Sejak 2021, Muhammad Nanda Risdiyanto dipercaya menjadi fisioterapis Timnas Basket Putri Indonesia. Ia telah terlibat di lima kejuaraan internasional termasuk SEA Games 2023 dan 2025. Dari balik layar, Nanda bertanggung jawab menjaga kondisi fisik pemain agar tetap fit.
ANDIKA SATRIA PERDANA
SEPULUH tahun lalu hidup Muhammad Nanda Risdiyanto berjalan seperti mahasiswa pada umumnya. Dari sebuah kamar kos sederhana di kawasan Dinoyo, hari-harinya dihabiskan dengan jadwal kuliah, praktikum, dan tugas-tugas kampus di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Ia memilih jurusan fisioterapi. Bidang yang kala itu belum banyak dilirik, tetapi justru membuatnya jatuh cinta sejak semester awal. Empat tahun berselang, ia menuntaskan pendidikan tepat waktu tanpa pernah membayangkan bahwa ilmunya kelak akan membawanya ke arena olahraga internasional.
Karier profesional Nanda tidak langsung bersentuhan dengan basket. Langkah pertamanya justru dimulai dari dunia futsal. Pada 2019, ia dipercaya menjadi fisioterapis tim Pra-PON futsal Jawa Timur. Pengalaman itu menjadi pintu masuk pertamanya ke olahraga prestasi sekaligus menguji kemampuannya menangani atlet dengan tuntutan fisik tinggi.
Baru pada 2021, arah kariernya berbelok ke lapangan basket. Nanda bergabung dengan tim basket putri Fever Surabaya sebagai fisioterapis. Belum lama ia bekerja, manajemen Fever Surabaya mendapat mandat menangani tim nasional basket putri Indonesia. Situasi itu membuka peluang baru.
Posisi fisioterapis timnas saat itu kosong. Nanda pun ikut dibawa masuk menjadi bagian dari tim kesehatan sejak 2021.
Sejak saat itu, ritme hidupnya berubah dengan jadwal pemusatan latihan, perjalanan antarkota, hingga agenda internasional. Puncaknya terjadi pada SEA Games 2023 di Kamboja.
Nanda ikut merasakan manisnya medali emas bersama tim basket putri Indonesia. Dua tahun kemudian, di SEA Games Thailand 2025, ia kembali dipercaya masuk dalam tim medis. Kali ini hasilnya berbeda, medali perunggu.
Namun, perolehan medali yang menurun tidak serta-merta mencerminkan persiapan yang setengah-setengah. Justru sebaliknya. Tim basket putri menjalani pemusatan latihan panjang, hampir satu tahun penuh.
Training center tidak hanya digelar di dalam negeri. Federasi bahkan mengirim tim ke Amerika Serikat, negeri yang kerap disebut sebagai tanah suci bola basket dunia. Sejak Desember 2024, para pemain sudah dikumpulkan dan digembleng dengan intensitas tinggi.
Bagi Nanda, masa pemusatan latihan itu menjadi periode tersibuk. Cedera justru lebih sering muncul saat latihan ketimbang pertandingan. Tubuh atlet dipaksa bekerja keras setiap hari. Sedikit lengah saja, masalah bisa muncul.
Ketika SEA Games Thailand dimulai, tugas Nanda berubah menjadi lebih spesifik. Setiap hari pertandingan, ia harus sudah bersiap sejak jauh sebelum tip off.
Kurang dari dua jam sebelum bola pertama dilambungkan, ia mulai memastikan seluruh perlengkapan medis lengkap. Satu per satu pemain dicek kondisinya. Tidak boleh ada yang turun ke lapangan dengan kondisi cedera tersembunyi.
”Terkadang ada pemain yang terlalu ingin bermain sampai mengabaikan rasa sakit,” katanya.
Di situlah peran fisioterapis diuji. Ia harus tegas, tetapi tetap memahami keinginan atlet. Jika dipaksakan, cedera kecil bisa berubah menjadi masalah besar. Nanda juga bertanggung jawab memasang taping pada bagian tubuh tertentu.
Tidak semua pemain membutuhkannya, hanya mereka yang memiliki riwayat cedera atau keluhan nyeri. Taping berfungsi sebagai penopang tambahan sekaligus mengurangi rasa sakit, terutama untuk mencegah cedera kambuhan.
Tugasnya tidak berhenti ketika pertandingan selesai. Dengan jadwal laga yang padat, program pemulihan menjadi krusial. Otot yang kelelahan harus segera dikembalikan ke kondisi normal. Nanda menyiapkan berbagai metode recovery, mulai dari ice bath, peregangan ringan, hingga terapi sederhana.
”Yang paling penting tetap istirahat. Tidur cukup itu kunci,” ujarnya.
Selama enam pertandingan yang dijalani tim basket putri di SEA Games Thailand, kabar baiknya tidak ada cedera serius. Hingga laga terakhir perebutan medali perunggu pada 19 Desember, seluruh pemain berada dalam kondisi relatif prima. Cedera yang ada justru muncul saat pemusatan latihan, ketika intensitas latihan berlangsung berbulan-bulan.
Dibandingkan SEA Games Kamboja 2023, tantangan di Thailand sebenarnya tidak jauh berbeda. Namun, ada satu hal yang cukup mengganggu, kemacetan. Perjalanan dari venue ke hotel sering memakan waktu lebih lama dari perkiraan. Bagi atlet, keterlambatan kembali ke hotel berarti waktu istirahat yang berkurang.
Di luar faktor teknis, ada pula tantangan lain yang lebih personal. Menangani tim putri memiliki dinamika tersendiri. Salah satunya berkaitan dengan siklus menstruasi.
Pada masa tersebut, kondisi fisik dan mental pemain bisa berubah. Mood naik turun, tubuh lebih mudah lelah, dan risiko cedera meningkat. ”Saya harus lebih peka,” kata Nanda.
Ia dituntut memahami karakter setiap pemain. Penanganan tidak bisa disamaratakan. Pada masa period, pendekatan harus lebih halus. Bukan hanya soal fisik, tetapi juga menjaga suasana hati agar pemain tetap nyaman dan percaya diri. (*/adn)
Editor : Aditya Novrian