Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Warga Kecamatan Kedungkandang Kenang Hamid Rusdi lewat Aksi Teatrikal

Bayu Mulya Putra • Selasa, 11 November 2025 | 16:10 WIB
RANGKUL ANAK-ANAK MUDA: Warga Kelurahan Wonokoyo, Kecamatan Kedungkandang melakukan aksi teatrikal pertempuran antara warga pribumi dengan pasukan Belanda di depan monumen Hamid Rusdi, kemarin (10/11)
RANGKUL ANAK-ANAK MUDA: Warga Kelurahan Wonokoyo, Kecamatan Kedungkandang melakukan aksi teatrikal pertempuran antara warga pribumi dengan pasukan Belanda di depan monumen Hamid Rusdi, kemarin (10/11)

MALANG KOTA - Memori pertempuran melawan pasukan Belanda di Kelurahan Wonokoyo, Kecamatan Kedungkandang 76 tahun silam coba dibangkitkan, kemarin (10/11). Aksi teatrikal dilakukan bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan. Pertempuran itu memang cukup ikonik.

Sebab, saat itulah pejuang asli Malang yang bernama Hamid Rusdi gugur. Untuk mengenang perjuangan beliau, puluhan warga melakukan aksi teatrikal di depan monumen Hamid Rusdi. Teatrikal dimulai dengan penggambaran kehidupan pedesaan yang damai dan tenang.

Anak-anak bermain permainan tradisional di halaman rumah, sementara orang tua mereka berkebun atau menjual hasil panen di pasar. Ketenangan itu sirna ketika sebuah mobil jip datang dan tentara di atasnya mulai menembaki siapa pun warga yang tidak mau tunduk kepada pasukan Belanda.

Beberapa korban berjatuhan, lalu datang prajurit dari warga lokal yang dipimpin Hamid Rusdi. Kedua kubu saling adu tembak dan prajurit dari Malang berhasil memukul mundur pasukan Belanda.

Mereka bisa menembak mati panglima yang memimpin pasukan Belanda dan antek-anteknya. Untuk merayakan keberhasilan itu, penduduk setempat memanjat tiang bendera. Mereka menyobek warna biru pada bendera Belanda.

Lalu bersama-sama kembali mengibarkan bendera merah putih disertai nyanyian lagu Indonesia Raya. ”Demi mengenang perjuangan itu, saat ini kami masih menyusun berkas untuk pengajuan Hamid Rusdi sebagai pahlawan nasional,” ujar Wali Kota Malang Wahyu Hidayat.

Dia menyoroti peran penting Hamid Rusdi yang memimpin dan menghidupkan semangat Arek Malang untuk melawan. Selain itu, Hamid Rusdi juga menjadi pencetus boso walikan yang hingga saat ini menjadi identitas Kota Malang.

Wahyu bercerita, dulu bahasa walikan digunakan Hamid Rusdi untuk mengelabui lawan. Terutama saat ada beberapa antek-antek Belanda yang merupakan orang Jawa. Bahasa itu masih sangat populer hingga kini di kalangan masyarakat Malang.

Lebih lanjut, Suhartono sebagai Tokoh Masyarakat Wonokoyo mengaku latihan teatrikal itu cukup singkat. Mereka menyiapkan cerita hingga menentukan pemeran dalam kurun waktu 10 hari. Para pemeran mayoritas anak muda karena tujuan awalnya untuk menanamkan semangat pejuang.

”Dengan diajak main drama langsung begini, diharapkan anak-anak bisa menjiwai perjuangan nenek-buyutnya dulu,” ujar Suhartono.

Dia berharap para generasi muda paham bahwa orang zaman dulu rela mengorbankan darah dan nyawa untuk kemerdekaan. Saat ini, tugas mereka sedikit berbeda. Yakni mengorbankan pikiran dan tenaga untuk keluarga, lingkungan, dan negara. (aff/by)

Editor : A. Nugroho
#malang #Boso Walikan #hari pahlawan #wali kota malag