Nikmati Satu Tahun Terakhir di Seksi Pemberdayaan Masyarakat
TANGAN Toton Taufan Poernomo bergetar saat menerima map tebal berisi lembar keputusan yang sudah lama ia nanti. Di panggung yang megah itu, dia berdiri tegak, tapi matanya berkaca-kaca.
Wali Kota Batu Nurochman melangkah mendekat. Keduanya berpelukan hangat. Di tengah gemuruh ruangan, air mata jatuh menandai akhir dari penantian panjang selama dua dekade.
Hari itu, 19 Mei 2025, menjadi titik baru dalam perjalanan hidup Toton. Pria 57 tahun itu resmi menyandang status Aparatur Sipil Negara (ASN) lewat jalur Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Status yang datang terlambat. Hanya setahun sebelum ia memasuki masa pensiun.
Namun bagi Toton, momen itu bukan sekadar pengangkatan jabatan. Melainkan pengakuan atas pengabdian panjang yang tak pernah putus.
”Saya tidak pernah berhenti berharap, tapi juga tidak berani terlalu berharap,” ucapnya lirih. Suaranya bergetar, seperti masih sulit percaya bahwa akhirnya ia bisa mencapai titik itu.
Cerita Toton dimulai jauh sebelum Kota Batu berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari kelompok kerja yang memperjuangkan pemekaran wilayah dari Kabupaten Malang. Tahun 2001, bersama beberapa rekan, ia ikut dalam tim yang disebut Pokja Peningkatan Status Kota Batu.
Saat perjuangan itu berhasil dan Batu ditetapkan sebagai daerah otonom, nama Toton mulai dikenal di lingkup pemerintahan setempat. Tahun 2005, Wali Kota Batu pertama, Imam Kabul, menawarinya menjadi tenaga honorer. Tanpa banyak pertimbangan, ia langsung mengiyakan.
”Saya cuma diminta foto, besoknya langsung kerja. Rasanya seperti mimpi,” kenangnya sambil tersenyum. Ia ditempatkan di Kelurahan Sisir bagian Pemberdayaan Masyarakat. Awalnya, ia tak banyak tahu soal administrasi, tapi cepat belajar. Satu per satu bidang ia kuasai. Mulai pemerintahan, kesejahteraan rakyat, hingga ekonomi.
”Setiap hari melihat warga datang ada yang mengurus kelahiran, pernikahan, bahkan kematian. Semua peristiwa hidup manusia, lewat di meja saya,” terang Toton.
Selama bertahun-tahun, Toton menjadi saksi bagaimana pelayanan publik tak hanya tentang berkas dan stempel, tapi juga empati dan kesabaran. Namun, di balik kesetiaannya, ia harus menghadapi kenyataan pahit.
Statusnya tak pernah berubah. Gaji pertamanya sebagai honorer hanya Rp 600 ribu per bulan. Jauh dari cukup untuk menafkahi keluarga kecilnya. Tapi ia tidak menyerah. Kesempatan menjadi PNS sempat datang pada 2014. Saat itu, pemerintah membuka pengangkatan tanpa tes.
Toton merasa yakin karena banyak posisi kosong akibat pensiun massal. Namun, harapannya pupus. Ia tak memenuhi kriteria karena masuk kategori K1, sementara yang diangkat hanya dari K2. ”Rasanya seperti gagal sebelum bertanding,” katanya pelan.
Waktu berjalan, satu per satu teman seangkatannya lebih dulu berstatus ASN. Toton tetap di posisinya, tetap datang pagi, tetap menyapa warga, tetap melayani dengan senyum yang sama. Hingga pada 2024, Pemkot Batu membuka seleksi PPPK. Ia mendaftar dengan harapan kecil, hanya ingin mencoba peruntungan.
Tahap pertama ia gagal. Nilainya belum cukup. Tapi kali ini ia tidak ingin menyerah. Ia belajar lagi, berlatih lagi, dan mencoba di tahap kedua. Hasilnya luar biasa. Toton meraih skor 487, tertinggi di antara peserta lain. ”Saya sampai tidak percaya saat pengumuman keluar,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Kini, setelah status baru itu resmi ia sandang, Toton merasa beban panjang terangkat. Ia tahu masa tugasnya tak lama lagi, tapi justru itulah yang membuatnya ingin menutup perjalanan dengan bermakna. ”Saya ingin masa terakhir ini digunakan sebaik mungkin. Saya ingin tetap bekerja untuk masyarakat, menyelesaikan apa yang belum selesai,” tuturnya.
Ia juga ingin memberi semangat kepada para tenaga honorer yang masih menunggu giliran. ”Jangan berhenti berbuat baik. Rezeki akan datang dengan caranya sendiri,” pesannya.
Di sisa waktu menuju pensiun, Toton ingin menikmati hal-hal sederhana yang dulu sering ia tunda. Sarapan bersama keluarga, menyiram tanaman di pagi hari, bercengkerama dengan cucu kecilnya. ”Pensiun nanti bukan akhir dari pengabdian, tapi awal dari kebahagiaan yang lain,” katanya menutup cerita.. (*/adn)
Editor : A. Nugroho