Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Inisiatif Muhammad Irzam Farodis Bantu Anak-Anak Korban Banjir Aceh dan Sumatera

Aditya Novrian • Rabu, 7 Januari 2026 | 09:24 WIB
INISIATOR: Muhammad Irzam Farodis menunjukkan kaus bertuliskan "Tumbuh Lagi Lebih Kuat" yang diproduksinya untuk anakanak korban banjir Aceh dan Sumatera kemarin.
INISIATOR: Muhammad Irzam Farodis menunjukkan kaus bertuliskan "Tumbuh Lagi Lebih Kuat" yang diproduksinya untuk anakanak korban banjir Aceh dan Sumatera kemarin.

Produksi 1.000 Kaus Gratis  dengan Pesan Mendalam

 

SISA-SISA reruntuhan bangunan masih terlihat di beberapa sudut wilayah Aceh yang diterjang banjir bandang pada akhir 2025 lalu. Jalanan belum sepenuhnya pulih, lumpur mengering bercampur debu menutup aspal, dan puing rumah warga masih menumpuk di halaman-halaman kosong.

Namun, di tengah suasana yang menyisakan duka itu, tawa anak-anak sesekali memecah kesunyian. Senyum mereka merekah saat menerima kaus baru dari tangan para relawan yang datang membawa bantuan.

Di antara bantuan tersebut, terselip niat tulus seorang pengusaha konveksi asal Desa Dengkol, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Namanya Muhammad Irzam Farodis. Lewat usaha kecilnya, ia turut mengirimkan ribuan kaus untuk para korban bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

PENUH MOTIVASI: Anak-anak korban banjir di Aceh menggunakan kaus yang didonasikan oleh Muhammad Irzam Farodis.
PENUH MOTIVASI: Anak-anak korban banjir di Aceh menggunakan kaus yang didonasikan oleh Muhammad Irzam Farodis.

Bagi Irzam, bantuan itu bukan sekadar kain yang bisa dipakai. Melainkan pesan penguatan bagi mereka yang sedang belajar bangkit.

Semua berawal dari keprihatinan pribadi. Irzam mengikuti kabar bencana yang datang silih berganti dari tiga daerah tersebut. Tayangan rumah hanyut, sekolah rusak, dan anak-anak yang kehilangan perlengkapan dasar membuatnya gelisah.

Di saat yang sama, di gudang kecil miliknya masih tersisa bahan kaus yang belum terpakai. Dari situlah muncul ide sederhana. Membuat kaus gratis untuk korban bencana. Tanpa perencanaan rumit, ia mengunggah foto kaus polos di media sosial. Dalam unggahan itu, Irzam menawarkan jasa pembuatan kaus secara cuma-cuma bagi korban bencana.

Ia tak menyangka, respons warganet datang begitu cepat. Unggahan itu menyebar, dikomentari, dan dibagikan. Satu per satu, orang-orang yang tak ia kenal ikut menyumbangkan sebagian rezekinya.

Bantuan yang datang pun beragam. Ada yang mengirim kain, ada yang menyumbang kaus jadi, dan tak sedikit yang menyalurkan bantuan dalam bentuk uang. Semua donasi itu dikumpulkan, lalu diputar kembali untuk membeli bahan kaus. Irzam sendiri menggratiskan seluruh biaya produksi, termasuk proses sablon.

”Uang yang masuk kami belikan bahan, produksinya saya tanggung,” ujarnya saat ditemui di Arok Store yang berada di Jalan Raya Dengkol, Singosari.

Pada awal penggalangan, jumlah kaus yang terkumpul hanya sekitar 150 buah. Namun seiring waktu, donasi terus mengalir. Sedikit demi sedikit, jumlahnya bertambah hingga mencapai seribu kaus.

Dari jumlah tersebut, sekitar 200 kaos merupakan sumbangan pribadi Irzam. Seluruh kaus itu dicetak dengan satu pesan sederhana namun penuh makna, Tumbuh Lagi Lebih Kuat.

Kalimat itu bukan dipilih tanpa alasan. Irzam berharap pesan tersebut dapat menjadi pengingat bagi para korban, terutama anak-anak, bahwa kehidupan tidak berhenti di titik bencana. Bahwa mereka masih bisa bangkit dan melangkah lebih kuat dari sebelumnya.

Kaus-kaus itu dibuat dalam berbagai warna. Biru, hitam, merah, hingga hijau, dipadukan dengan tulisan kuning yang mencolok. Desainnya dikerjakan bersama seorang rekan, sementara pilihan warna menyesuaikan ketersediaan bahan.

Menariknya, hampir seluruh kaus itu diperuntukkan bagi anak-anak. Sekitar 90 persen dari total donasi diberikan kepada mereka, sementara sisanya untuk orang dewasa.

Bagi Irzam, anak-anak kerap luput dari perhatian saat bencana datang. ”Biasanya bantuan pakaian lebih banyak untuk orang dewasa. Padahal anak-anak juga sangat membutuhkan,” kata alumnus SMKN 4 Malang itu.

Agar bantuan tepat sasaran, penyaluran dilakukan melalui lembaga resmi. Irzam bekerja sama dengan Lembaga Amil Zakat Yasa Malang serta Yayasan Gimbal Alas Malang. Melalui dua lembaga itu, kaus-kaus tersebut akhirnya sampai ke tangan para korban di lokasi bencana.

Di balik aksi sosial tersebut, Irzam adalah sosok yang telah lama berkutat di dunia konveksi. Usaha ini mulai ia rintis pada 2012, setelah memutuskan keluar dari sebuah perusahaan percetakan.

Ia ingin berdiri di atas kakinya sendiri, membangun merek fesyen dengan identitasnya. Salah satu brand yang pernah ia kembangkan adalah John Brother, yang memproduksi beragam item, mulai kaus, jaket, beanie, celana, hingga tas.

Namun mempertahankan brand sendiri bukan perkara mudah. Setelah berjalan sekitar tiga hingga empat tahun, tantangan datang silih berganti.

Pada 2018, Irzam mencoba peruntungan lain dengan membuka Arok Kaos Polos. Produk-produknya dipasarkan secara daring dan sebagian dititipkan ke toko rekan. Pandemi Covid-19 sempat membuat usahanya nyaris runtuh. Pesanan menurun drastis, semangat pun sempat goyah. Dukungan keluarga menjadi titik balik yang membuatnya bertahan.

Masalah belum berhenti di situ. Pada sekitar 2022, akun media sosial yang selama ini menjadi etalase utama usahanya bermasalah dan tak bisa diakses kembali. Sejak itu, Irzam memilih mengubah strategi. Ia tak lagi fokus pada produksi massal, melainkan menerima pesanan sesuai permintaan.

Dalam sebulan, jumlah pesanan tak menentu, namun rata-rata mencapai sekitar 600 potong. Sebagian besar datang dari komunitas, termasuk pesanan atribut dari kelompok pendukung Arema FC. Ia menetapkan jumlah minimal pemesanan, sehingga pesanan personal tidak dilayani. Bagi Irzam, model usaha ini terasa lebih realistis.

”Kalau punya brand sendiri, pemasarannya harus ekstra. Pesanan seperti ini lebih cepat perputarannya,” ujarnya. (*/adn)

Editor : Aditya Novrian
#Relawan #kaus #banjir bandang #malang