Lebih Hemat karena Satu Tabung Tempuh Jarak 200 Km
DERU mesin motor terdengar dari rumah sederhana, di ujung gang Jalan Kamboja Atas, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu. Rupanya, Donny sedang melakukan uji coba motor dengan Bahan Bakar Gas (BBG) hasil inovasi dia.
Sesekali Donny mengecek kondisi tabung LPG kemasan tiga kilogram di atas motornya, memeriksa selang, hingga katup dan sakelar, sebelum akhirnya diuji kelancaran alat rakitannya itu.
Berbekal LPG 3 kilogram, Donny menyulap menjadi bahan bakar kendaraan yang lebih ramah di kantong. Yang kemudian dia sebut sebagai BBG. Inovasi itu dia kembangkan sejak tahun 2024 lalu.
“Awalnya hanya iseng, mau membuktikan yang sudah banyak berseliweran di media sosial (medsos),” terang Donny ketika ditemui di garasi rumahnya, Jumat lalu (2/1). Setelah berhasil membeli mobil sendiri, Donny memutuskan untuk langsung mempraktikkan apa yang dia tonton. Namun rakitan pertamanya tidak bisa langsung mulus digunakan.
Beberapa kali kendaraannya sempat brebet dan tidak kuat menanjak. Inovasi tersebut sempat mengundang kekhawatiran dari keluarga. Misalnya risiko untuk meledak saat tidak berhasil. Namun dia mencoba menenangkan keluarganya sembari terus merangkai ide menyempurnakan alat BBG itu.
Berulang kali kegagalan tak membuatnya patah arang. Meski nihil pengalaman, Donny mulai mencoba berkonsultasi dengan rekannya yang berhasil mengembangkan energi alternatif serupa. Setelah berulang kali mencoba, dua bulan kemudian dia berhasil mengembangkan inovasi BBG-nya.
Kendaraan yang dia pasang menggunakan BBG berjalan mulus bak diisi bahan bakar minyak (BBM). Bahkan, banyak keuntungan yang dia rasakan setelah mengaplikasikan inovasinya itu. Utamanya dari sisi kebersihan dan keawetan mesin. “Ketika mesin dibongkar, piston dan ruang bakar tetap bersih. Tidak ada kerak hitam,” bebernya.
Tingkat keawetan itu bisa menyentuh bertahun-tahun. Sebab, BBG memiliki kadar Research Octane Number (RON) mencapai 108. Jauh lebih tinggi dibandingkan BBM jenis Pertalite yang hanya 90 ataupun Pertamax Turbo yang mencapai 98. Tingginya angka oktan itu juga membuat tarikan gasnya lebih enteng.
Selain itu, jarak tempuh yang lumayan jauh membuat BBG dirasa lebih hemat. Dengan merogoh kocek membeli LPG melon seharga Rp 20 ribu, Donny mengaku bisa menempuh jarak hingga 80 kilometer untuk kendaraan roda empat. Sementara untuk roda dua bisa menempuh jarak 200 kilometer lebih dengan satu tabung gas.
Jauh lebih hemat dibanding menggunakan BBM yang hanya menempuh 12-14 kilometer per liter untuk mobil. Dengan asumsi itu, setidaknya membutuhkan uang Rp 60 ribu untuk menempuh jarak 80 kilometer. Penggunaan BBG lebih hemat tiga kali lipat dibanding memakai BBM.
Efektif dan efisiennya BBG memicu ketertarikan banyak orang. Khususnya pekerja yang banyak menghabiskan waktu di jalan raya. Namun Donny menyeleksi siapa saja yang berhak menggunakan temuannya. “Sementara ini saya lebih fokus menangani UMKM, kurir, dan sopir ojek online (ojol),” kata Alumnus SMK Brawijaya Batu itu.
Pemuda 31 tahun itu tak menarik ongkos pemasangannya. Mereka cukup datang ke rumah dan membeli alat rakitannya. Dengan hitungan jam, kendaraan menggunakan BBG sudah tuntas dan bisa dipakai. Namun hal itu juga bergantung pada kondisi mesin kendaraan yang dipasang.
Tak hanya melayani pelanggan dari dalam kota, BBG buatan Donny juga dipesan pelanggan dari luar pulau. Mulai Sumatera sampai Kalimantan. Pemasangan dilakukan by phone melalui video call atau telepon.
Alat BBG rakitannya juga dijual dengan harga terjangkau. Untuk satu perangkat rakitan dibanderol sekitar Rp300 ribu untuk kendaraan roda dua. Sementara untuk roda empat ditarik hingga Rp500 ribu – Rp 600 ribu. “Kalau sesama Kota Batu, saya menggratiskan biaya pemasangannya,” kata pria kelahiran 1994 itu.
Meski sudah terpasang alat BBG, pemilik kendaraan disarankan tetap menggunakan BBM. Sebab, BBG hanya berupa tambahan alat untuk opsi bahan bakar kendaraan. Penggunaannya hanya tinggal menyetel sakelar yang sudah dipasang ke perangkat tersebut.
“Kalau PR (pekerjaan rumah), tentunya untuk roda dua, karena harus membawa tabung gasnya itu,” kata dia. Keberhasilan mengembangkan inovasi BBG membuat Donny terus mengasah diri.
Baru-baru ini, dia justru mulai mengembangkan metode pemanfaatan BBG dengan versi yang lebih baru. Yakni menciptakan kendaraan hybrid dengan penggabungan BBG sekaligus BBM. Konsep itu dia ambil dari mobil hybrid keluaran terbaru dengan menggabungkan BBM dan listrik.
“Bulan ini saya masih trial tapi sudah mulai kelihatan hasilnya,” ujarnya. Dengan inovasi terbarunya, Donny mengaku menggabungkan satu tabung LPG melon dan 200 mililiter BBM. Dengan jarak tempuh hampir 9 kilometer, LPG hanya berkurang sedikit dan BBM menyisakan 50 mililiter saja.
Dengan hasil tersebut, pria asli Desa Pesanggrahan itu meyakini dsri segi efisiensi biaya, pemanfaatan BBG mobil hybrid buatannya tak kalah dengan mobil listrik. “Namun, untuk kekuatan jarak tempuhnya masih belum uji coba lagi. Saya masih kembangkan sampai benar-benar sempurna sebelum dipasarkan,” tutup Donny. (*/dan)
Editor : Aditya Novrian