Dipanggil Pak Katus oleh Mahasiswa Asal Thailand
MEMORI hari pertama kali mendapatkan daftar nama mahasiswa asing yang harus diajarinya masih terekam jelas di ingatan Gatut Susanto. Nama-nama itu terdengar asing di telinganya. Seperti Somchai, Hiroshi, Minh, Fatima, hingga Joshua.
”Saya sempat berpikir, apa saya bisa,” kenang lelaki kelahiran Blitar tersebut. Saat itu, ia sama sekali tidak membayangkan bahwa daftar nama itu akan menjadi pintu yang mengubah arah hidupnya selama puluhan tahun ke depan.
Perjalanannya hingga tiba pada titik tersebut sama sekali tidak mulus. Selepas SMA, Gatut memilih kuliah di Prodi D3 Pendidikan Bahasa Indonesia IKIP Malang (sekarang UM) dengan tujuan sederhana, menjadi guru Bahasa Indonesia di sekolah. Namun saat ia dinyatakan lulus, formasi guru Bahasa Indonesia justru dihapus.
Ia harus memikirkan ulang rencana hidupnya. Tidak ingin berhenti, Gatut melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana sambil mencari kemungkinan lain yang bisa ia tekuni.
Selama kuliah S1 itulah ia mulai mengenal dunia yang sama sekali baru. Pengajaran Bahasa Indonesia bagi penutur asing. Ia tahu bahwa mahasiswa jurusan Bahasa Indonesia tidak hanya dipersiapkan menjadi guru sekolah.
Mereka juga bisa mengajar di lembaga kursus, pusat bahasa, hingga lembaga pendidikan di luar negeri. ”Saya baru sadar kemungkinan itu setelah melihat beberapa senior menjadi tutor mahasiswa asing di kampus,” katanya.
Kesempatan untuk merasakannya sendiri datang pada 1993. Ketika itu, kampus menugaskannya mengajar kelas yang diikuti mahasiswa dari berbagai negara. Tidak ada buku panduan yang rumit. Hanya aturan dasar bahwa ia harus mengajar menggunakan Bahasa Indonesia sepenuhnya. Metode ini dikenal sebagai total immersion.
”Kalau saya menggunakan bahasa lain, mahasiswa dari negara lain bisa tidak mengerti. Jadi semuanya mulai dari nol bersama-sama,” ujarnya.
Pada pertemuan-pertemuan awal, Gatut lebih banyak memperkenalkan kosakata dasar. Nama benda, angka, aktivitas sehari-hari. Barulah kemudian ia memperkenalkan struktur kalimat.
Prosesnya lambat, tetapi hasilnya nyata. Ia masih ingat raut bangga salah satu mahasiswanya dari Jepang ketika untuk pertama kalinya mampu menyusun kalimat sederhana dengan benar.
”Saat itu saya merasa, mungkin ini memang jalan saya,” katanya. Pengalaman itu membuka pandangannya bahwa Bahasa Indonesia membawa peluang yang jauh lebih luas. Keyakinannya semakin kuat ketika ia melihat beberapa rekannya mendapat kesempatan mengajar di luar negeri.
Tak disangka, empat tahun kemudian, kesempatan itu menghampirinya. Pada 1997, Gatut mendapat tawaran menjadi pengajar di University of Arizona, Amerika Serikat. Tanpa banyak ragu, ia berangkat dan menjalani pengalaman yang memperluas wawasannya tentang bagaimana bahasa dan budaya dapat mempertemukan banyak orang.
Setelah kembali ke Indonesia, Gatut melanjutkan perannya sebagai tutor Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) di UM. Selain mengajar, ia juga aktif mengembangkan jaringan pengajar BIPA. Ia terlibat dalam pembentukan Asosiasi Pengajar dan Pemerhati Bahasa dan Pendidikan Indonesia (APPBIPA) Jawa Timur pada 2016 dan menjabat sebagai Wakil Ketua 1.
Peran itu kemudian membawanya ke tingkat nasional saat ia dilantik menjadi Koordinator Bidang Kerja Sama dan Luar Negeri pada 2020–2024. Pada periode berikutnya, Gatut terpilih secara aklamasi menjadi Ketua Umum APPBIPA 2024–2028.
Meskipun memiliki jabatan organisasi, kelas tetap menjadi tempat yang paling memberi banyak cerita baginya. Setiap mahasiswa memiliki tantangan berbeda, terutama dalam pengucapan.
Mahasiswa dari Thailand, misalnya, sering memanggilnya ”Pak Katus” karena huruf G tidak ada dalam bahasa ibu mereka, sementara beberapa bunyi konsonan lain berubah ketika diucapkan.
Mahasiswa Amerika terbiasa melafalkan huruf A sebagai E, sehingga kata ”Malang” berubah menjadi ”Meleng.” Ada pula mahasiswa dari Jepang, Mesir, atau Vietnam yang masing-masing membawa ciri khas fonologis dari bahasa yang mereka gunakan sehari-hari.
Gatut mengaku tidak pernah menganggap hal itu sebagai hambatan. Justru menurutnya, variasi itulah yang membuat pengajaran BIPA kaya warna. Ia bahkan mendorong tutor untuk menguasai sedikit banyak bahasa asing agar memahami betapa tidak mudahnya belajar bahasa yang baru.
”Mengajar itu tidak cukup bisa menjelaskan. Harus ada empati,” ujarnya. Metode yang ia gunakan pun tidak hanya terpaku pada latihan di dalam kelas. Sesekali ia mengajak mahasiswa asing berjalan-jalan, mengenalkan makanan khas, atau sekadar nongkrong sambil berbincang ringan.
Baginya, bahasa harus digunakan di ruang hidup sehari-hari, bukan hanya dalam buku pelajaran. Dengan cara itu, mahasiswa bisa lebih cepat terbiasa dengan konteks penggunaan Bahasa Indonesia.
Dari perjalanan hampir tiga dekade, Gatut mengaku mendapat lebih banyak manfaat daripada yang pernah ia bayangkan. Selain memahami berbagai pola bahasa dan cara belajar mahasiswa asing, ia juga membangun jaringan luas di banyak negara.
”Kalau saya pergi ke Jepang, Amerika, atau Vietnam, biasanya ada murid yang menghubungi dan menawarkan bantuan,” katanya. Ia mengaku merasa bangga melihat mantan mahasiswanya yang kini bekerja sebagai diplomat, dosen, atau profesional di bidang masing-masing.
Apa yang dulu dipikirnya sebagai jalan buntu—ketika formasi guru Bahasa Indonesia dihapus ternyata justru menjadi pintu menuju perjalanan panjang yang tidak pernah ia rencanakan. (*/adn)
Editor : A. Nugroho