Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kegigihan Dedi Hermawan, Guru SDN 6 Sumberpetung Tetap Mengajar meski Hanya Satu Siswa

Aditya Novrian • Jumat, 12 Desember 2025 | 15:51 WIB
PENGABDIAN: Guru SDN 6 Sumberpetung Dedi Hermawan bersama Ilham Mahendra, siswa satu-satunya yang dia ajar di kelas 5. Setiap mengajar dia selalu punya cara agar Ilham nyaman belajar di kelas.
PENGABDIAN: Guru SDN 6 Sumberpetung Dedi Hermawan bersama Ilham Mahendra, siswa satu-satunya yang dia ajar di kelas 5. Setiap mengajar dia selalu punya cara agar Ilham nyaman belajar di kelas.

Selalu Punya Cara agar Murid Nyaman Belajar

 

SUARA bola voli memantul di lapangan tanah. Belasan anak berlari mengejar bola voli, tertawa riuh seolah tak ada batas waktu. Di kejauhan, bangunan sekolah berdiri sederhana, temboknya sedikit kusam diterpa matahari siang.

Itulah SDN 6 Sumberpetung, sekolah dasar terpencil yang berada di Dusun Pondok Kobong, Desa Sumberpetung, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang. Di satu ruangan kecil di sekolah itu, seorang guru mengajar hanya satu murid. Namanya Dedi Hermawan.

Dedi tampak duduk berdampingan dengan siswanya bernama Ilham Mahendra yang kini duduk di kelas 5. Meja belajar di depan mereka hanya berisi dua buku, satu kotak pensil, dan selembar kertas tugas matematika.

Sejak 2023, Dedi sebenarnya sempat memiliki dua siswa, tetapi satu di antaranya pindah ikut orang tuanya ke luar kota. Kini hanya tersisa satu anak yang belajar sendirian di kelas 5.

”Menjadi guru itu lebih banyak amalnya. Ilmu yang kami dapat itu diajarkan kepada anak-anak. Jadi, apa pun kondisinya, kegigihan kami sebagai guru harus selalu dipertahankan,” ujar Dedi.

Sosok 44 tahun itu mulai mengajar di SDN 6 Sumberpetung pada 2004. Saat itu ia masih berstatus mahasiswa Universitas PGRI Kanjuruhan Malang. Pada hari Sabtu, ketika sebagian besar mahasiswa menikmati akhir pekan, Dedi menempuh perjalanan panjang menuju Kalipare untuk mengajar.

Kurikulum saat itu mewajibkan praktik mengajar mulai tahun pertama dan Dedi memilih sekolah kecil ini sebagai tempatnya mengabdi. Setahun kemudian, pada tahun ajaran 2005/2006, ia resmi menjadi guru honorer di sekolah tersebut. Jumlah siswa selalu berubah-ubah, tetapi hampir tidak pernah mencapai 20 orang dalam satu tahun ajaran.

Pembelajaran tetap harus berlangsung seperti sekolah lain. Kurikulum sama, materi sama, ujian sama. Yang berbeda hanya suasana dan keterbatasannya. Pada 2019, Dedi akhirnya diangkat sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Penempatannya tetap sama, SDN 6 Sumberpetung. Ia pernah mengajar di SMPN 3 Kalipare Satu Atap pada 2007–2020, tetapi tetap kembali ke sekolah ini. Kesempatan menjadi PNS tertutup karena usianya telah lewat batas. Meski begitu, ia tidak merasa kehilangan apa pun. ”Saya memang sudah cinta mengajar,” katanya sambil tersenyum.

SDN 6 Sumberpetung tak pernah memiliki jumlah siswa yang ideal. Sejak berdiri pada 1985, sekolah ini selalu kekurangan murid. Tahun ini total siswanya hanya 36 anak. Ada tiga siswa kelas 1, sembilan siswa kelas 2, dua siswa kelas 3, sebelas siswa kelas 4, satu siswa kelas 5, dan sepuluh siswa kelas 6.

Untuk enam kelas, hanya ada empat ruangan berukuran 6x6 meter. Dua kelas harus berbagi ruang dipisahkan tripleks tipis. Kelas 4 dan 5 duduk berdampingan, begitu pula kelas 1 dan 3.

Suara dari satu kelas kadang menembus kelas sebelah. Konsentrasi mudah buyar. Namun Dedi selalu mencari cara agar Ilham memahami pelajaran. Ia menggunakan benda-benda di dekat mereka.

”Misalnya saat menjelaskan bangun datar kepada anak kelas 4, saya mencontohkan permukaan meja. Saat materi bangun ruang untuk kelas 5, saya tunjukkan lemari,” katanya.

Perjalanan menuju sekolah pun tidak singkat. Dari rumahnya di Desa Tempursari, Kecamatan Donomulyo, Dedi harus menempuh perjalanan sekitar 30 menit. Jalanan naik turun, beberapa titik masih berbatu. Namun setiap pagi ia berangkat tanpa keluhan.

Di matanya, sekolah itu adalah ruang pengabdian. Tempat di mana ia bisa memastikan anak-anak di pelosok mendapatkan kesempatan belajar yang sama seperti anak-anak di kota.

Baginya, kebahagiaan seorang guru bukan pada jumlah murid, atau fasilitas sekolah yang megah. Melainkan pada momen kecil ketika murid-muridnya meraih cita-cita. ”Kebanggaan saya ketika mendengar cerita anak-anak saat sudah meraih cita-citanya. Rasanya seperti mengantar mereka memiliki kehidupan yang lebih baik,” ujarnya.

Di tengah lapangan, permainan voli mulai mereda. Anak-anak berlarian menuju keran air untuk mencuci muka, sebagian kembali ke kelas. Di salah satu sudut sekolah, Dedi menutup buku pelajaran kelas 5.

Hari belajar selesai, tetapi semangatnya tidak. Di sekolah terpencil dengan fasilitas terbatas itu, ia terus menjaga api pengabdian agar tetap menyala meski hanya untuk satu murid sekalipun. (*/adn)

Editor : A. Nugroho
#pppk #guru #malang #SD