Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Hendik Arso Hadi Winulyo SH, dari Aktivis ke Kades Inovatif, Bangun Desa Pujiharjo lewat Live Inn dan Kampung Nelayan

Aditya Novrian • Senin, 24 November 2025 | 18:07 WIB
KREATIF: Hendik Arso Hadi Winulyo SH (kanan) mendampingi Bupati Malang H.M Sanusi dalam salah satu acara.
KREATIF: Hendik Arso Hadi Winulyo SH (kanan) mendampingi Bupati Malang H.M Sanusi dalam salah satu acara.

Perjalanan hidup Hendik Arso Hadi Winulyo berliku. Pria berusia 50 tahun itu lahir dari keluarga sederhana dan tumbuh dengan kerasnya hidup. Namun dari situ, Handik menempa diri, berdagang, bekerja serabutan, lalu menjadi aktivisme, hingga akhirnya dipercaya memimpin Desa Pujiharjo, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang.

”Saya sejak SMA di Turen sudah biasa jualan, dari Pujiharjo berbagai dagangan seperti duren, petai hingga pisang saya bawa dengan angkutan umum,” kenang ayah satu anak itu. Dia harus melakukan usaha itu karena perlu menambah uang sakunya. Meski begitu, semangatnya untuk terus belajar tidak kendur. Selepas dari SMA dia memutuskan melanjutkan ke perguruan tinggi.

”Pesan dari orang tua harus terus sekolah,” ujarnya. Pada tahun 1995, ia menempuh kuliah di Universitas Kristen Cipta Wacana Malang. Pada saat itu, ekonomi keluarga tidak menentu. Hendik harus kembali berdagang dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sampai lulus. Saat bekerja sebagai sales, dia kuliah malam agar maksimal saat belajar.

Hidup keras tak membuatnya berhenti berproses. Pada tahun 1996– 1997 di saat harus bekerja, dia berusaha aktif ikut organisasi mahasiswa dan sempat menjadi kader partai. Mulai dari tahun 1999 hingga tahun 2014, dia secara konsisten bertarung dalam kontestasi legislatif tingkat kota, namun tak membuahkan hasil. Baru pada tahun 2015, ia memutuskan pulang ke kampung untuk mencalonkan diri sebagai Kepala Desa Pujiharjo.

Saat menjadi kades, dia tidak bisa bersantai, ada banyak tantangan yang harus dihadapi. Selama menjabat, kondisi Pujiharjo cukup kompleks. Mulai dari jalan rusak, perekonomian warga yang masih belum begitu berkembang, dan potensi laut yang belum tergarap optimal.

”Desa ini sumber daya alamnya besar sekali. Cengkeh, kopi, nelayan, pantai. Tinggal bagaimana menggerakkannya,” ujarnya. Dari situ muncul ide Live In Pujiharjo lahir pada tahun 2017. Konsepnya sederhana, wisatawan tinggal bersama warga, merasakan kehidupan desa secara utuh.

Dia sangat yakin dengan konsep itu, karena warga Pujiharjo sangat ramah dengan orang luar. Dia memasarkan potensi alam Pujiharjo melalui YouTube. Konsep itu langsung menarik banyak perhatian. Mulai dari institusi dan kampus. Seperti dari UPH hingga Stikom Palangkaraya.

Dalam setahun lebih dari 1.000 orang datang untuk merasakan tinggal di Pujiharjo. Kondisi itu menggerakkan perekonomian warga secara langsung. Sebagai informasi, Desa Pujiharjo salah satu pemasok cengkeh dan kopi di Malang selatan.

Di sektor kelautan, setidaknya 500 nelayan menggantungkan kehidupan di pantai. Jenis ikannya mulai dari layur kualitas ekspor, tongkol, tuna, hingga lobster.

Namun masalah klasik muncul, jalan sempit, BBM jauh, tak ada dermaga, dan fasilitas perahu minim. Dalam situasi tersebut, dia tidak tinggal diam. Hendik membawa aspirasi nelayan ke tingkat dinas hingga kementerian. Perjuangannya membuahkan hasil yang manis, program pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih akhirnya turun.

”Saya hanya ingin perekonomian warga bisa lebih berkembang lagi, itu saja,” tutupnya. (zal/gp)

Editor : Aditya Novrian
#kampung nelayan #Bangun Desa