Terinspirasi Nusa Dua Bali, Sukses Gaet Investor Luar
DAFID sudah berangkat ke negeri Paman Sam saat berusia 16 tahun. Dia menetap dan belajar di Boston. Selama di sana, dia minim informasi terkait sejarah lokal. ”Sementara di Malang, ada ceritaKerajaan Singosari yang sangat heroik,” kenangnya.
Kehausan informasi terkait sejarah lokal itu menumbuhkan kerinduannya terhadap tanah air. Sekembalinya ke Indonesia, David memilih jalur bisnis properti. Dia membangun berbagai perumahan di Surabaya dan sejumlah daerah lain.
Salah satunya di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Saat membangun properti di Singosari itu lah, David makin sering mendengar kisah-kisah tentang kerajaan, leluhur, dan jejak kejayaan masa lalu.
Cerita-cerita itu menambah minatnya terhadap sejarah dan budaya. Pada 2007, muncul ide untuk membangun kawasan bernuansa sejarah. Dia menghibahkan sebagian tanahnya untuk lokasi Museum Singhasari.
Inspirasi lain datang dari Eropa. Saat berkunjung ke Leiden, Belanda, David melihat langsung artefak peninggalan dari Kerajaan Singosari. Pada 2015, David meresmikan Museum Singhasari. Atas dedikasinya itu, dia dianugerahi gelar Kanjeng Raden Aryo Tumenggung (KRAT) oleh Keraton Surakarta Hadiningrat.
Langkah David tak berhenti di museum. Dia kemudian menengok Bali, khususnya Nusa Dua, kawasan pariwisata terintegrasi yang menjadi rujukan dunia. Dari sana lah muncul gagasan besar untuk membangun ”Bali Baru” di beberapa wilayah Indonesia. David menilai Malang Raya punya semua syarat untuk itu.
Sebab, lokasinya dekat dengan Gunung Bromo, pantai, memiliki situs cagar budaya, dan kekayaan sejarah.
Saat pemerintah pusat menggulirkan program 10 Bali Baru pada era Menteri Pariwisata Arief Yahya, gagasan itu menemukan momentumnya. Dukungan pun mengalir. Pemerintah pusat, Pemprov Jatim, hingga Pemda memberi kemudahan regulasi dan fiskal.
Status KEK membuka jalan untuk insentif pajak, kepastian hukum, dan kemudahan investasi. Omnibus Law menjadi fondasi percepatannya. Sebagai CEO KEK Singhasari, David mengusung konsep kawasan terintegrasi berbasis pendidikan, industri kreatif, dan pariwisata. Prinsip utamanya yakni ramah lingkungan dan penghijauan.
Kerja sama dengan dunia internasional mulai dilakukan. Australia diajak masuk untuk investasi pendidikan formal dan vokasi. Singapura diajak join untuk industri kreatif. Negara-negara Eropa seperti Inggris juga ditawari pengembangan pendidikan kelas dunia.
Salah satu yang sudah berjalan dengan maksimal yakni kolaborasi dengan King’s College London, salah satu universitas terbaik di dunia.
Program beasiswa disiapkan. Mahasiswa-mahasiswa terbaik diseleksi. Prosesnya turut melibatkan BUMN seperti PLN, Pertamina, dan Telkom. Targetnya yakni mencetak talenta global. Proyeksi 2026 nanti, beberapa mahasiswa sudah ada yang diwisuda dari studi berstandar internasional di Singhasari.
Bagi David, KEK Singhasari bukan sekadar proyek. Itu adalah pertemuan masa lalu dan masa depan. Sejarah Kerajaan Singhasari dijadikan fondasi untuk membangun ekosistem modern pendidikan, industri kreatif, teknologi, dan pariwisata.
Harapannya sederhana namun besar. Singosari harus bisa dikenal dunia. Bukan hanya lewat catatan sejarah saja, tetapi sebagai pusat pertumbuhan baru di Indonesia. ”Selain memberikan dampak di wilayah sekitar, juga bisa berdampak ke regional bahkan internasional,” harap dia. (zal/by)
Editor : A. Nugroho