Sisihkan 19 Negara, Raih Dua Penghargaan Internasional
MALAM semakin larut, tapi delapan mahasiswa masih menatap layar komputer di salah satu gedung Universitas Brawijaya (UB). Sambil sesekali mengusap kelopak mata untuk menahan kantuk, mereka tetap melanjutkan menyusun laporan dan memeriksa ulang data.
Mahasiswa lintas fakultas itu ingin memastikan bahwa hasil riset sudah sesuai. Riset yang diikutkan dalam kompetisi internasional itu dinamai Arsenal of Programmed Microalgae for Advanced Tumor Immunotherapy via Logic-Gated Genetic Circuits (AMPAT).
Itu merupakan inovasi terapi kanker anak berbasis mikroalga rekayasa genetik. Caranya, mikroalga yang telah direkayasa secara genetik itu disuntikkan ke dalam pembuluh darah balik (vena) pasien.
Setelah masuk ke aliran darah, mikroalga akan melewati sistem imun tanpa terdeteksi karena telah dimodifikasi agar dapat “menyamar” dari respons tubuh. Begitu mencapai lokasi sel tumor, mikroalga mulai bekerja menyerang sel kanker secara langsung.
Selama ini, pengobatan kanker banyak yang menggunakan kemoterapi. Yakni tindakan untuk menghambat, bahkan membunuh pertumbuhan sel kanker. Biasanya, pasien yang menjalani kemoterapi mengalami beberapa efek.
Ada yang mudah lelah, mual dan muntah, penurunan nafsu makan, rambut rontok, sariawan, diare, bahkan gangguan saraf. Gejala yang dirasakan antar pasien tidak sama, tergantung kondisi masing-masing. Tapi dengan metode terapi menggunakan mikroalga, efek samping dapat diminimalkan.
Perjalanan menghasilkan inovasi tersebut tergolong terjal dan berliku. Awal Januari lalu, Melinda Cicilia Rany, mahasiswi Bioteknologi UB sekaligus ketua tim dan dua mahasiswa lain membentuk tim riset. Mereka punya ambisi mengikuti event Biomolecular Design Competition (BIOMOD) 2025 di Changchun, Tiongkok pada 17 Oktober lalu.
Selama ini memang belum pernah ada tim dari Indonesia yang berpartisipasi. Mereka paham betul bahwa tantangan itu penuh aral melintang. Butuh waktu berbulan-bulan untuk mencari rekan lintas disiplin agar riset berjalan komprehensif. Kemudian terbentuk tim berisi delapan mahasiswa.
Di antaranya Paulina Ranjita Gita Saputri dari teknik kimia, Vincenzio Jocelino, Zian Nora Berliana, Ahmad Gibran M., Ellen Oktaviona Yurianto dari bioteknologi, Rachmat Thirdi Maliki dari teknologi informasi, dan Intan Desi Purnomo dari sistem informasi. Nama timnya, SYNBIO UB. Lengkap dengan dosen pembimbing dari tiga fakultas.
Mulanya mereka ingin membuat riset mengenai mikroalga dalam membantu mengurangi pemanasan global. Namun di pengujung September, keraguan muncul. “Kami merasa riset ini belum cukup memberi dampak jangka panjang,” tutur ketua tim, Melinda.
Pertanyaan itu menjadi titik balik. Dari diskusi yang panjang, lahir lah gagasan baru. Mereka tak lagi fokus mikroalga untuk udara, melainkan mencari manfaat terhadap kesehatan manusia.
Alasannya karena ingin mempunyai riset yang bermanfaat bagi umat manusia. ”Kemudian lahir lah ide tentang terapi kanker anak berbasis mikroalga,” terangnya. “Kami sadar riset ini gila-gilaan, tapi kalau berhasil, bisa memberi harapan bagi banyak anak,” imbuh Melinda.
Langkah awal dimulai dengan bertemu dokter dan tenaga medis di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang. Salah satunya dr. A. Susanto Nugroho Sp A, spesialis kanker anak. Dari dialog tersebut akhirnya mereka mengetahui kenyataan pahit bahwa selama ini pengobatan kanker anak masih sangat terbatas.
Kemoterapi, yang menjadi pengobatan utama, sering kali menimbulkan efek samping berat seperti rambut rontok, muntah, dan penurunan imun. “Selain berat menanggung rasa sakit, anak-anak pejuang kanker banyak yang kehilangan semangat setelah melihat perubahan fisik akibat terapi,” timpal Paulina yang ditemui bersama anggota tim lainnya.
Mereka kemudian mengunjungi komunitas Sahabat Anak Kanker (SAK) Malang yang menjalani pengobatan di RSSA. Di sana mereka bertemu 15 pasien anak. Sebenarnya ada 30 pasien anak, namun sisanya menjalani pengobatan. Mereka berkunjung tiga kali sepanjang riset itu berjalan.
Selama bertemu pasien anak, mereka mengamati dan mengatur arah perbincangan agar menyenangkan. Tim SYNBIO juga berdiskusi dengan Nafisa Mutadiah, analis di Laboratorium Riset Terpadu UB serta perwakilan AMSA.
“Waktu melihat mereka (anak-anak penderita kanker), kami sadar riset ini bukan sekadar proyek lomba, tapi juga tentang harapan,” ujar Vincenzio Jocelino, anggota tim yang ikut menimpali.
Mereka juga berdiskusi dengan Dr dr Nur Samsu Sp PD-KHOM FINASIM, seorang dokter spesialis kanker anak di RS Saiful Anwar Malang. Termasuk tenaga ahli dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan ginjal dan hipertensi. Serta anggota Fellow of the Indonesian Society of Internal Medicine (FINASIM).
Beberapa kali berkomunikasi dengan pasien anak maupun dokter ahli pengobatan kanker, empati mereka semakin dalam. Mereka tahu bahwa di balik data dan istilah ilmiah, ada nyawa dan perasaan manusia yang ingin diselamatkan.
Melalui riset ini mereka merumuskan mikroalga jenis chlamydomonas reinhardtii direkayasa agar mampu menghasilkan oksigen tepat di area kanker. Kemudian mengurangi kondisi hipoksia yang membuat terapi kanker sering tidak efektif.
Mereka memilih mikroalga bukan tanpa alasan. Selain berdasar hasil riset dan berbagai jurnal yang mereka baca, juga karena Indonesia merupakan negara maritim. “Ini juga jadi pembeda riset kita dengan negara lain,” imbuhnya. Total ada 19 negara yang bersaing dalam kompetisi tersebut.
Selain itu, sistem logic-gate RNA dirancang agar mikroalga hanya aktif ketika biomarker kanker terdeteksi. Dengan begitu, efek terapi menjadi lebih spesifik dan minim efek samping. “Kami ingin terapi yang tidak menyiksa tubuh dan jiwa anak,” ujarnya.
Berkat riset tersebut, mereka meraih dua penghargaan sekaligus. Yaitu 3rd Winner Most Audience Favorite Project dan Bronze Project Award Outstanding Project Contents. Anggota tim langsung bersorak bahagia ketika UB disebut oleh tim juri sebagai salah satu pemenang.
“Kami bukan cuma ingin menang. Kami ingin anak-anak (pengidap kanker di RSSA) tahu bahwa semangat mereka menginspirasi dunia,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Prestasi itu bukan sekadar medali, tapi bukti bahwa semangat kolaborasi dan empati bisa melahirkan inovasi besar.
Namun riset ini masih tahap konseptual dan memerlukan waktu panjang menuju uji klinis. “Masih banyak PR (pekerjaan rumah) yang harus dituntaskan. Tapi setidaknya, kami sudah menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia bisa berinovasi untuk kemanusiaan,” kata mereka kompak.
Setelah meraih penghargaan, mereka berkeinginan menindaklanjuti riset tersebut. Anggota tim juga terus berkomunikasi dengan dosen pembimbing agar hasil riset dilanjutkan ke uji laboratorium. ”Kami bercita-cita agar suatu hari nanti, anak-anak penyintas kanker bisa sembuh tanpa rasa sakit, tanpa kehilangan senyum masa kecilnya,” terangnya.(*/dan)
Editor : A. Nugroho