sejak itu, prestasinya mengalir deras. Di antaranya Liga Jatim Seri 3 dan 4, Porprov 2023, hingga Trip of Indonesia 2023.

Meski sempat gagal membawa medali di AFA Asian League 2023 karena gugup tampil di luar negeri, pengalaman itu menjadi bekal mental. Tahun berikutnya, ia membalas dengan gemilang. Di World Champion Paragliding Thailand, ia menyabet medali perak di nomor individu dan perunggu di kategori lainnya. Nama Naufal Hammam pun mulai diperhitungkan di kancah Asia.

Kini, setelah sukses di Turki, Naufal tak ingin berhenti. Target berikutnya sudah ia pasang. Kejuaraan Asia di Thailand tahun depan dan Kejurnas pada November mendatang. ”Saya ingin terus terbang, terus belajar, sampai bisa membawa medali emas dunia untuk Indonesia,” katanya mantap.

Langit, bagi Naufal, bukan batas. Melainkan ruang luas yang memanggilnya untuk terus terbang lebih tinggi. Setiap hembusan angin, setiap mendarat di titik sempurna, adalah bukti bahwa mimpi yang diiringi tekad bisa membawa seseorang melampaui segala batas. (*/adn)

Editor : A. Nugroho
#atlet paralayang #Kota Batu #turki #olahraga paralayang