KASUS yang melanda masyarakat yang kurang mampu seringkali terganjal pendampingan kuasa hukum. Solehoddin yang besar di keluarga menjunjung tinggi nilai agama tak tinggal diam dengan problem tersebut. Lembaga bantuan hukum (LBH) yang didirikannya sudah menangani lebih dari 1.500 kasus.
Saat masih duduk di bangku SMP, Solehuddin tidak hanya membekali dirinya dengan ilmu pelajaran umum. Dia juga menimba ilmu di Pondok Pesantren atau mondok hingga lulus SMA. Otomatis mengaji dan menghafal Alquran jadi rutinitas pria kelahiran Sampang tersebut.
Dari rutinitas itu, Solehuddin mulai memiliki keinginan untuk menjadi pengacara. Satu hal yang mendorong dirinya terjun ke profesi itu, karena sering melihat orang-orang ditangkap dan dibawa ke kantor polisi. ”Saat itu saya berpikir, belum tentu orang yang ditangkap itu bersalah. Dari situ, merasa terketuk untuk membantu menyuarakan kebenaran,” katanya kepada Jawa Pos Radar Malang.
Mimpinya sebagai pengacara juga terinspirasi dari kiprah Adnan Buyung Nasution dan Baharuddin Lopa. Keinginan jadi advokat itu membuat Solehuddin memutuskan merantau untuk kuliah di Malang. Dia mengambil Jurusan Hukum di Universitas Widyagama pada tahun 1989.
Sebelum menjadi pengacara kondang di Malang, Solehuddin mengawali karier di LKBH Universitas Widyagama. Dia mengabdi di kampus dengan menjadi Biro Konsultasi Bantuan Hukum. ”Saat itu saya sering dapat bayaran kacang, pisang, atau barter dengan benda lain,” ungkapnya.
Menurut Solehuddin satu kasus yang berkesan ketika membantu seorang istri yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Saat itu sang istri tidak memiliki uang. Akhirnya proses perceraian didampingi LBHK dan sang istri menangis saat memenangkan sidangnya.
Selain itu, dia juga sempat menjadi lawyer 40 warga di Desa Tulungrejo Batu. Pada waktu itu, perumahan warga di sana terancam digusur. Lalu, Solehuddin jadi lawyer korban sepak bola Aremania, masuk Tim Advokasi Tragedi Kanjuruhan.
Sejak awal mendirikan LBH Solehuddin bertujuan untuk membela rakyat miskin. Saat bekerja, najis hukumnya menang perkara dengan cara menyuap alias nyogok menjadi tagline yang digunakan.
Pelayanan optimal selalu disajikan. Dia selalu siap sedia untuk membantu siapa pun dan kapan pun klien membutuhkan bantuan hukum. Dalam memberi pelayanan hukum, Solehuddin selalu mengedepankan pendekatan yang halus dan berkesan. (aff/gp)
Editor : A. Nugroho