Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Mas Aryanda Berbudi, Atlet Muda Kota Malang yang Torehkan Prestasi di Kejuaraan Internasional Taekwondo

Aditya Novrian • Jumat, 14 November 2025 | 16:41 WIB
MEMBANGGAKAN: Atlet Taekwondo Kota Malang Mas Aryanda Berbudi memamerkan medali emas di nomor poomsae individu junior dalam ajang Pugnator Jogjakarta Taekwondo International Championshop 2025 di GOR
MEMBANGGAKAN: Atlet Taekwondo Kota Malang Mas Aryanda Berbudi memamerkan medali emas di nomor poomsae individu junior dalam ajang Pugnator Jogjakarta Taekwondo International Championshop 2025 di GOR

Sabet Emas setelah Menang Selisih 0,83 Poin

SUARA hentakan kaki beradu dengan gema teriakan di dalam GOR Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Di tengah dentuman musik dan sorak sorai penonton, seorang remaja berseragam putih berdiri tegap di atas matras. Napasnya tertata, matanya fokus, tubuhnya siap untuk bergerak.

Dialah Mas Aryanda Berbudi atau yang akrab disapa Arya. Atlet muda asal Kota Malang yang sedang berjuang di ajang Pugnator Jogjakarta Taekwondo International Championship 2025.

Setiap kuda-kuda, pukulan, dan tangkisan yang ia lakukan tampak begitu terukur. Dua menit waktu yang diberikan, ia manfaatkan sebaik mungkin untuk menampilkan rangkaian gerakan poomsae. Perpaduan antara keindahan dan ketepatan teknik.

Tak ada ruang untuk salah langkah, karena setiap detail akan menentukan nilainya di mata juri. Kejuaraan itu menjadi pengalaman internasional pertama bagi Arya. Tak heran, rasa gugup sempat menghampiri saat ia melihat lawan-lawannya dari berbagai negara. Di antaranya Malaysia, Filipina, Timor Leste, Pakistan, Singapura, hingga Thailand.

”Lawan pertama saya di babak penyisihan adalah atlet timnas Filipina,” ujarnya. Negara itu dikenal memiliki gaya poomsae dengan tempo cepat dan tenaga yang kuat. Perbedaan gaya ini sempat membuat mental Arya goyah.

Namun pengalaman bertanding di tingkat provinsi dan nasional menempanya menjadi pribadi yang tangguh. Ia menepis rasa gugup dan kembali fokus pada tiap gerakan. Dengan penuh konsentrasi, ia tampil all-out. Hasilnya, Arya menang tipis atas atlet Filipina dengan skor 7,76–7,75.

Kemenangan itu menjadi pemantik semangat. Di babak semifinal, Arya harus berhadapan dengan atlet asal Jawa Tengah. Seorang jebolan Pekan Olahraga Nasional Bela Diri 2025. Lawannya lebih tinggi, gerakannya tegas, dan memiliki pengalaman segudang.

Tapi Arya tak gentar. Ia menari di atas matras dengan penuh keyakinan. Setelah waktu habis, skor akhir menunjukkan 79–77 untuk Arya. Ia pun melangkah ke final.

Pertandingan puncak mempertemukannya dengan atlet Jawa Barat, pemegang medali PON di nomor yang sama. Di titik ini, tekanan tak lagi datang dari lawan, melainkan dari dalam dirinya sendiri. Namun, sebulan penuh latihan keras dari pagi hingga malam menjadi modal besar.

”Saya menambah latihan fisik dan teknik supaya stamina tetap prima,” kata Arya. Saat final dimulai, matras seakan menjadi panggungnya. Gerakannya tegas, iramanya mengalir, setiap tendangan dan putaran tubuh dilakukan dengan penuh presisi. Penonton menahan napas, juri memperhatikan dengan seksama.

Setelah hitungan akhir diumumkan, hanya selisih 0,83 yang memisahkan Arya dari lawannya. Namun, angka itu cukup. Medali emas pun akhirnya menggantung di lehernya. ”Rasanya luar biasa, ini kejuaraan internasional pertama saya dan bisa membawa pulang emas,” ujarnya dengan senyum puas.

Perjalanan Arya menuju titik ini bukan hal yang singkat. Ia mengenal taekwondo sejak duduk di bangku kelas dua SD. Awalnya, ia tertarik setelah melihat temannya menerima medali di upacara sekolah.

Ia pun memulai latihan. Awalnya Arya terjun di nomor kyorugi atau pertarungan. Namun, setelah beberapa kali mengalami cedera ringan, orang tuanya meminta ia beralih ke nomor poomsae pada 2020.

Peralihan itu ternyata menjadi titik balik dalam kariernya. Dengan latar belakang seni yang dimilikinya sejak kecil, Arya cepat menyesuaikan diri. Ia menghafal pola gerakan dan memperhalus transisi dengan tekun.

Tak hanya itu, ia juga mendapat kesempatan istimewa. berlatih langsung bersama Defia Rosmaniar, peraih medali emas poomsae di Asian Games 2018. Dari sang senior, Arya belajar tentang ritme, ekspresi, dan disiplin. ”Latihannya berat, tapi saya jadi tahu bagaimana menampilkan poomsae yang hidup,” ungkapnya.

Namun prestasi tak datang secepat gerakannya. Butuh tiga tahun hingga ia berhasil meraih medali perunggu di kejuaraan tingkat Jawa Timur. Perlahan, podium menjadi tempat yang akrab. Tahun 2024 ia meraih perak di Popda Jatim.

Lalu, pada 2025, medali emas mulai berdatangan dari Bela Negara Cup, Kejurprov Pelajar Jatim, hingga Kejurnas Indonesia Challenge.

Kini, kemenangan di Jogjakarta menjadi puncak perjalanan panjangnya. Tapi bagi Arya, ini bukan akhir. Ia sudah menatap kompetisi berikutnya, kejuaraan nasional Desember mendatang. ”Saya ingin tutup tahun dengan emas lagi,” katanya mantap. (*/adn)

Editor : A. Nugroho
#atlet #uny #malang #Taekwondo