Legawa meski Perolehannya Menurun dibanding 2023
LUTUT Gilang Saputra kembali ke tanah air tidak dengan tangan yang hampa. Dia membawa serta medali perak cabang olahraga (cabor) gulat SEA Games 2025. Pria kelahiran 7 Mei 1996 itu sukses kembali naik podium di ajang olahraga terbesar se-Asia Tenggara itu.
Namun kali ini, perasaan bangganya bercampur dengan kekecewaan. Sebab, perolehan medalinya menurun dari edisi SEA Games sebelumnya. Ya, di ajang yang sama pada 2023 lalu, dia berhasil membawa pulang medali emas.
Tahun ini dia finish di posisi kedua lewat sistem round robin setelah kalah poin dari Dinh Hieu Nghiem, atlet Vietnam. Persiapannya menuju SEA Games 2025 cukup alot. Dia rela berbagi waktu di tengah kesibukannya sebagai dosen. Manajemen waktu menjadi kunci.
Pada kondisi normal, sebelum menjalani sesi pemusatan latihan nasional (pelatnas), dia berlatih pada pagi dan sore. Namun saat jadwal mengajar berbenturan, Lulut menggeser waktu latihan ke malam hari.
“Yang terpenting kondisi fisik saya dalam keadaan baik,” ujar Dosen Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR) Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Malang (UM) itu.
Dia bersyukur karena dukungan terus mengalir ketika masuk pelatnas pada bulan Mei hingga Desember. UM melalui jajaran fakultas hingga pimpinan kampus memberikan dukungan penuh. “Saya didukung 100 persen oleh kampus, baik dari dekan maupun rektor,” tambahnya.
Bagi Lulut, dukungan tersebut bukan sekadar izin, namun juga kepercayaan penuh. Pada saat menjalani pelatnas, intensitas latihannya meningkat tajam. Dalam sehari, dia bisa menjalani latihan hingga tiga kali.
Agar tanggung jawab akademik tidak terbengkalai, penelitian dan pengabdian masyarakat yang berkaitan dengan lapangan dituntaskan sebelum pelatnas dimulai.
“Saya sempat bolak-balik Jakarta–Malang saat ada kewajiban menuntaskan administrasi yang tidak bisa ditinggalkan atau diwakilkan,” kata dia. Saat hari pertandingan tiba, rasa waswas sempat muncul. Debar jantung, otot yang menegang, dan pikiran yang penuh antisipasi selalu hadir. Namun Lulut menganggap itu sebagai reaksi alami tubuh.
Untuk mengatasinya, dia melakukan soft talk dan visualisasi. Dia mulai membayangkan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi di atas matras agar tubuhnya siap merespons. “Itu saya anggap bentuk kewaspadaan tubuh kita untuk suatu hal yang akan terjadi ke depan,” ujarnya.
Ketika hasil akhir diumumkan dan dia memastikan meraih medali perak, perasaan kecewa langsung menyergap. Kekecewaan itu terasa lebih berat karena pada SEA Games sebelumnya tahun 2023, dia berhasil meraih medali emas.
Lawan di final pun sama. Yakni atlet Vietnam yang pernah dia kalahkan di nomor greco-roman 87 kg putra. Namun tahun ini, keadaannya berbalik.
Penyesalan sempat muncul. Namun setelah memberi kabar kepada istri dan orang tua, perasaan itu perlahan berubah menjadi keikhlasan. “Alhamdulillah, saya bersyukur bisa sehat, selamat tanpa cedera, dan mendapatkan hasil dari perjuangan secara maksimal,” tuturnya.
Dukungan keluarga menjadi penopang utama untuk bangkit dari kekecewaan. Dari pengalaman tersebut, Lulut memetik pelajaran berharga bahwa mempertahankan prestasi jauh lebih sulit daripada meraihnya. Lawannya di final memiliki rekam jejak kuat, dia sudah dua kali meraih emas SEA Games 2019 dan 2021.
Setelah Lulut mengalahkannya pada 2023, kini giliran lawan tersebut yang berhasil membalikkan keadaan. “Itu menjadi pelajaran paling berharga bagi saya,” katanya. Ke depan, Lulut berkomitmen untuk terus memperbaiki diri. Jika kembali diberi kesempatan berlaga di SEA Games berikutnya, dia bakal berjuang lebih keras demi merebut emas.
Dia berharap kisahnya menjadi bukti bahwa berprestasi di luar akademik bukanlah hambatan, melainkan bagian dari karya. Dia kembali mengingat bahwa sebelum menjadi dosen dan atlet nasional, Lulut pernah berada di persimpangan jalan. Saat hendak lulus SMA, dia diliputi dilema besar.
Antara melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi atau fokus menekuni karier sebagai atlet gulat.
Pilihan itu tidak mudah. Gulat telah menjadi bagian hidupnya, tetapi pendidikan juga memanggil. Dulu, ayahnya, Lagianto, adalah pegulat berprestasi tahun 1990-an. Ayahnya mengantongi prestasi kejuaraan tingkat daerah hingga tingkat Jawa-Bali. Dari sang ayah itu lah mengalir darah pegulat di tubuh Lulut.
Tentu saja, keberhasilan Lulut juga tidak lepas dari perjuangannya selama menjalani latihan. ”Saya rasa, (keberhasilan ini) tidak lepas karena kebiasaan melihat ayah yang seorang atlet juga,” ucapnya dengan nada bangga.
Dari situ, cara pandang Lutut dalam melihat dunia dan potensinya terus berkembang. Dia punya keyakinan yang dipupuk dan senantiasa tumbuh. Meski sempat diliputi rasa takut, apakah kuliah dan karier atlet bisa berjalan beriringan, Lulut akhirnya melangkah dan mencoba menari di atas jalan takdir dan usaha yang melingkupinya.
Waktu membuktikan, kekhawatiran itu perlahan sirna. Lingkungan kampus justru menjadi ruang aman yang mendukungnya berkembang, baik sebagai akademisi maupun atlet. (*/by)
Editor : A. Nugroho