Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Tatang Adi Bintoro Merawat Kucing Impor Lebih dari Sekadar Bisnis

Aditya Novrian • Selasa, 16 Desember 2025 | 16:16 WIB
KOMITMEN: Tatang Adi Bintoro (kanan) menggendong Annie menerima juara dua International Cat Show National Winner 2025 di Bali pada Oktober lalu. Foto kiri, Angelo, kucing jenis ragdoll milik Atang
KOMITMEN: Tatang Adi Bintoro (kanan) menggendong Annie menerima juara dua International Cat Show National Winner 2025 di Bali pada Oktober lalu. Foto kiri, Angelo, kucing jenis ragdoll milik Atang

Tak Segan Tarik Kembali Hewan jika Kesepakatan Dilanggar

 

AROMA pakan kucing bercampur wangi disinfektan lembut langsung terasa begitu melangkah ke Razaiq Cattery di Jalan Kepuh Gang 6, Kelurahan Bandungrejosari, Kecamatan Sukun. Jejeran kandang rapi memenuhi sudut-sudut rumah tiga lantai yang kini sepenuhnya beralih fungsi.

Tak lagi sekadar rumah tinggal, bangunan itu menjelma menjadi ruang hidup bagi ratusan kucing ras impor dengan bulu mengilap dan tatapan mata berkelas. Dari maine coon berbadan besar, norwegian forest yang anggun, ragdoll bermata biru, hingga british shorthair berwajah bulat, semuanya hidup berdampingan dalam perawatan ketat dan penuh perhatian.

Di balik aktivitas yang nyaris tanpa jeda itu, ada Tatang Adi Bintoro, pemilik Razaiq Cattery. Jalan hidupnya jauh dari rencana semula. Latar belakangnya adalah surveyor geografi. Namun pada 2013, ia mengambil keputusan besar.

KOMITMEN: Tatang Adi Bintoro (kanan) menggendong Annie menerima juara dua International Cat Show National Winner 2025 di Bali pada Oktober lalu. Foto kiri, Angelo, kucing jenis ragdoll milik Atang
KOMITMEN: Tatang Adi Bintoro (kanan) menggendong Annie menerima juara dua International Cat Show National Winner 2025 di Bali pada Oktober lalu. Foto kiri, Angelo, kucing jenis ragdoll milik Atang

Meninggalkan pekerjaan utama dan menenggelamkan diri sepenuhnya ke dunia yang sejak kecil sudah mengisi hari-harinya, dunia kucing. Kecintaan pria yang akrab disapa Atang itu pada kucing bukan hal baru. Sejak kecil, keluarganya dikenal sebagai pencinta kucing meski hanya memelihara dua atau tiga ekor di rumah.

Namun gairah itu menemukan bentuk yang lebih serius ketika Atang mendirikan komunitas Malang Cat Lovers. Dari ruang diskusi sederhana itulah banyak ide dan pengetahuan mengalir. Ia belajar, bertanya, berbagi pengalaman, hingga akhirnya berani membuka petshop sendiri.

Jaringan pertemanannya meluas ke organisasi nasional dan internasional seperti Indonesian Cat Association, Cat Fancier’s Association, hingga World Cat Federation. Semua itu menjadi modal sosial yang menguatkan langkahnya membangun CV Satwa Sehat Sejahtera, usaha yang fokus pada susu formula kucing, cattery, hingga produk perawatan.

Meski memelihara ratusan kucing dengan nilai fantastis, Atang menegaskan satu hal. Ia tak pernah berniat menjadikan jual beli kucing sebagai inti bisnis. ”Kucing bukan komoditas biasa. Ada ikatan emosional yang membuatnya tak bisa sembarang melepas hewan-hewan itu ke tangan orang lain,” terang dia.

Karena itu, setiap calon adopter harus melalui serangkaian aturan ketat. Tak sedikit yang mundur karena merasa syaratnya terlalu rumit. Namun Atang bergeming. Ia hanya ingin kucing-kucingnya diasuh oleh orang yang benar-benar memahami tanggung jawab dan cinta terhadap hewan.

Bahkan, jika terjadi pelanggaran serius, ia tak segan meminta kucing tersebut kembali. Dari ratusan kucing yang dipelihara, maine coon menjadi ras yang paling dominan. Kucing terbesar di dunia itu memiliki karakter khas dan nilai jual tinggi.

Harga adopsinya bisa dimulai dari Rp 7 juta hingga menembus Rp 190 juta. Bergantung pada keunikan wajah, silsilah, dan prestasi di arena lomba.

Salah satu kebanggaan Atang adalah seekor maine coon bernama KCH JCH IC ID Azlan Annie Leonheart JW, NW 2025. Usianya baru satu tahun lebih, namun sudah mengoleksi prestasi internasional, termasuk juara dua pada International Cat Show National Winner 2025.

Dengan wajah wild dan silsilah campuran Perancis-Indonesia, Annie langsung menjadi incaran banyak kolektor. ”Tawaran di atas Rp 100 juta berdatangan, namun saya memilih menolaknya karena belum waktunya,” kata Atang.

Tak hanya menjual, Atang juga kerap membeli kucing impor dengan harga yang tak kalah fantastis. Salah satunya ragdoll putih bermata biru bernama KCH JCH IC Lechatte Ragdoll Angelo of Razaiq JW, NW 2023 yang didatangkan langsung dari Spanyol.

Total biaya pembelian dan pengiriman mencapai Rp 190 juta. Namun, di balik kemewahan itu, ada tantangan besar. Penyesuaian suhu menjadi pekerjaan serius.

”Setiap kamar kandang dilengkapi pendingin ruangan dengan pengaturan khusus. Setiap ras memiliki sensitivitas berbeda terhadap suhu tropis,” jelas dia. Untuk mengelola sekitar 150 kucing, Atang dibantu tujuh pemuda yang masing-masing bertanggung jawab atas satu ruangan. Namun ruang maine coon tetap ia tangani sendiri.

Ada kepuasan tersendiri merawat langsung kucing-kucing favoritnya. Dari memberi pakan hingga memantau kondisi kesehatan. Atang menyadari, kualitas kucing hasil ternak lokal sebenarnya tak kalah dengan impor. Namun gengsi sering kali berbicara lain.

Banyak orang lebih memilih membeli langsung dari luar negeri, meski harus membayar ongkos tinggi. Padahal, dengan kualitas serupa, harga di dalam negeri jauh lebih terjangkau. Itulah sebabnya sejak awal Atang memilih jalur berbeda.

Ia tidak menjadikan kucing sebagai sumber keuntungan utama. Fokus bisnisnya justru pada peralatan dan perawatan. Karena baginya, memelihara kucing adalah soal komitmen, bukan sekadar angka.

Transportasi lomba yang mahal sering kali bahkan melampaui hadiah yang didapat. Namun semua itu seolah lunas terbayar ketika melihat kucing-kucingnya tumbuh sehat, berprestasi, dan dirawat dengan penuh cinta. (*/adn)

Editor : A. Nugroho
#Kecamatan Sukun #malang #cat lovers #kucing