Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Perjuangan Prof Agustin Krisna Wardani PhD Meneliti Manfaat Limbah Sawit

Mahmudan • Senin, 19 Januari 2026 | 10:17 WIB
WORKSHOP: Agustin (dua dari kiri) bersama pimpinan NEDO Jepang di Jakarta pada 6 Januari lalu.
WORKSHOP: Agustin (dua dari kiri) bersama pimpinan NEDO Jepang di Jakarta pada 6 Januari lalu.

Jadi Orang Pertama Perwakilan Kampus yang Lolos Pendanaan NEDO Jepang

SEORANG perempuan berjilbab tampak serius memandangi deretan inkubator di meja kerja berbahan stainless steel itu. Setelah memperhatikan, ia lantas memindahkan beberapa inkubator berisi mikroba dengan hati-hati.

Sesekali, perempuan berusia 57 tahun itu menatap layar komputer yang menampilkan data pertumbuhan mikroba. Di ruang itulah Prof Agustin Krisna Wardani PhD berteman dengan limbah kelapa sawit. Bahan riset yang membawanya menembus pendanaan riset bergengsi dari Jepang.

Agustin lahir di Nganjuk, 7 Agustus 1969 lalu. Ia bukan orang baru di dunia bioteknologi. Sejak 2012 lalu, Agustin menekuni riset bioteknologi, bahkan jauh sebelumnya sudah berkecimpung dalam pengembangan bioteknologi generasi pertama.

PENELITI: Prof Agustin Krisna Wardani PhD melakukan riset di laboratorium Universitas Brawijaya beberapa waktu lalu.
PENELITI: Prof Agustin Krisna Wardani PhD melakukan riset di laboratorium Universitas Brawijaya beberapa waktu lalu.

Namun titik penting terjadi pada 2016, ketika ketertarikannya mengarah pada bioteknologi generasi kedua, khususnya pemanfaatan limbah pohon kelapa sawit. Ketertarikan itu bukan tanpa alasan. Indonesia merupakan produsen kelapa sawit terbesar di dunia, dengan volume limbah biomassa yang besar tapi belum dimanfaatkan secara optimal.

Batang, pelepah, hingga residu pengolahan sawit kerap menjadi beban lingkungan. Di situlah gagasan riset bioetanol generasi kedua mulai dirintis. “Bagian pohon sawit seperti batang dan pelepah mengandung selulosa yang tinggi. Itu bisa di-konversi menjadi bioetanol generasi kedua,” ujar Agustin di sela mengerjakan riset-nya.

Perjalanannya meneliti limbah sawit juga bersentuhan langsung dengan dunia industri. Ia sempat berkomunikasi dengan PT Sampoerna Agro Tbk (kini bernama PT Prime Agri Resources Tbk). Perusahaan tersebut menghadapi persoalan serius dalam pengelolaan limbah sawit.

Dari dialog tersebut, Agustin mulai memetakan potensi biomassa lignoselulosa sebagai sumber energi terbarukan. “Waktu itu saya sudah memperkirakan bahwa sawit di Indonesia ke depan berpotensi menghasilkan limbah yang sangat besar,” tuturnya.

Komoditas ini diyakini depan akan terus berkembang. Namun jalan riset tidak selalu mulus. Keterbatasan dana dan fasilitas laboratorium kerap menjadi tantangan. Agustin terpaksa menyesuaikan desain riset dengan alat dan bahan seadanya.

Pengalaman menempuh studi doktoral di Jepang dengan fasilitas riset yang sangat lengkap membuat proses adaptasi itu tidak mudah. “Setelah S3 di Jepang, ada tantangan ketika kembali dan harus menyesuaikan diri dengan kondisi laboratorium di Indonesia,” katanya.

Perlahan, tantangan itu teratasi. Fasilitas laboratorium berangsur meningkat. Dukungan kelembagaan menguat, dan jaringan internasional terbuka. Puncaknya, proposal riset yang diajukan tahun lalu akhirnya lolos dan memperoleh dana dari New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO) Jepang.

Itu melalui skema Research and Development Program for Promoting Innovative Energy and Environmental Technologies Through International Collaboration (RDIC). Kabar membahagiakan itu diterimanya di pengujung 2025.

Agustin menjadi perwakilan perguruan tinggi pertama asal Indonesia yang mendapatkan pendanaan dengan skema tersebut. Riset ini merupakan kolaborasi antara Universitas Brawijaya (UB), Tokushima University, dan perusahaan bioteknologi Jepang, Setsuro Tech Inc. Agustin didapuk menjadi ketua tim riset.

Ia teringat masa ketika menjadi mahasiswa program doktor di Osaka University. Salah seorang profesor sekaligus dosen Agustin kala itu juga menerima pendanaan dari NEDO. “Bersyukur. Tidak menyangka saya bisa mendapatkan kesempatan yang sama,” ujarnya penuh haru.

Riset yang kini dijalankan fokus pada pengembangan bioetanol generasi kedua berbasis biomassa selulosik dari limbah industri kelapa sawit. Bioetanol generasi kedua penting karena tidak bersaing dengan pangan dan mendukung sistem energi terbarukan berkelanjutan.

“Riset ini diarahkan untuk menghasilkan bioetanol yang efisien, ekonomis, dan ramah lingkungan,” terangnya. Riset tersebut mengintegrasikan pengembangan mikroorganisme unggul, enzim efektif, dan juga optimasi proses biokonversi agar biomassa bernilai rendah dapat diubah menjadi energi bernilai tinggi. Pendekatan bioekonomi sirkular menjadi landasan utamanya.

Proyek riset tersebut didanai hingga 2028 dan ditargetkan menghasilkan luaran berupa publikasi internasional, paten, prototipe, serta teknologi siap hilirisasi.

“Jika berhasil, produk bioetanol generasi kedua ini direncanakan untuk komersialkan, sebab ada kerja sama dengan Setsuro Tech,” imbuh perempuan yang menjabat Ketua Laboratorium Bioteknologi dan Ketua Pusat Inovasi Biosains UB itu. Ia berharap bisa menjadi knowledge leader yang menghasilkan inovasi berdampak. (*/dan)

Editor : Aditya Novrian
#UB #malang #Limbah Sawit #Jepang