Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Muhammad Masykur AG, S.Psi., M.Psi, Praktisi Psikologi Islam, Pengasuh dan Pendakwah

Mahmudan • Kamis, 27 November 2025 | 18:02 WIB
Muhammad Masykur AG SPsi MPsi Praktisi Kesehatan Mental sekaligus Pendakwah.
Muhammad Masykur AG SPsi MPsi Praktisi Kesehatan Mental sekaligus Pendakwah.

Perjuangan 15 Tahun Lahirkan Buku Pedoman Komprehensif Anak Berkebutuhan Khusus

Buku setebal ratusan halaman itu bukan sekadar teori. Itu merupakan “catatan lapangan” dari kegelisahan, analisis, eksperimen, dan upaya Masykur mendampingi ribuan ABK sejak 2010. Kala itu dia merasa penanganan ABK belum optimal, khususnya ABK disabilitas mental. “Negara ini belum punya pola penanganan ABK yang betul-betul komprehensif. Saya hanya berusaha mengisi ruang kosong itu,” jelasnya.

Sebagai psikologi, Masykur sering berhadapan dengan pola penanganan yang terputus-putus. Padahal ABK disabilitas mental perlu penanganan secara holistic, mulai fisik hingga mental. Akibat penanganan yang kurang tepat, anak yang masih punya potensi sekolah di sekolah reguler, akhirnya ditolak pihak sekolahan. “Akhirnya anak seperti tidak punya rumah,” terang Masykur.

Dia melihat masalah ABK bukan sekadar soal perilaku. Ada neurologi, psikologi, imunologi, hingga gizi yang kerap terabaikan. “Kalau otaknya bermasalah, apa bisa menyerap pelajaran dengan maksimal? Benahi otaknya dulu, benahi makannya, tidurnya, dan emosinya,” jelasnya.

Dari sinilah fondasi buku baru Masykur terlahir. Buku itu ditulis sebagai panduan utama bagi orang tua, guru, terapis, dan lembaga pendidikan dalam menangani ABK. “Akses ilmu ini masih sangat minim. Makanya saya ingin menaruh pengalaman 14 tahun ini agar bisa dipelajari siapa pun,” ungkapnya.

Pendekatan inilah yang dia rangkum dalam bukunya. Membahas bagaimana ABK sebaiknya diperiksa, diterapi, dimodifikasi, dioptimalkan, dan dipahami oleh orang tua. Baginya, orang tua merupakan “terapis pertama” yang harus paham proses intervensi. “Penanganan parsial tidak akan berhasil. Karena masalahnya kompleks, maka solusinya juga harus menyeluruh,” terangnya.

Selama 14 tahun, Masykur membangun ekosistem layanan ABK yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Mulai psychocare, klinik mental health dan psikologi. Klinik ini menangani mental health, assessment, dan terapi yang memadukan nilai-nilai Al-Qur’an dengan pendekatan ilmiah. “Al-Qur’an itu sederhana dan aplikatif. Ia menyehatkan lahir batin,” kata Masykur yang aktif berdakwah sejak 2010.

Selain layanan psikologis, dia juga mendirikan Sekolah Khusus Cerdas Istimewa Bakat Istimewa (CIBI). Lahir dari keresahan banyak orang tua yang anaknya diterapi, namun ditolak sekolah. CIBI menjadi sekolah inklusif dengan sistem mirip rumah sakit, siswa ditangani menyeluruh, kelas kecil, dan kurikulum dimodifikasi. “Mulai prasekolah sampai SMA, kami ingin mereka bisa mandiri,” jelasnya.

Pondok pesantren khusus yang menggabungkan pendidikan Al-Qur’an, rehabilitasi, terapi, dan pengaturan gizi. Setiap anak memiliki menu makanan berbeda, karena bagi Masykur, gizi adalah kunci. “Anak gelisah? Lihat dulu asupan gula dan MSG-nya. Pola makan bisa mengatur emosi,” tuturnya. IBAM yang berlokasi di desa Sumbergondo, Kota Batu itu menerima santri dari berbagai daerah.

Di samping sebagai psikolog, Masykur juga aktif berdakwah di berbagai masjid dan radio Islam di Malang Raya. Ketika memberikan ceramah, dia memadukan nilai-nilai Islam dengan kesehatan mental. Baginya, psikologi dan nilai-nilai agama sangat selaras. “Yang sehat dari Allah. Yang rusak karena pola hidup manusia. Maka kembali ke-Nya adalah jalan pemulihan,” tutur pria tahun 1984 itu.

Seusai menyelesaikan pendidikan di psikologi UIN Malang, dia menempuh S2 Pendidikan Khusus di Universitas Negeri Malang (UM). Kini dia sedang menyelesaikan program doktoral di bidang serupa.(zal/dan)

Editor : A. Nugroho
#cibi #psikolog #Neurologi #abk