Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Bangkit dari Nol, Macaroni Mang Ade Tumbuh bersama UMKM

Aditya Novrian • Senin, 5 Januari 2026 | 15:10 WIB

Owner Macaroni Mang Ade Mustafif Lazuardi menunjukkan produk jualannya.
Owner Macaroni Mang Ade Mustafif Lazuardi menunjukkan produk jualannya.

MALANG KOTA – Bagi pencinta camilan pedas, nama Macaroni Mang Ade tentu sudah tidak asing. Di balik popularitasnya saat ini, usaha yang dirintis Mustafif Lazuardi tersebut melalui perjalanan panjang dan penuh tantangan.

Selama lebih dari 15 tahun, Macaroni Mang Ade tumbuh dari usaha rumahan hingga memiliki sekitar 350 reseller serta menggandeng UMKM lain untuk berkembang bersama.

Mustafif Lazuardi mulai merintis usahanya pada 2011. Saat itu, ia memutuskan meninggalkan pekerjaan di luar kota demi lebih dekat dengan keluarga.

Keputusan tersebut bukan perkara mudah. Ia harus memilih antara penghasilan tetap sebagai karyawan atau ketidakpastian sebagai pengusaha.

"Saya ingin dekat dengan anak dan istri. Akhirnya memberanikan diri memulai usaha sendiri,” ujar pria asal Gresik itu.

Langkah awalnya dimulai sebagai reseller camilan pedas yang sempat viral kala itu. Sementara sang istri membantu perekonomian keluarga dengan berjualan nasi bungkus.

Dua tahun pertama menjadi masa paling berat. Penghasilan hanya cukup untuk membayar cicilan rumah. Bahkan, Lazuardi pernah berada di titik terendah ketika pulang ke Gresik bersama keluarga hanya bermodal Rp 100 ribu.

"Uang itu untuk bensin dan makan. Di perjalanan malah sakit dan harus beli obat,” kenangnya.

Setelah pengalaman sebagai reseller, Lazuardi memutuskan membangun merek sendiri dengan produk macaroni pedas. Inspirasi datang dari Jawa Barat, daerah yang menjadikan macaroni sebagai camilan sehari-hari.

Awalnya, ia membeli macaroni dari Jawa Barat lalu mengemas ulang. Penjualan masih terbatas, sekitar 500 bungkus per bulan, yang dipasarkan di kantin sekolah dan kampus.

Seiring waktu, permintaan terus meningkat. Salah satu strategi yang mendorong pertumbuhan signifikan adalah menghadirkan dua pilihan ukuran kemasan.

Selain kemasan 100 gram, Lazuardi meluncurkan kemasan 50 gram agar harga lebih terjangkau. Langkah ini terbukti efektif. Pada 2014, penjualan melonjak hingga mencapai sekitar 20 ribu kemasan per tahun.

Hasil kerja keras mulai terasa. Cicilan rumah lunas dan orang tua pun bisa diberangkatkan umrah. Pada 2017, Macaroni Mang Ade kembali berinovasi dengan menambah varian produk, salah satunya mie lidi.

Namun, tantangan kembali datang saat pandemi Covid-19 melanda. Penjualan anjlok hingga 70 persen. Meski demikian, Lazuardi memilih mempertahankan 18 karyawannya. Ia menggunakan tabungan pribadi untuk menutup biaya operasional.

“Saya tidak tega jika harus melakukan pemutusan hubungan kerja,” tuturnya.

Di tengah krisis, ia mulai beralih ke penjualan daring. Atas saran sesama pelaku usaha, Macaroni Mang Ade memanfaatkan berbagai platform marketplace.

Setelah lima bulan, penjualan mulai membaik meski masih sebatas balik modal. Upaya tersebut terus digencarkan hingga akhirnya mampu menjual sekitar 50 ribu kemasan per bulan.

“Sekitar 50 persen pembeli berasal dari marketplace,” ujarnya.

Tak hanya menjangkau pasar dalam negeri, produk Macaroni Mang Ade juga diminati konsumen luar negeri, seperti Taiwan dan Hong Kong. Selain itu, usaha ini turut menggandeng UMKM lain untuk memperkaya varian produk.

Beberapa produk dikembangkan melalui kolaborasi, seperti keripik usus yang diproduksi UMKM mitra dengan bumbu racikan khas Macaroni Mang Ade.

Kini, Macaroni Mang Ade memiliki beragam produk, mulai dari macaroni pedas, seblak, bakso aci, seblak kering, cireng, keripik singkong, keripik kaca, mi gulung, mi kremes, hingga seblak basah. Dari usaha kecil, Macaroni Mang Ade terus melangkah menjadi UMKM yang tumbuh berkelanjutan bersama pelaku usaha lainnya. (zal)

Editor : Aditya Novrian
#bisnis #macaroni #Sosok #mang ade