Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Joko Muliyono, Atlet Disabilitas Asal Kota Batu Ukir Prestasi di ASEAN Para Games Thailand 2025

Aditya Novrian • Kamis, 5 Februari 2026 | 09:35 WIB
TAK PATAH SEMANGAT: Joko Muliyono naik podium setelah finis di posisi ketiga. Foto kanan, Joko Muliyono tampil pada nomor lari para-atletik dalam ASEAN Para Games Thailand 2025.
TAK PATAH SEMANGAT: Joko Muliyono naik podium setelah finis di posisi ketiga. Foto kanan, Joko Muliyono tampil pada nomor lari para-atletik dalam ASEAN Para Games Thailand 2025.

Sempat Sakit dan Istirahat Total sebelum Start

 

DI BAWAH cahaya lampu Main Stadium 80th Birthday Anniversary, Nakhon Ratchasima, Thailand, angin malam berembus dingin menusuk kulit. Di lintasan atletik, delapan pelari berdiri bersiap. Salah satunya Joko Muliyono.

Atlet muda Indonesia itu menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri meski tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Begitu pistol start ditembakkan, Joko langsung melesat. Langkahnya ringan, ayunannya rapi.

Ia sempat berada di barisan depan nomor 200 meter putra klasifikasi T46. Namun, malam itu, lawan yang dihadapinya bukan hanya tujuh atlet lain di lintasan. Ia juga sedang bertarung dengan kondisi fisik yang jauh dari ideal.

TAK PATAH SEMANGAT: Joko Muliyono naik podium setelah finis di posisi ketiga. Foto kanan, Joko Muliyono tampil pada nomor lari para-atletik dalam ASEAN Para Games Thailand 2025.
TAK PATAH SEMANGAT: Joko Muliyono naik podium setelah finis di posisi ketiga. Foto kanan, Joko Muliyono tampil pada nomor lari para-atletik dalam ASEAN Para Games Thailand 2025.

Masalah kesehatan mulai dirasakan Joko sehari setelah tiba di Thailand, 16 Januari lalu. Perbedaan cuaca menjadi tantangan tersendiri. Siang hari terasa panas dan berdebu, sementara sore hingga malam suhu turun drastis. Tubuh Joko tak langsung beradaptasi.

Awalnya hanya radang tenggorokan. Makan terasa sulit, menelan pun perih. Namun gejala itu berkembang. Setiap kali dipaksa berlari, kepala terasa pusing dan badan lemas. Di tengah persiapan lomba internasional, kondisi itu jelas bukan kabar baik.

Sebagai atlet, Joko harus berhitung matang. Ia menghindari konsumsi obat sebisa mungkin. Kekhawatiran akan indikasi doping membuatnya memilih jalan aman. ”Saya disarankan minum air putih dan oralit saja. Kalau masih parah, baru paracetamol,” ujarnya.

Namun tubuh berkata lain. Panas tak kunjung turun. Akhirnya, ia harus mengambil keputusan sulit, istirahat total selama tiga hari. Waktu yang terasa mahal, mengingat perlombaan sudah di depan mata.

Dua hari menjelang lomba, Joko mencoba turun ke lintasan. Hasilnya belum menggembirakan. Pusing masih datang. Baru pada sehari sebelum lomba, kondisinya berangsur membaik. Ia kembali bisa berlari normal, meski belum sepenuhnya bertenaga.

Dalam hatinya, Joko sempat pasrah. Ia menyadari performanya tak akan secepat biasanya. Bahkan, ia sempat berpikir bahwa bisa menyentuh garis finis saja sudah merupakan sebuah keajaiban.

Namun, suasana di arena mengubah segalanya. Dukungan datang dari rekan-rekan atlet. Meski bersaing di lintasan yang sama, mereka memberi semangat agar Joko tetap bertanding sampai akhir. Ia juga diingatkan tentang kerasnya latihan selama pemusatan latihan nasional. Semua kerja keras itu, kata mereka, tak boleh berakhir sia-sia.

Dorongan itu menguatkan mentalnya. Di nomor 200 meter, Joko berlari dengan fokus penuh. Ia sempat berada di posisi ketiga dan nyaris menyalip runner-up. Namun, tenaga yang belum sepenuhnya pulih membuatnya harus puas finis di posisi ketiga dengan catatan waktu 23,6 detik. Sedikit lebih lambat dari rekor pribadinya, 23,4 detik.

Meski gagal meraih emas, rasa syukur tetap mengalir. Medali perunggu itu menjadi pijakan penting untuk hari berikutnya. Kepercayaan diri Joko perlahan kembali.

Pada hari kedua, ia turun di nomor 100 meter. Persaingan berlangsung ketat, termasuk dengan sesama atlet Indonesia. Joko berlari lebih lepas. Hasilnya, ia finis di posisi kedua dengan waktu 11,3 detik, hanya terpaut 0,2 detik dari peraih emas.

Mental Joko semakin terangkat. Di hari terakhir, meski kondisi fisik belum seratus persen, ia tampil dengan keyakinan yang berbeda. Di nomor 400 meter, ia kembali naik podium dan membawa pulang medali perak. ”Saya tidak menyangka bisa mendapatkan tiga medali,” kata Joko.

Prestasi itu terasa semakin istimewa jika menilik perjalanan panjang Joko hingga sampai ke titik ini. Atlet asal Desa Pesanggrahan, Kota Batu, itu sudah menunjukkan bakat lari sejak duduk di bangku sekolah dasar. Ia gemar pelajaran olahraga dan kerap mewakili sekolah dalam lomba lari.

Namun arah hidupnya sempat berbelok. Saat masuk SMA, Joko justru memilih renang. Selama tiga tahun, ia mengikuti les renang dengan tekad menekuni cabang olahraga tersebut. Apalagi saat itu Kota Batu mulai membentuk National Paralympic Committee.

Ia menargetkan tampil di Pekan Paralimpik Provinsi Jawa Timur 2024. Namun rencana itu menemui kendala. Cabang renang belum dipertandingkan untuk kategori disabilitas. Yang tersedia hanya cabang olahraga darat.“Waktu itu saya disarankan KONI Kota Batu untuk masuk atletik,” ujarnya.

Keputusan itu diambil pada Mei 2024. Joko kembali ke lintasan, olahraga yang sebenarnya sudah akrab dengannya sejak kecil. Adaptasinya terbilang cepat. Hanya dalam waktu satu setengah bulan, ia sudah mampu bersaing.

Debutnya langsung mencuri perhatian. Di Peparprov Jatim, Joko turun di nomor 100 meter, 200 meter, dan lompat jauh. Hasilnya sempurna: tiga medali emas.

Prestasi itu menjadi pintu menuju level yang lebih tinggi. Pada Peparnas Oktober 2024, Joko kembali tampil gemilang dengan raihan tiga emas dan satu perak. Itu menjadi debut nasionalnya sekaligus mengantarkannya masuk pemusatan latihan nasional untuk ASEAN Para Games 2025.

Kini, setelah membawa pulang tiga medali dari Thailand, Joko memilih kembali ke Kota Batu. Fokus utamanya menjaga kondisi fisik dan mengevaluasi kekurangan. Kesalahan kecil di lintasan menjadi catatan penting untuk dibenahi.

Harapannya sederhana, namun besar. ”Saya ingin terus berkembang dan bisa kembali dipanggil NPC Indonesia. Target saya Asian Para Games 2026,” tandasnya. (*/adn)

Editor : Aditya Novrian
#atlet #Kota Batu #ASEAN Para Games Thailand 2025 #prestasi