Tertantang Garap Project di GWK dan Candi Prambanan
SUASANA lantai tiga sisi utara Malang Creative Center (MCC) tampak tidak seperti biasanya. Ruangan yang sebelumnya kosong dan sering dipakai untuk acara multifungsi itu berubah wujud total. Lampu-lampu lembut berpadu dengan lantunan musik santai, sementara proyeksi warna-warni menari di dinding.
Sejak 5 November 2025, tempat itu menjelma menjadi Point On View (POV) Cafe. Sebuah kafe sementara yang tak sekadar menyajikan kopi dan kudapan. Tapi juga pengalaman visual yang memanjakan mata dan menggugah rasa penasaran.
Begitu melangkah ke dalam, pengunjung disambut dua suasana berbeda. Di area outdoor, karpet sintetis hijau membentang,berpadu dengan taplak meja motif piknik yang mengundang siapa pun untuk duduk santai. Rasanya seperti sedang berlibur di taman atap yang menghadap langit sore.
Sementara di area indoor, suasana lebih artistik. Meja dan kursi tertata rapi di bawah cahaya temaram. Seolah mempersilakan tamu menikmati secangkir kopi sambil menyelami dunia digital yang berkilau di sekeliling mereka.
Namun, pesona utama POV Cafe bukan pada furnitur atau menunya. Melainkan pada permainan visualnya. Di kedua area, pengunjung disuguhi video mapping, teknik artistik yang memproyeksikan animasi dan video digital ke permukaan tiga dimensi.
Kadang dinding tampil seperti kanvas yang hidup, berubah warna setiap detik. Kadang pula lantai seolah menjadi permukaan air beriak dengan pantulan cahaya yang memukau. Setiap desainnya berbeda. Ada yang berani dengan warna-warna vibrant. Ada pula yang lembut dan memikat mata.
Selesai menyeruput minuman, pengunjung bisa melangkah ke belakang ruangan menuju immersive room. Ruang khusus tempat cahaya, animasi, dan suara berpadu menjadi pengalaman multisensori. Di sinilah banyak orang tak tahan untuk tak berfoto.
Dalam satu kali kunjungan, pengunjung bisa mendapat suasana yang berbeda-beda. Dari taman piknik digital hingga ruangan yang tampak seperti melayang di tengah galaksi.
Siapa sangka, kafe seartistik itu bermula dari ide seorang animator bernama Danar Tri Yudhistira. Lelaki kelahiran Banyuwangi itu sudah menapaki dunia animasi sejak 2004, saat ia menempuh studi di Sekolah Tinggi Multimedia Indonesia (Stimmindo) Malang.
Ia terus mengasah kemampuan hingga akhirnya mendirikan Holution Creative Studio pada 2012. Keinginannya sederhana, tapi ambisius. Membawa animasi keluar dari layar.
”Saya ingin animasi tak hanya ditonton di televisi, tapi bisa hidup di ruang-ruang publik,” ujarnya.
Inspirasi itu muncul setelah ia berkunjung ke sebuah acara di Jakarta dan menyadari bahwa animasi bisa menjadi bagian dari media art. Seni yang menggabungkan teknologi, ruang, dan pengalaman visual.
Dari situlah, Danar mulai bereksperimen dengan berbagai software dan perangkat proyeksi. Karya pertamanya datang lewat proyek video mapping untuk panggung HUT Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada 2012.
Saat itu, ia semula hanya diminta membuat animasi untuk backdrop panggung. Namun karena keterbatasan LED berukuran besar di masa itu, Danar dan timnya menawarkan konsep baru. Dekorasi panggung dipadukan dengan proyeksi animasi.
Dalam waktu dua pekan, mereka menciptakan pertunjukan visual yang membuat banyak pihak terkesima. Kabar tentang karyanya cepat menyebar. Dari Jakarta, permintaan datang dari berbagai agensi dan event organizer.
Holution Creative Studio pun tumbuh menjadi salah satu pelopor video mapping di Indonesia. Kliennya datang dari berbagai daerah, dari lembaga pendidikan hingga perkantoran, bahkan pondok pesantren.
Salah satu proyek yang paling berkesan bagi Danar adalah ketika ia membuat animasi pembelajaran untuk Pondok Modern Gontor. ”Kami banyak dilibatkan dalam penyusunan kontennya, jadi terasa lebih hidup dan bermakna,” tuturnya. Tak berhenti di situ, kiprah Danar juga sampai ke ajang internasional.
Ia ikut menangani proyek video mapping untuk Konferensi G20 di Bali. Bersama timnya, ia menembakkan proyeksi sejauh seratus meter di Garuda Wisnu Kencana (GWK) dan Candi Prambanan. Rekor terjauh yang pernah mereka kerjakan. ”Prosesnya rumit, alatnya pun khusus. Tapi hasilnya sepadan,” katanya sambil tersenyum bangga.
Harga jasanya pun bervariasi, tergantung skala dan kompleksitas proyek. Untuk event kecil, tarifnya sekitar Rp 100 juta. Namun pernah pula Holution menangani festival kenegaraan di Timor Leste dengan nilai proyek mencapai Rp 600 juta. Semua itu membuktikan bahwa karya anak Malang bisa bersaing di level internasional.
Kini, Danar tak ingin berjalan sendiri. Ia membuka kesempatan bagi generasi muda untuk belajar di studionya. Sekitar delapan orang kini bekerja bersamanya, sementara beberapa mantan anak didiknya telah mendirikan studio sendiri. Di Holution, mereka tak hanya diajarkan teknik animasi, tapi juga pemahaman soal engineering dan pemrograman.
Ke depan, Danar punya mimpi yang lebih besar. Membangun platform digital bagi para kreator media art Indonesia. Platform yang bukan hanya memamerkan karya, tapi juga menjadi ruang promosi, kolaborasi, bahkan jual beli karya seni digital.
Sementara itu, Point On View Cafe di MCC menjadi langkah kecil untuk memperkenalkan dunia itu ke publik. Sebuah ruang di mana kopi, cahaya, dan teknologi bersatu menciptakan pengalaman baru bagi warga Malang. (*/adn)
Editor : A. Nugroho