MALANG - Di balik deretan produk Agrochemical PT. Eureeka yang digunakan petani di berbagai daerah di Indonesia, ada sosok yang berjasa. Dialah Nurudin Muhammad Hanifah, Wakil Direktur PT Eurekaa. Mantan tenaga kerja Indonesia (TKI) itu yang melakukan riset. Kini hasilnya bisa dimanfaatkan para petani.
Nurudin terlahir di Lamongan. Pada 1992 dia menempuh kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (UB). Di situlah awal perkenalannya dengan Ludi Tanarto yang kelak menjadi founder PT Eureeka.
Setelah menamatkan kuliah, karier tak langsung berjalan mulus. Dia sempat pontang-panting akibat krisis moneter 1998. Krisis membuatnya merantau ke negeri orang, Brunei Darussalam. Dia menjajal semua pekerja. Mulai kasir, driver dan pekerja lepas.
Sepulang dari Brunei pada 2002, dia berangkat ke Jepang. Di negeri Sakura itulah jalan hidupnya terbuka. Bekerja di sektor pertanian, dia banyak belajar tentang efisiensi, teknologi, dan cara kerja pertanian modern. Mulai dari melon, tomat hingga sistem greenhouse. “Petani di Jepang itu sudah paket lengkap. Ada analisis tanah, ada ilmuwan, dan ada praktisi. Kerja jadi lebih efisien dan tepat guna,” kenangnya.
Pulang ke Indonesia, Nurudin berkomunikasi dengan kawan lamanya, Ludi. Dari diskusi itu, tahun 2005 ia mulai bereksperimen membuat stimulan tanaman dari kontrakan kecil di Junrejo, Kota Batu. Malam-malamnya habis untuk mencoba, gagal, mengulang, dan mencari formula yang “klik”.
Setahun penuh dia habiskan waktu untuk uji coba. Setelah ratusan percobaan, akhirnya dia berhasil membuat tablet yang stabil dan efektif. Produksi awalnya hanya 200 tablet tiap malam, namun permintaan terus meningkat. “Tantangannya waktu itu hanya satu. Jangan menyerah. Tiap malam habis Magrib saya ke Junrejo. Harus ketemu formulanya,” ujar Nurudin.
Dari keberhasilan itu lahir nama Eureeka. Pemilihan nama terinspirasi dari momen Archimedes menemukan hukum fisika. Bagi Nurudin, setiap rumus dan percobaan yang berhasil terasa seperti Eureeka moment tersendiri.
Perlahan lahan usahanya terus berkembang, dari tablet pemacu buah, PT Eureeka berkembang meriset kalsium cair, mikronutrien, dan berbagai produk berbasis kebutuhan petani. Dalam menciptakan produk, mereka selalu berupaya menemukan kelemahan produk-produk lain di pasaran. Misalnya produknya kurang larut, akibatnya nutrisi kurang terserap maksimal. “Kalau di pasar banyak pupuk mikro tapi konsentrasinya tinggi dan mudah keruh. Kami ingin yang stabil, efektif, dan tidak turun kualitasnya,” kata dia.
Setelah lima tahun riset, produk-produk mikro Eurekaa menjadi andalan karena tidak mudah mengendap dan cepat diserap tanaman. Lantaran produknya laris manis, dia mengurus izin. “Wira-wiri empat tahun. Semua saya urus sendiri izinnya,” tambahnya. Kini pemasaran Eurekaa menjangkau Jawa, Aceh, Sumatera, Lampung, Sulawesi, Bali Nusra, Kalimantan hingga Papua.
Meski menjabat Wakil Direktur PT Eurekaa sekaligus anggota dewan, Nurudin tetap menyisihkan waktu untuk membaca literatur, berdiskusi dengan apoteker dan peneliti, hingga meracik formula baru.
Saat ini dia melakukan riset herbisida selektif, produk yang bisa membunuh gulma tanpa merusak tanaman utama. Ada tiga jenis yang sedang dilakukan uji sistemik, semi-sistemik, dan kontak. “Petani butuh produk yang aman, efektif, tapi tetap terjangkau,” tutupnya.
Pada 2014 dia mulai aktif di masyarakat dan sempat maju dalam pemilihan legislatif (Pileg). Usahanya membuahkan hasil pada 2019 dan masuk ke DPRD Kota Batu. Kini menjabat sebagai ketua komisi A. Basis dukungannya tentu saja para petani. Dia memperjuangkan kelompok petani hingga peternak.
Ke depan, dia berencana membuat pilot project untuk tanaman apel dan buah-buahan yang ditanam dalam greenhouse. Nantinya itu bisa menjadi referensi petani di Kota Batu dalam memaksimalkan hasil pertanian.(zal/dan)
Editor : A. Nugroho