HAMPARAN pasir putih Pantai Jomtien di Kota Pattaya, Thailand, bersinar keemasan di bawah sengatan matahari sore. Namun, di tengah hiruk-pikuk wisatawan, langkah seorang remaja asal Poncokusumo, Kabupaten Malang, tak sekalipun melambat. Nisrina Aira Firdaus justru berlari semakin kencang.
Napasnya tersengal, tapi matanya tajam, fokus menatap garis finis di depan sana. Di kejauhan, suara peluit terdengar bersahut-sahutan.
Itulah momen penentuan di Kejuaraan Modern Pentathlon tingkat Asia Tenggara, ajang bergengsi Union Internationale de Pentathlon Moderne (UIPM) 2025 South East Asian Championships yang digelar 18–20 Oktober lalu.
Di antara puluhan peserta dari delapan negara, remaja 15 tahun itu menjadi satu-satunya atlet Indonesia yang tampil paling ngotot. Bukan karena sekadar ambisi, melainkan tekad untuk membawa pulang medali pertamanya dari negeri orang. ”Saya cuma ingin buktikan bahwa latihan saya tidak sia-sia,” ujarnya pelan.
Kejuaraan di Pattaya adalah ajang internasional keduanya. Sebelumnya, Aira sudah menjajal atmosfer persaingan di seri Indonesia yang digelar di Jogjakarta, di mana ia berhasil menggondol dua perak. Catatan itu membuat Pengurus Pentathlon Indonesia meliriknya untuk turun di level Asia Tenggara.
Torehan prestasinya sepanjang tahun ini memang mencuri perhatian. Ia sedang dalam performa terbaik. Selama sebulan penuh sebelum berangkat ke Thailand, Aira mengasah diri tanpa kenal lelah. Setiap hari, dua jam penuh ia habiskan berlatih tiga cabang olahraga (cabor) utama.
Yakni lari, renang, dan menembak. ”Fokus saya waktu itu cuma satu, mempersiapkan diri sebaik mungkin,” katanya. Namun, begitu tiba di Negeri Gajah Putih, ujian berat langsung datang. Alat tembak miliknya mendadak rusak. Dua hari penuh ia tak bisa berlatih, hanya bisa menatap teman-temannya yang asyik menyesuaikan bidikan.
”Saya sempat drop. Rasanya seperti semua latihan saya hilang begitu saja,” kenangnya. Untung, pada hari pertandingan alat itu bisa diperbaiki. Tapi secara mental, ia belum pulih sepenuhnya. Saat lomba Laser Run, gabungan antara menembak dan berlari dimulai, ia tertinggal jauh di urutan terakhir.
Namun, Aira tahu betul kekuatannya bukan di nomor tembak, melainkan di lari. Begitu peluru terakhir lepas, ia langsung tancap gas, melesat menyalip satu per satu lawan hingga menyentuh finis di posisi pertama. ”Saya benar-benar tidak menyangka bisa dapat emas,” ujarnya sambil tersenyum lebar.
Kemenangan itu jadi suntikan semangat luar biasa untuk hari berikutnya. Ia turun di nomor Triathle. Gabungan lari, renang, dan menembak. Kali ini, strategi Aira lebih matang.
Ia tahu betul bagaimana mencuri waktu di bagian transisi, momen singkat ketika harus berpindah dari satu cabang ke cabang lain. ”Banyak peserta kehilangan fokus di situ. Saya justru manfaatkan untuk ambil momentum,” jelasnya.
Hasilnya, ia meraih perunggu. Yang membuat perjalanan Aira kian luar biasa adalah kenyataan bahwa ia baru mengenal pentathlon pada Februari 2024 lalu. Sebelumnya, ia adalah atlet renang murni yang sudah berkompetisi sejak 2020, termasuk di Indonesia Open 2022. Perpindahan cabang ini berawal dari saran pelatih renangnya, Farel Trisnanda.
”Waktu itu kuota renang untuk Porprov IX Jatim 2025 terbatas, jadi saya disarankan pindah ke pentathlon,” katanya.
Keputusan itu ternyata jadi titik balik kariernya. Dengan modal renang yang kuat dan kemampuan lari yang lumayan, Aira hanya perlu menyesuaikan diri dengan olahraga menembak bagian yang paling asing baginya. ”Awalnya saya bahkan tidak tahu cara membidik yang benar,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Tapi ia cepat belajar. Ia sadar bahwa skor menembak bisa jadi titik lemah, maka ia bertekad menutup kekurangan itu dengan performa maksimal di lari dan renang. Strateginya berhasil. Di event pertamanya sebagai atlet pentathlon, ia langsung menyabet empat medali dan berhak melaju ke Kejuaraan Asia Tenggara di Thailand.
Prestasinya pun berlanjut di Porprov IX Jatim 2025. Di mana ia membawa pulang tiga emas dan satu perak. Kontribusinya turut membantu Kabupaten Malang menjadi juara umum.
Kini, selepas pulang dari Pattaya dengan dua medali berharga emas dan perunggu. Aira belum ingin berhenti. Ia sudah mulai mengambil les menembak bersama pelatih Kabupaten Malang. Selain itu, ia juga tengah mempelajari cabang anggar, salah satu disiplin tambahan dalam pentathlon modern.
Targetnya jelas. Menambah koleksi medali di Kejuaraan Nasional 2026, sekaligus memperkuat peluang membela Jawa Timur di PON 2028.
”Keinginan saya sederhana, bisa terus berkembang dan berprestasi. Saya ingin buktikan kalau dari Poncokusumo juga bisa bersaing di level internasional,” ujarnya mantap. (*/adn)
Editor : A. Nugroho