Kejar Ketertinggalan Materi Pelajaran lewat Kelas Tambahan
UDARA dingin khas Kota Batu menyelimuti langit malam ketika suara azan isya berkumandang dari kejauhan. Dari balik tembok Pondok Pesantren Dar Ummahatil Mukminin, lantunan doa para santri menggema lembut mengisi ruang sunyi di bawah cahaya lampu yang temaram.
Pondok di Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu itu ibarat taman surga di tengah dunia yang berisik. Lokasinya menjorok, berdekatan dengan lahan kosong, diapit pemandangan gunung yang berdiri megah seperti penjaga sunyi. Dari balik temboknya, ratusan santri menimba ilmu agama.
Mereka datang dari berbagai penjuru negeri bahkan mancanegara seperti Malaysia, Singapura, Qatar, hingga Yaman. Suara tadarus sering terdengar hingga larut malam berpadu dengan desir angin gunung yang lembut.
Salah satu penghuni pondok itu, Sharifah Nurdamia Insyirah, punya kisah yang lebih dari sekadar menimba ilmu. Kisahnya adalah perjalanan panjang antara tekad, air mata, dan ujian kesabaran.
Gadis 17 tahun asal Malaysia itu datang ke Indonesia pada Mei 2024. Bersama ibunya, Nur Fariza dan keluarga, Damia menapakkan kaki di Tanah Air dengan semangat membara. Ia memilih belajar di pondok tersebut karena bercita-cita melanjutkan studi ke Tarim, Hadhramaut, Yaman.
Kota suci yang dikenal sebagai Kota Seribu Wali. Pengasuh pondok Ustadzah Maha Baagil juga pernah menimba ilmu di sana. Namun, semangat itu langsung diuji ketika Damia tiba di Bandara Internasional Juanda, Surabaya. Petugas imigrasi mengingatkan bahwa izin tinggalnya hanya sebulan.
Visa yang ia miliki bukan visa pelajar, melainkan visa wisata. Maka dimulailah perjalanan panjang mengurus visa pelajar yang tak kunjung selesai.
Pihak pondok membantu untuk membantu proses administrasi. Awalnya semua berjalan baik. Tapi setiap kali masa tinggal hampir habis, Damia harus kembali ke Malaysia untuk memperpanjang izin. Bayangkan, sebulan sekali ia harus menempuh perjalanan udara sendiri. Surabaya-Kuala Lumpur, lalu kembali lagi ke Batu.
”Awalnya takut sekali, menangis, tapi saya harus belajar berani,” katanya lirih mengenang masa-masa awal. Perjalanan itu menguras tenaga dan biaya. Setiap bulan, keluarganya harus menyiapkan sedikitnya Rp 4 juta untuk tiket pesawat. Meski pihak pondok memaklumi kondisinya, Damia tetap berusaha tidak ketinggalan pelajaran.
Kadang ia tiba di pondok sore hari, lalu kembali ke bandara keesokan paginya. Tubuhnya lelah, tapi semangatnya tak pernah benar-benar padam Namun, pada September 2024, hatinya mulai goyah. Bersama ibunya, ia mempertimbangkan untuk berhenti belajar di Indonesia dan kembali ke Malaysia saja.
Tapi sang guru, Ustadzah Maha, menahannya dengan nasihat lembut namun tegas. ”Bersabarlah, akan ada kebaikan besar di balik semua ini,” pesan sang ustadzah, yang juga sahabat lama ibunya. Damia luluh. Ia memilih bertahan, meski untuk sementara waktu harus belajar secara daring dari Malaysia.
Dari September 2024 hingga Januari 2025, ia mengikuti kajian dan pelajaran pondok lewat layar kecil ponsel. Tapi cara itu punya konsekuensi berat, ia tertinggal banyak materi dan akhirnya harus tinggal kelas.
”Waktu kembali ke pondok pada Februari, saya minta tambahan pelajaran dari para ustadzah,” ujarnya tersenyum tipis.
Setelah itu, rutinitas bolak-balik antara Malaysia dan Indonesia kembali dijalani. Tubuh lelah, hati resah, tapi Damia tak berhenti berjuang. Hingga akhirnya pada Maret lalu, ujian baru datang.
Pihak ketiga yang selama ini membantu urusan visanya tiba-tiba menghilang. Nomor WhatsApp-nya tidak aktif, semua pesan tak terbaca. Padahal, ibunya sudah mengirim uang hingga Rp 10 juta. Mereka sadar, telah ditipu.
Tangis tak bisa dibendung. Tapi seperti biasa, Damia tak ingin larut dalam duka. Ia dan pihak pondok segera mencari cara lain. Proses baru dimulai dari awal, dengan doa dan harapan yang nyaris terkikis. Bulan demi bulan berlalu, sampai akhirnya pada 12 September 2025. Kabar gembira itu datang, visa pelajarnya disetujui.
”Alhamdulillah, setelah ini saya tak perlu pulang setiap bulan,” katanya sambil menatap halaman pondok yang mulai sepi malam itu. Senyum kecil mengembang di wajahnya yang teduh, mungkin untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Kini Damia bisa belajar dengan tenang. Tak ada lagi antre imigrasi, tak ada lagi penerbangan pulang-pergi yang melelahkan. Setiap subuh, ia kembali mendengar lantunan ayat suci dari kamar santri. Di sela kesibukan menghafal kitab dan mendengar kajian, ia sering menatap langit Batu yang cerah.
Damia masih menyimpan mimpi besar melanjutkan studi ke Tarim. Tapi sebelum ke sana, mungkin Allah ingin ia belajar sesuatu yang lebih dulu. Bagaimana menempuh perjalanan panjang dengan keyakinan, bukan sekadar langkah kaki. (*/adn)
Editor : A. Nugroho