Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Muhammad Amin Ashar Ciptakan Seruling Kayu untuk Hipnoterapi

Aditya Novrian • Jumat, 28 November 2025 | 16:01 WIB
BERMACAM BENTUK: Muhammad Amin Ashar memamerkan seruling kayu buatannya yang bisa digunakan untuk hipnoterapi kemarin.
BERMACAM BENTUK: Muhammad Amin Ashar memamerkan seruling kayu buatannya yang bisa digunakan untuk hipnoterapi kemarin.

Proses Pembuatan Manfaatkan Ilmu Matematika

 

DERETAN seruling berbagai ukuran dan bentuk tersusun rapi di atas meja kayu dengan diapit kursi-kursi sederhana yang membentuk lingkaran. Muhammad Amin Ashar duduk di tengahnya sesekali mengambil seruling yang baru selesai dipoles. Dia memperhatikan detail permukaan kayu dan menepiskan debu halus yang menempel.

Aroma kayu jati dan mahoni yang baru diukir menyatu dengan udara di ruang kecil itu. Memberi kesan hangat sekaligus hening seolah setiap seruling menunggu untuk bercerita. Pemilik Peace Flutes itu menatap seruling di depannya dengan mata penuh perhatian. Seolah alat-alat sederhana itu merupakan perpanjangan dari dirinya sendiri.

Perjalanan Ashar dengan seruling dimulai dari hobi sederhana. Sejak SMA, lelaki kelahiran 1999 itu jatuh cinta pada teater. Ia menikmati setiap peran, setiap tumpahan emosi, hingga latihan demi latihan yang menuntut penghayatan penuh. Namun di balik panggung, ia menemukan ketenangan melalui musik.

Seruling menjadi cara untuk menenangkan diri setelah lelah mengekspresikan karakter di atas panggung. Belajar seruling bagi Ashar bukan perkara instan. Awalnya ia hanya meniru, melihat foto dan video pemain seruling dari berbagai belahan dunia. Ia mempelajari bentuk, ukuran, dan posisi lubang nada.

Semua dilakukan secara otodidak dari mengukir kayu hingga menentukan jarak antar-lubang yang tepat agar nada terdengar harmonis. Setiap kayu yang disentuhnya memiliki karakter yang berbeda. Satu ketelitian kecil bisa membuat nada tidak keluar atau seruling berbunyi sumbang.

Proses itu tidak jarang berujung pada kegagalan. Selama hampir satu tahun, ratusan seruling yang ia buat tak memenuhi standar. Ia belajar merancang lubang nada dengan rumus matematika sederhana. Menyesuaikan kedalaman dan diameter agar setiap tiupan menghasilkan resonansi yang diinginkan.

”Setiap jenis kayu punya karakter berbeda. Tidak bisa disamakan perlakuannya," katanya sambil menepuk permukaan seruling yang baru jadi. Sementara itu, Ashar bekerja sebagai pemandu wisata dan penerjemah bagi turis mancanegara.

Di sela tugasnya, ia mulai mengenalkan praktik meditasi dan terapi suara menggunakan seruling. Awalnya gratis, tetapi seiring permintaan yang meningkat, ia menetapkan tarif Rp 3-5 juta untuk sesi sekitar 30 menit.

Setiap sesi bukan sekadar memainkan musik, tetapi juga menuntun pendengarnya menenangkan pikiran melalui alunan nada yang lembut dan ritmis. Seakan seruling itu mampu membaca irama napas manusia.

Titik balik usaha datang pada 2024, saat seorang turis asal Jerman menekankan nilai ekspor seruling Ashar. Dorongan itu membawa Ashar memasarkan produknya di Etsy, marketplace internasional. Seruling yang sebelumnya hanya untuk kenikmatan pribadi kini berharga antara Rp 3,4 juta hingga Rp 27 juta per buah bergantung kayu dan karakter nada.

Meski penjualan meningkat, tantangan administratif muncul. Dana hasil penjualan internasional tertahan berbulan-bulan karena dokumen bank belum lengkap. Biaya operasional tetap berjalan, bahkan untuk satu pengiriman ke luar negeri bisa mencapai Rp1 juta.

”Orang tua sempat menyarankan menghentikan usaha, tetapi saya memilih bertahan,” ujar mahasiswa S2 Universitas Negeri Malang (UM). Ia menunaikan nazar jika dana cair, mulai dari berbagi makanan dengan tetangga hingga mendaki Gunung Rinjani bersama tim.

Kini, seruling Ashar tidak hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga membiayai kuliah S2-nya. Proses pembuatan dibagi antara tim di Gresik dan Malang. Namun bagian paling rumit tetap ditangani Ashar sendiri.

Menentukan letak lubang nada, mengukir kayu, dan memastikan resonansi setiap nada sesuai karakter yang diinginkan. Seruling buatannya menghadirkan beragam suara, dari Jawa, Hijaz, hingga Amerika, dengan permintaan terbesar tetap seruling Jawa yang khas. Ashar kini tengah mengurus Hak Kekayaan Intelektual untuk seruling terapi buatannya.

Dari hobi teater, eksperimen tak terhitung, hingga penjualan internasional, ia membuktikan bahwa ketekunan, penguasaan material, dan perhatian pada detail dapat mengubah sebuah alat sederhana menjadi jembatan kesuksesan. Setiap tiupan serulingnya adalah hasil dari proses panjang, keuletan, dan kecintaan pada seni yang menenangkan. (*/adn)

Editor : A. Nugroho
#um #hipnoterapi #seruling #malang