Manuskrip Resep Parfum Raja-Raja Bertahap Diterjemahkan
DI LANTAI dua rumahnya, Lulut Edi Santoso punya dunia kecil yang sunyi berisi jejak masa lalu. Ruangan seluas enam meter persegi itu disulapnya menjadi perpustakaan mini.
Rak-rak kayu memenuhi dinding memuat lebih dari dua ribu buku dan naskah kuno dari berbagai bahasa. Mulai bahasa Jawa, Arab, Inggris, hingga Indonesia. Aroma kertas tua dan tinta celup menjadi keseharian Lulut di masa pensiunnya.
Mantan guru SMAN 3 Malang itu menghabiskan hari-harinya di sana. Meja kayu di pojok ruangan menjadi saksi rutinitasnya membaca, meneliti, dan menerjemahkan naskah kuno. Di antara tumpukan koleksi, beberapa waktu lalu Lulut menemukan satu naskah yang membuatnya tertegun. Sebuah kitab berjudul Lisa Wangi.
Naskah berukuran kecil itu tampak rapuh. Kertasnya menguning, beberapa pojok berlubang karena rayap. Namun tulisan di dalamnya masih jelas terbaca. Tinta celup yang digunakan tampak kuat menembus waktu.
Sementara beberapa halaman dihiasi ilustrasi bahan-bahan parfum berwarna lembut. Seolah dibuat dengan pensil warna.
”Ini unik sekali. Sepanjang saya mengoleksi naskah, baru kali ini menemukan kitab yang membahas secara rinci soal parfum,” tutur Lulut sembari membuka lembar demi lembar naskah itu dengan hati-hati.
Di halaman pertama tertulis aksara Jawa baru dengan pengesahan bertanggal 5 Desember 1939 oleh seorang bernama Nyai Teberi. Nama penulisnya belum diketahui. Begitu pula asal kerajaan atau daerah naskah itu.
Untuk memahami isinya, pria 61 tahun itu menggandeng Brian Ardiansyah, alumnus Universitas Negeri Malang (UM) membantu proses penerjemahan. Sejak kalimat pembuka, Lisa Wangi langsung memikat. Naskah itu berisi resep pembuatan parfum yang digunakan khusus oleh raja-raja.
Ada tiga belas jenis minyak wangi lengkap dengan bahan dan fungsinya. Misalnya, minyak Tandono Raje yang dipakai saat sang raja menghadiri pertemuan di keraton. Atau Jebat Kasturi untuk kegiatan sehari-hari.
Sementara Campurbau Ratusan digunakan setelah raja mandi saat ritual ngukup nyamping atau meminyaki tubuh dan pakaian. Namun yang paling menarik bagi Lulut adalah resep nomor satu. Parfum Candonoracik.
Menurut naskah, minyak ini digunakan raja untuk acara formal kenegaraan. Bahannya beragam. Ada kayu cendana, bunga pacar cina, bunga nogosari, gambir, kamboja ungu, dan bunga asoka. Semua bahan itu dicampur lalu dimahat atau difermentasi selama 15 hari.
Kemudian disuling hingga keluar minyak wangi. Setelah itu, minyak diratus selama dua minggu lagi. ”Jadi satu jenis minyak bisa butuh waktu sebulan penuh untuk jadi,” kata Lulut. Kalau sudah selesai, warnanya disebut ungu. Baru kemudian dicampur angge-angge seperti mesoyi, cengkeh, dan jeruk purut agar aromanya semakin khas.
Kini Lisa Wangi sedang dalam proses alih aksara dan penerjemahan penuh. Lulut berharap naskah itu bisa segera dipublikasikan. Mungkin dalam bentuk buku, komik, atau riset parfum tradisional.
”Kalau bisa dibuat kembali oleh ahli parfum, tentu menarik. Kita bisa benar-benar mencium aroma masa lalu,” ucapnya sambil tersenyum.
Perjalanan Lulut menekuni dunia naskah kuno sudah dimulai tahun 2000. Semua berawal dari rasa penasaran terhadap kitab Jawa lama yang mulai terlupakan. Ia berburu naskah dari mulut ke mulut, menemui kolektor dan warga yang menyimpan manuskrip lawas.
Prinsipnya sederhana. Jika melihat naskah tidak dirawat, ia akan membeli dan menyimpannya dengan layak.
Setelah 25 tahun berlalu, semangat itu belum padam. Koleksinya kini tak hanya berjumlah ribuan, tapi juga menyimpan nilai sejarah dan budaya yang besar. Dari naskah pengobatan tradisional, mantra, hingga catatan spiritual Jawa. Semuanya dirawat dalam ruang sempit namun penuh makna di rumahnya.
Usaha panjang itu akhirnya berbuah penghargaan. Pada 28 Oktober 2025 lalu, Lulut menerima anugerah Nugra Jasa Dharma Pustaloka dari Perpustakaan Nasional RI kategori pelestarian naskah kuno. Dari seluruh penerima, hanya Lulut yang bukan pustakawan lembaga, melainkan pustakawan pribadi.
Hingga kini, 14 naskah hasil alih bahasa dan terjemahannya telah masuk koleksi resmi Perpusnas. Namun Lulut belum ingin berhenti. Ia masih bersemangat menelusuri jejak-jejak tulisan tua yang menyimpan aroma sejarah Jawa.
”Saya ingin anak-anak muda ikut merawat ini. Kalau bukan kita, siapa lagi?” ujarnya pelan.
Dari ruang kecil itu, Lulut terus menjaga warisan yang tak ternilai. Bukan hanya naskah kuno, tapi juga keharuman masa lalu yang menolak hilang. (*/adn)
Editor : A. Nugroho