Rencana Kepulangan Maret 2026 yang Tertunda Selamanya
SUASANA duka masih menyelimuti kediaman Sutiono di Desa Palaan, Kecamatan Ngajum. Raut sedih makin terasa ketika pria 43 tahun itu mengingat mendiang istrinya, Siti Khotimah, yang meninggal dalam kebakaran di kompleks Apartemen Wang Fuk Court, Distrik Tai Po, Hongkong, pekan.
Siti merupakan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang bekerja di Hongkong sejak 2019 lalu. Beberapa hari sebelum kebakaran, Sutiono masih sempat bercakap dengan istrinya yang bekerja sebagai caregiver di Hongkong.
Biasanya, Siti selalu berpamitan setiap kali harus meninggalkan gawainya sejenak. Namun hari itu, sambungan telepon terputus tanpa pesan. Sutiono berulang kali mencoba menghubungi. Tidak ada jawaban.
“Misalnya mau ke kamar mandi atau ke mana, selalu bilang (sebelum mengakhiri pembicaraan via telepon. Tetapi pada saat itu dia tiba-tiba hilang tanpa bilang,” ucap Sutiono ditemui di rumahnya kemarin.
Rupanya hari itu menjadi komunikasi terakhir mereka. Hingga Kamis lalu (27/11), ponsel istrinya tidak dapat dihubungi. Kekhawatiran berubah menjadi firasat buruk. Berita di TikTok menampilkan kepulan api dari sebuah apartemen di Hongkong.
Ia terpaku. Lokasi itu adalah tempat istrinya bekerja. “Kamis itu saya baru tahu dari TikTok, ternyata ada kebakaran di sana,” imbuhnya. Dia semakin khawatir dengan kondisi istrinya yang berusia 40 tahun itu.
Hari itu sudah hari kedua sejak kebakaran terburuk dalam 60 tahun terakhir di daerah administratif istimewa Tiongkok tersebut. Api pertama kali menyala pada Rabu (26/11) sekitar 14.51 waktu setempat atau pukul 13.51 WIB.
Di tengah gelisah yang makin tak tertahan, dia tetap mencoba menenangkan diri. Sutiono menghubungi agensi yang pada 2019 memberangkatkan istrinya ke luar negeri. Namun harapan itu harus retak pada Jumat (28/11), ketika agensi menginformasikan bahwa nama istrinya masuk dalam daftar korban kebakaran.
“Sabtu (29/11) sekitar pukul 13.15, KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) memberi tahu bahwa atas nama Siti Khotimah sudah tidak ada lagi. Sudah meninggal dunia,” kata Sutiono.
Mendengar kabar tersebut, dia sangat terpukul. Terlebih, istrinya itu meninggal di negeri orang. Bahkan hingga saat terakhirnya, dia tidak bisa berkumpul bersama keluarganya. Siti Khotimah merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Dia memilih mengadu nasib ke luar negeri sejak 2019 demi memperbaiki ekonomi keluarga.
Sejak saat itu, dia belum pulang sama sekali ke tanah airnya. Selama tujuh tahun merantau di Hongkong, Siti sudah dua kali berganti majikan. Meskipun tidak pernah pulang, komunikasi dengan keluarganya tetap lancar.
Maret tahun depan, dia berencana mengambil cuti untuk kembali ke rumah. Bertemu keluarga sekaligus mengurus visa. Barang-barangnya sudah dikirim sebagian. Di antaranya koper yang berisi pakaian-pakaiannya. Tiket juga sudah dipesan.
Seharusnya, dia hanya tinggal menunggu waktu bertemu keluarganya tahun depan. Namun kepulangan itu terpaksa tertunda untuk selamanya. Putra dan putrinya yang masih bersekolah itu tak akan bertemu ibunya lagi. Putra pertama berusia 17 tahun dan saat ini menempuh pendidikan di bangku kelas XI SMA.
Sedangkan putri keduanya baru berusia 11 tahun. Kini duduk di bangku kelas V SD. “Anak kedua ini baru berulang tahun tanggal 27 November lalu. Ibunya juga sudah menyiapkan hadiah gelang,” ucapnya.
Kini, Sutiono hanya menunggu kabar lebih lanjut dari KJRI Hongkong terkait pemulangan jenazah istrinya. Sebab, otoritas Hongkong memiliki regulasinya sendiri untuk mekanisme pemulangan. “Saya cuma berharap, semoga cepat dipulangkan saja,” pungkasnya dengan tidak bisa lagi menahan air matanya. (*/dan)
Editor : A. Nugroho