Sempat Ditegur Suami karena Berikan Nomor Ponsel ke Pasien
SENYUM Astrid terus mengembang. Perempuan 42 tahun itu selalu berusaha menghibur pasiennya, meski sering cemas ketika menemui pasien yang sudah kronis. Namun bagi Astrid, anak-anak yang mengidap penyakit itu dimotivasi agar cepat sembuh.
Banyak jenis penyakit ginjal yang diderita anak-anak. Di antaranya infeksi saluran kemih, kelainan bawaan ginjal dan saluran kemih. Ada juga sindrom nefrotik, radang ginjal, lupus nefritis, hipertensi sekunder akibat penyakit ginjal, penyakit ginjal genetik, hingga gagal ginjal kronik.
Beberapa jenis penyakit ginjal itu sudah pernah ditangani Astrid. Tepatnya sejak menjadi dokter sub spesialis ginjal anak pada 2020.Padahal saat masih berstatus dokter spesialis anak, Astrid tidak pernah berpikir untuk menekuni nefrologi (ilmu yang mempelajari ginjal).
Niat menekuni nefrologi muncul saat menjadi staf di Prodi Ilmu Kesehatan Anak FK UB-RSSA. Kala itu, seniornya menyarankan dia agar masuk divisi ginjal anak.
Selain itu, ada salah satu pasien ginjal anak yang menjadi motivasi Astrid mengambil pendidikan sub-spesialis. Pasien tersebut bernama Nadia.Kali pertama bertemu Astrid, Nadia masih berusia 10 tahun. Nadia datang dalam kondisi berat karena permasalahan pada ginjalnya. "Nadia mengalami bengkak dan gagal ginjal akut," kenangnya.
Perjuangan Nadia bersama orang tuanya untuk membaik juga tidak mudah. Melihat kondisi Nadia, Astrid trenyuh sekaligus khawatir. "Menangani Nadia menjadi pengalaman berharga yang mendorong saya untuk terus mengambangkan kapasitas diri," ungkap perempuan berjilbab itu.
Berkat ketelatenan Astrid, kondisi Nadia berangsur membaik. Saat kondisi Nadia sudah stabil, Astrid menyampaikan secara bertahap kepada Nadia mengenai penyakit ginjal yang dideritanya. Pendekatan ini diterapkan sampai sekarang kepada pasien ginjal anak lainnya. Tujuannya agar menjaga psikologis anak.
Bahkan setelah berusia 18 tahun, Nadia tetap lengket dengan Astrid, bak ibu dan anak. Dia tetap ingin ditangani Astrid meski seharusnya dialihkan ke dokter spesialis penyakit dalam.
Pasien anak yang mengalami permasalahan pada ginjal seperti Nadia semakin banyak ditemui oleh Astrid setelah menjadi dokter sub-spesialis ginjal anak. Mereka berasal dari berbagai daerah di Jatim, termasuk Blitar, tempat kelahiran Astrid.
Para pasien jauh-jauh datang untuk berobat karena jumlah dokter sub-spesialis ginjal anak di Indonesia masih minim. Jumlahnya baru 44 dokter yang tersebar di 33 provinsi.
Kali pertama mendapat diagnosis bahwa anak mereka mengalami permasalahan pada ginjal, orang tua merasa bingung. Apalagi jika kondisinya sudah kronis. Lantaran kerap menemui orang tua pasien yang bingung dan kesulitan, Astrid akhirnya memutuskan membagikan nomor ponselnya. Tujuannya agar para orang tua bisa bertanya kepadanya.
"Menurut saya, peran dokter anak tidak hanya mengobati anak, tapi juga memberikan ketenangan bagi orang tua," ungkap Astrid sembari terkekeh.
Kebingungan orang tua dalam menghadapi penyakit anaknya kerap menjadi tantangan tersendiri. Hal itulah yang membuat Astrid tidak keberatan jika ada orang tua yang bertanya. Meski terkadang para orang tua menghubunginya di luar jam kerja.
Sang suami sempat menegur karena Astrid membagikan nomor ponsel kepada keluarga pasien. Namun setelah memahami alasan bahwa komunikasi tersebut diperlukan untuk mendampingi orang tua pasien sakit ginjal yang kerap mengalami kebingungan, suami memberikan dukungan penuh.
Motivasi untuk membantu sesama, termasuk keluarga pasien itu juga upaya Astrid dalam menerapkan ajaran orang tuanya. Yakni almarhum Harmanto dan almarhumah Yuli Rukmini. "Saya datang dari keluarga sederhana di Dusun Sembung, Desa Pagergunung, Kecamatan Kesamben, Blitar," ucap Astrid.
Selama tumbuh besar di sana, Astrid akrab dengan realitas hidup yang tidak mudah, termasuk keterbatasan dalam mengakses layanan kesehatan.
Agar semakin banyak pasien ginjal anak bisa mendapat pengobatan yang layak, mulai Maret 2020 Astrid membentuk grup WhatsApp yang diberi nama Nefrokids Community. Bersama rekan-rekan perawat, Astrid merangkul pasien anak dan orang tua mereka yang kebingungan. Termasuk mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu.
Dari sana, terjadi getok-tular informasi. Semakin banyak keluarga pasien yang memahami mengenai gejala hingga penanganan penyakit ginjal. "Mereka saling berbagi pengetahuan, bahkan berbagi obat jika ada yang kehabisan. Saya tinggal mengawasi saja. Kalau ada informasi yang kurang tepat, baru saya meluruskan," imbuh Astrid.
Astrid memperluas sayap Nefrokids Community. Pada Oktober 2023, dia mengubah nama komunitas menjadi Ginji Community. Sejak nama komunitas diganti, jangkauan komunitas tidak hanya berhenti pada anak sakit. Namun juga anak-anak sehat bisa bergabung agar bisa menumbuhkan kesadaran menjaga kesehatan ginjal.
Salah satu yang merasa terbantu komunitas Astrid adalah Harnanik. Perempuan asal Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang itu memiliki putri yang mengidap lupus nefritis atau lupus yang terjadi pada ginjal. Dia bernama Niken Alia Pamudi.
Niken sebenarnya sudah sering mengalami infeksi sejak kecil. Namun baru diketahui terkena lupus pada ginjal akhir 2019 lalu. Niken yang kala itu menempuh pendidikan di pesantren mengalami penurunan kesehatan. Padahal, Niken dikenal berprestasi dan memiliki kemampuan menghafal Al-Quran yang lebih cepat dibanding teman-temannya.
Sebelum terdiagnosis lupus nefritis, Niken mengalami gejala seperti munculnya ruam-ruam pada wajah. Tubuhnya juga mudah lelah. Harnanik dan suaminya membawa Niken ke dokter spesialis. Keduanya kaget saat mengetahui Niken mengalami lupus nefritis.
Tidak hanya itu, mereka juga sempat kesulitan biaya karena BPJS Kesehatan milik keluarga belum terdaftar sebagai penerima bantuan iuran. Apalagi ayah Niken hanya penjual roti keliling. Namun akhirnya mereka bisa membawa Niken berobat.
Perjuangan mereka tidak cukup sampai di sana. Niken masih harus menjalani cuci darah selama beberapa bulan dan mengonsumsi puluhan jenis obat setiap hari selama beberapa tahun, hingga akhirnya kondisi Niken bisa membaik.
Kondisi yang sama juga dirasakan oleh putri Slamet Samsuri dari Blitar yang bernama Firlia. Firlia mengalami beberapa gejala seperti ruam wajah, mimisan, darah keluar dari mulut, gatal, lemas, nyeri sendi, hingga panas.
Slamet mencoba memeriksakan Firlia ke rumah sakit setempat. Dokter pun menyampaikan bahwa ada indikasi lupus. Namun, Slamet masih berharap Firlia tidak menderita penyakit tersebut. Dia mengira Firlia hanya alergi bedak karena adanya ruam pada wajah.
Karena kondisinya semakin buruk, Slamet bersama istrinya lantas membawa Firlia untuk periksa ke RS Panti Nirmala dan bertemu Astrid. Keduanya baru bisa percaya bahwa Firlia mengalami lupus nefritis.
Setelah didiagnosis lupus nefriti, Firlia harus menjalani pengobatan rutin. Semula dia harus kontrol dua minggu sekali. Padahal, kediaman Firlia berada di Blitar. Selain itu, saat awal Firlia juga diwajibkan mengonsumsi 9 jenis obat.
Namun sekarang kondisi Firlia sudah lebih baik. Berat badan Firlia yang sempat turun juga kembali normal. Dia tak lagi mengalami kejang, linu dan pucat seperti awal didiagnosis lupus.
Kendati demikian, baik Niken maupun Firlia belum bisa kembali ke pesantren masing-masing untuk bersekolah. Hal itu dilakukan sampai kondisi mereka benar-benar memungkinkan dan pulih secara paripurna. Keduanya baru bisa mengikuti pembelajaran secara daring. (*/dan)
Editor : A. Nugroho