Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sepak Terjang Chamidah, Perempuan Pertama di Malang Raya yang Menjadi Penguji Kir Kendaraan

Aditya Novrian • Senin, 12 Januari 2026 | 09:59 WIB
BELASAN TAHUN MENGABDI: Chamidah memeriksa kendaraan di Balai Uji Kir Kota Batu beberapa waktu lalu.
BELASAN TAHUN MENGABDI: Chamidah memeriksa kendaraan di Balai Uji Kir Kota Batu beberapa waktu lalu.

Pernah Hadapi Tekanan ketika Nyatakan Kendaraan Tak Laik Jalan

 

PEREMPUAN berhijab itu tampak luwes bergerak di antara deretan truk yang antre di Balai Uji Kir Kota Batu kemarin. Tangannya tak canggung memegang ban kendaraan yang penuh debu, memeriksa beberapa bagian, hingga masuk kolong kendaraan. Sesekali dia merunduk, kemudian memberikan instruksi kepada pemilik angkutan barang.

Di ruang yang identik dengan dunia maskulin itulah Chamidah menjalani pengabdiannya selama 15 tahun sebagai penguji kendaraan bermotor. Latar belakang pendidikannya juga jauh dari kendaraan.  ”Saya alumnus fakultas hukum Unisma,” ujar perempuan 60 tahun itu.

Chamidah merupakan perempuan pertama di Malang raya yang menjadi penguji kendaraan bermotor. Diangkat mulai 2011. Dengan demikian, perempuan kelahiran 16 Februari 1966 itu sudah mengabdi selama 15 tahun.

Awalnya, Chamidah hanya menjalankan arahan pimpinan. Ia ditunjuk untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) pengujian kendaraan bermotor pada 2011. “Mungkin waktu itu banyak yang tidak mau karena berhubungan langsung dengan kendaraan besar. Saya mengikuti arahan saja,” kata dia.

Mulanya Chamidah sempat ragu. Sebelum berangkat, dia juga meminta izin kepada sang suami. Sebab selama diklat ia mesti meninggalkan anak dan keluarga. Diklat yang dijalaninya berlangsung selama sebulan penuh dan berlangsung di Bali. “Alhamdulillah, suami sangat mendukung dan memberi semangat,” tuturnya.

Dukungan keluarga itulah yang menjadi tombak kekuatan utama untuk bertahan menjalani proses yang tidak ringan. Selepas pelantikan sebagai penguji, tanggung jawab besar melekat di pundaknya. Ia bersyukur berada di lingkungan kerja yang suportif dan positif. Tahun demi tahun, ia tempuh sertifikasi untuk meningkatkan kompetensi.

Meski berlatar belakang hukum, Chamidah terbantu karena semasa sekolah berasal dari jurusan IPA. Namun tetap saja, banyak hal teknis yang harus dipelajari dari nol.

Suka duka selama menjadi penguji kendaraan sudah jadi makanan sehari-hari. Tak jarang, ia menghadapi tekanan, terutama ketika menyatakan kendaraan tidak laik jalan. “Bekerja di lapangan itu serba salah. Bertindak atau tidak bertindak, tetap ada risikonya. Yang penting tetap sehat, pekerjaan dan pikiran tidak mempengaruhi kondisi fisik,” kata dia.

Diremehkan juga pernah. Namun ia memilih bertahan dan menjawabnya dengan profesional. Prinsip jujur dan terbuka selalu menjadi pegangan. Baginya, keputusan dalam pengujian kendaraan bukan semata soal administrasi, melainkan menyangkut keselamatan banyak orang di jalan raya.

Perjalanan hidup Chamidah tak lepas dari latar belakang keluarga sederhana. Ia merupakan anak kelima dari delapan bersaudara. Ia satu-satunya yang berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi. Kedua orang tuanya dahulu bekerja sebagai pengepul barang bekas. “Saya bersyukur bisa sampai di titik ini,” ucapnya lirih.

Sang suami yang juga berlatar belakang hukum, terus menjadi tempat berbagi sekaligus penguat langkahnya. Di Balai Uji Kir Kota Batu, Chamidah bekerja bersama empat penguji lain yang seluruhnya laki-laki.

Ia terbuka menerima masukan, terutama dari rekan yang berlatar belakang teknik. Tentu dalam hal penilaian kelayakan kendaraan, ia dan rekan-rekannya tetap tegas. “Ini menyangkut keselamatan pengguna jalan,” katanya.

Seperti saat ditemui pekan lalu, ia menyatakan ada truk tak laik jalan. Itu lantaran sistem penerangan tak berfungsi dengan baik. Belakangan ini banyak yang menilai Chamidah sebagai penguji yang professional.

Ia merasa bangga sekaligus bahagia. Baginya, itu menjadi tanda bahwa perempuan mampu menembus batas-batas pekerjaan yang selama ini dianggap milik laki-laki. Dalam urusan pekerjaan, dia merasa tidak perlu ada dikotomi antara laki-laki dan perempuan.

Juga tidak harus linier dengan pendidikan. Asalkan punya semangat dan komitmen, dia yakin bisa dijalani. “Ilmu bisa dipelajari. Pekerjaan tidak harus selalu sejalan dengan jurusan,” kata dia. Prinsip itulah yang menjadi penguat sekaligus penjaga atap tetap professional dalam menjalankan tugas. (*/)

Editor : Aditya Novrian
#uji kir #diklat #UNISMA #malang